“Bu, Tinah kemarin beli gantungan handuk. Bagus deh, bu. Kemarin udah diorder, tinggal tunggu datangnya,” ujar ART-ku sesaat setelah tiba di rumah. Ya, ART di rumahku memang ART pulang-pergi, bukan ART menginap seperti pada umumnya. Di masa pandemi seperti sekarang ini memang memiliki ART pulang-pergi tidak disarankan, tetapi ia sudah menjadi ART kami sejak lama. Sayang rasanya jika harus berganti ke ART yang lain. Apalagi, anak-anak juga sayang padanya. Mem-PHK-nya juga bukan jalan keluar yang tepat, menurut kami. Sebagai jalan tengah, kami menerapkan protokol kehati-hatian agar semua tetap sehat.
Setelah menaruh barang-barangnya di kamar dan merapikan diri, ia kembali ke dalam dan merapikan meja makan sambil meneruskan ceritanya. Aku yang sedang sarapan mendengarkan ceritanya sambil meneruskan suapanku.
“Kemarin di rumah Tinah order gantungan handuk, bu. Kan di rumah gak ada gantungan handuk, tuh. Biasanya cuma dicantolin aja pakai tali,” tuturnya.
“Murah deh, bu,” tambahnya, “Gak sampai lima puluh ribu.” Ia bercerita dengan gembira.
Aku seketika menaruh gelasku. Gelas yang isinya sedianya hendak kuteguk, kuletakkan segera di atas meja. “Gak sampai lima puluh ribu? Itu barangnya aja atau sudah termasuk ongkir?”
“Pakai ongkir cuma empat puluh ribuan, bu.” Mukanya berseri-seri, “Stainless, lagi, bu.”
Aku mengernyitkan dahi. Masa gantungan handuk berharga semurah itu? “Plastik, kali, Tin,” kataku.
“Bukan, bu, stainless. Ada tulisannya, kok.” Ia meyakinkanku. “Kan pakai tempelan, tuh, bu. Kata Bang Jamil [suaminya] nanti mending ditempel ke temboknya pakai power glue aja biar gak lepas-lepas,” lanjutnya, “Semalam Tinah udah ke bilang Bang Jamil mau dipasang di mana.”
Matanya berbinar-binar saat menceritakan rencananya mengenai sang gantungan handuk.
“Serius, Tin, gantungannya cuma seharga segitu?” desakku tak menggubris ceritanya mengenai perletakan gantungan handuk idamannya. Perhatianku lebih tertuju pada harga gantungan handuk yang hanya sekitar tiga puluh ribuan, tetapi berbahan stainless steel. Sounded too good to be true. Setahuku, semurah-murahnya, tidak ada gantungan handuk mandi berbahan stainless steel yang harganya semurah itu.
“Iya, bu, empat puluh tiga ribu udah termasuk ongkir. Nanti kalau sudah datang Tinah tunjukin ya.”
Aku terdiam. Khawatir sebenarnya. Khawatir jika barang yang ia beli tidak sesuai harapan. Bayangkan, 43 ribu rupiah sudah termasuk ongkos kirim. Ini berarti harga barangnya hanya sekitar 30 ribu rupiah. Gantungan handuk yang katanya berbahan stainless steel. Ingatanku kemudian melayang ke ulasan di sebuah marketplace yang kubaca sekitar setahun yang lalu. Ulasan pembeli yang kecewa karena ukuran barang yang dibeli tidak sesuai yang dibayangkan.
“Tin, jangan-jangan ukurannya kecil,” aku memandangnya. “Kamu udah tanya ukurannya belum?” lanjutku.
Ia menggeleng, “Gede kok bu, ada fotonya,” ia mengangguk mantap. “Ada foto handuk-handuk digantung gitu, bu. Bagus, deh, bu,” ulangnya.
“Ya sudah, “kataku, “Mudah-mudahan nanti barangnya bagus.”
Aku mengusir gundahku. Berharap bahwa ini hanyalah false alarm.
Namun, entah mengapa, rasa ragu itu tetap saja bersemayam di hatiku dan enggan pergi.
***
“Pakeeeetttt….!” suara teriakan di luar terdengar lantang dibarengi ketukan di pintu pagar.
ART-ku berjalan cepat ke arah pintu depan.
“Bu, datang, bu, paketnya,” wajahnya sumringah membayangkan gantungan handuk yang diidamkannya datang juga. Di tangannya tergenggam selembar uang lima puluh ribuan.
Aku ikut tersenyum melihatnya berseri-seri meskipun masih tersisa rasa penasaran akan bentukan gantungan handuk yang ia beli.
Tak lama, ia masuk sambil bersungut-sungut.
“Bu, masa paketnya cuma segini,” ia menunjukkan paket terbungkus kertas putih seukuran kotak sepatu yang baru ia terima.
“Beneran nih bu, isinya gantungan handuk? Kok cuma segini?” Ia menunjukkan raut kecewa.
“Kali disambung-sambung, Tin, jadinya tetap besar,” jawabku membesarkan hatinya meskipun sebenarnya aku merasa kekhawatiranku terbukti.
Diambilnya paket yang baru diterimanya, lalu dibukanya dengan tergesa. Tak sabar ia menuntaskan rasa penasarannya akan ukuran gantungan handuk yang baru diterimanya. Kubantu ia merekam proses unboxing dengan video. Panjang paket yang hanya seukuran kotak sepatu telah membuatnya ragu. Rasa gembira yang tadi pagi kulihat membuncah mulai sirna seiring terbukanya bungkusan paket.
Semakin lama semakin terlihat bahwa ukuran gantungan handuk tadi tidaklah sepanjang yang ia bayangkan. Gantungan handuk yang sedianya ia siapkan untuk handuk mandi, ternyata hanya bisa digantungkan oleh handuk kecil selebar sekitar 30 cm.
“Yaaaaah…,” kudengar nada kecewanya. Aku terdiam, berusaha menahan tawaku melihat mungilnya sang gantungan handuk.
Kumatikan videonya, lalu kukembalikan ponsel padanya.
Tiba-tiba ia tergelak. Aku pun tak kuasa menahan rasa geliku melihat gantungan handuk yang panjangnya hanya satu setengah jengkal tanganku.
“Ya ampun, buuuu…. Tinah udah mbayangin gantung handuk di sini, taunya cuma bisa buat gantung saputangan,” ujarnya menahan geli.
“Mana semalam udah heboh sama Bang Jamil, lagi. Ribut mikirin mau dipasang di mana, takut gak muat kalau dipasang di balik pintu,” katanya lagi.
“Udah dibayang-bayangin mau buat jemur handuk habis mandi, eeeehhh…, taunya ukurannya cuma segini,” ia kembali tergelak.
“Udah heboh-heboh, eh, taunya cuma segini gedenya,” ujarnya sambil mengacungkan si gantungan handuk.
Tak bisa kami menahan tawa.
Tinah ternyata masih penasaran. “Bu, kemarin ada, lho, fotonya dipasangin handuk besar. Beneran, bu.”
Hahaha, belum paham rupanya ia bahwa sudut pengambilan gambar bisa menipu mata. Perlu pembuktian rupanya agar ia mengerti.
Dengan masih terbahak-bahak kuambil gantungan handuk yang sudah dirangkai dan kupasang dua handuk kecil. Setelah itu, kuminta ia mendekatkannya ke dinding seolah-olah gantungan tersebut sudah terpasang. Kemudian aku berdiri mendekat dan kupotret gantungan berhanduk tadi beberapa kali.
Kutunjukkan padanya hasil fotoku. Matanya kemudian membesar. “Iya ya bu, kayak handuk besar kalau gini.”
“Kemarin di foto juga kayak gini,” ucapnya. “Tinah kirain ini untuk handuk gede,” lanjutnya sambil memandangi gantungan handuk di tangannya.
Aku hanya menggelengkan kepala sambil tertawa geli. Kejadian ini sebenarnya bukan kali pertama. Ia sebelumnya sudah pernah terperosok saat berbelanja secara online.
Kapokmu kapan, batinku.
***