Membentuk Karakter melalui Stimulasi Baca Tulis dan Literasi Digital

The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go

Dr. Seuss, I Can Read With My Eyes Shut!

Anak kedua saya, Yoda, merupakan anak yang luar biasa aktif, dan bahkan cenderung tidak bisa diam. Energinya seakan tiada habisnya, sampai kadang saya tertakjub-takjub karena energinya seperti telepon genggam yang baru di-charge. Dulu, saat sebelum pandemi, kami biasa mengikutkannya dalam berbagai kegiatan olahraga untuk menghabiskan energinya dan membuatnya tenang. Karena selama pandemi ini kegiatan di luar ruangan dibatasi, saya harus memutar otak untuk mengakomodasi kebutuhannya untuk beraktivitas, tetapi dapat dilakukan di dalam rumah. Selama ini, hanya beberapa hal yang bisa membuatnya anteng, dan salah satunya adalah membaca.

Membaca memang merupakan aktivitas yang gampang-gampang susah. Gampang karena tidak memerlukan perlengkapan yang rumit (hanya modal buku, hehehe) ataupun tempat yang luas dan khusus, tetapi kadang menyulitkan karena belum tentu kita bisa ‘istiqomah’ dalam menjalankannya.

Konsistensi itulah yang saya coba pertahankan selama sebulan terakhir ini, dan ternyata untuk menjalankan kegiatan membaca secara rutin diperlukan kiat tertentu.

Continue reading “Membentuk Karakter melalui Stimulasi Baca Tulis dan Literasi Digital”

Balada Sutinah: Gantungan Handuk

“Bu, Tinah kemarin beli gantungan handuk. Bagus deh, bu. Kemarin udah diorder, tinggal tunggu datangnya,” ujar ART-ku sesaat setelah tiba di rumah. Ya, ART di rumahku memang ART pulang-pergi, bukan ART menginap seperti pada umumnya. Di masa pandemi seperti sekarang ini memang memiliki ART pulang-pergi tidak disarankan, tetapi ia sudah menjadi ART kami sejak lama. Sayang rasanya jika harus berganti ke ART yang lain. Apalagi, anak-anak juga sayang padanya. Mem-PHK-nya juga bukan jalan keluar yang tepat, menurut kami. Sebagai jalan tengah, kami menerapkan protokol kehati-hatian agar semua tetap sehat.

Setelah menaruh barang-barangnya di kamar dan merapikan diri, ia kembali ke dalam dan merapikan meja makan sambil meneruskan ceritanya. Aku yang sedang sarapan mendengarkan ceritanya sambil meneruskan suapanku.

“Kemarin di rumah Tinah order gantungan handuk, bu. Kan di rumah gak ada gantungan handuk, tuh. Biasanya cuma dicantolin aja pakai tali,” tuturnya.

“Murah deh, bu,” tambahnya, “Gak sampai lima puluh ribu.” Ia bercerita dengan gembira.

Aku seketika menaruh gelasku. Gelas yang isinya sedianya hendak kuteguk, kuletakkan segera di atas meja. “Gak sampai lima puluh ribu? Itu barangnya aja atau sudah termasuk ongkir?”

“Pakai ongkir cuma empat puluh ribuan, bu.” Mukanya berseri-seri, “Stainless, lagi, bu.”

Aku mengernyitkan dahi. Masa gantungan handuk berharga semurah itu? “Plastik, kali, Tin,” kataku.

“Bukan, bu, stainless. Ada tulisannya, kok.” Ia meyakinkanku. “Kan pakai tempelan, tuh, bu. Kata Bang Jamil [suaminya] nanti mending ditempel ke temboknya pakai power glue aja biar gak lepas-lepas,” lanjutnya, “Semalam Tinah udah ke bilang Bang Jamil mau dipasang di mana.”

Matanya berbinar-binar saat menceritakan rencananya mengenai sang gantungan handuk.

“Serius, Tin, gantungannya cuma seharga segitu?” desakku tak menggubris ceritanya mengenai perletakan gantungan handuk idamannya. Perhatianku lebih tertuju pada harga gantungan handuk yang hanya sekitar tiga puluh ribuan, tetapi berbahan stainless steel. Sounded too good to be true. Setahuku, semurah-murahnya, tidak ada gantungan handuk mandi berbahan stainless steel yang harganya semurah itu.

“Iya, bu, empat puluh tiga ribu udah termasuk ongkir. Nanti kalau sudah datang Tinah tunjukin ya.”

Aku terdiam. Khawatir sebenarnya. Khawatir jika barang yang ia beli tidak sesuai harapan. Bayangkan, 43 ribu rupiah sudah termasuk ongkos kirim. Ini berarti harga barangnya hanya sekitar 30 ribu rupiah. Gantungan handuk yang katanya berbahan stainless steel. Ingatanku kemudian melayang ke ulasan di sebuah marketplace yang kubaca sekitar setahun yang lalu. Ulasan pembeli yang kecewa karena ukuran barang yang dibeli tidak sesuai yang dibayangkan.

“Tin, jangan-jangan ukurannya kecil,” aku memandangnya. “Kamu udah tanya ukurannya belum?” lanjutku.

Ia menggeleng, “Gede kok bu, ada fotonya,” ia mengangguk mantap. “Ada foto handuk-handuk digantung gitu, bu. Bagus, deh, bu,” ulangnya.

“Ya sudah, “kataku, “Mudah-mudahan nanti barangnya bagus.”

Aku mengusir gundahku. Berharap bahwa ini hanyalah false alarm.

Namun, entah mengapa, rasa ragu itu tetap saja bersemayam di hatiku dan enggan pergi.

***

“Pakeeeetttt….!” suara teriakan di luar terdengar lantang dibarengi ketukan di pintu pagar.

ART-ku berjalan cepat ke arah pintu depan.

“Bu, datang, bu, paketnya,” wajahnya sumringah membayangkan gantungan handuk yang diidamkannya datang juga. Di tangannya tergenggam selembar uang lima puluh ribuan.

Aku ikut tersenyum melihatnya berseri-seri meskipun masih tersisa rasa penasaran akan bentukan gantungan handuk yang ia beli.

Tak lama, ia masuk sambil bersungut-sungut.

“Bu, masa paketnya cuma segini,” ia menunjukkan paket terbungkus kertas putih seukuran kotak sepatu yang baru ia terima.

Beneran nih bu, isinya gantungan handuk? Kok cuma segini?” Ia menunjukkan raut kecewa.

“Kali disambung-sambung, Tin, jadinya tetap besar,” jawabku membesarkan hatinya meskipun sebenarnya aku merasa kekhawatiranku terbukti.

Diambilnya paket yang baru diterimanya, lalu dibukanya dengan tergesa. Tak sabar ia menuntaskan rasa penasarannya akan ukuran gantungan handuk yang baru diterimanya. Kubantu ia merekam proses unboxing dengan video. Panjang paket yang hanya seukuran kotak sepatu telah membuatnya ragu. Rasa gembira yang tadi pagi kulihat membuncah mulai sirna seiring terbukanya bungkusan paket.

Semakin lama semakin terlihat bahwa ukuran gantungan handuk tadi tidaklah sepanjang yang ia bayangkan. Gantungan handuk yang sedianya ia siapkan untuk handuk mandi, ternyata hanya bisa digantungkan oleh handuk kecil selebar sekitar 30 cm.

Yaaaaah…,” kudengar nada kecewanya. Aku terdiam, berusaha menahan tawaku melihat mungilnya sang gantungan handuk.

Kumatikan videonya, lalu kukembalikan ponsel padanya.

Tiba-tiba ia tergelak. Aku pun tak kuasa menahan rasa geliku melihat gantungan handuk yang panjangnya hanya satu setengah jengkal tanganku.

“Ya ampun, buuuu…. Tinah udah mbayangin gantung handuk di sini, taunya cuma bisa buat gantung saputangan,” ujarnya menahan geli.

“Mana semalam udah heboh sama Bang Jamil, lagi. Ribut mikirin mau dipasang di mana, takut gak muat kalau dipasang di balik pintu,” katanya lagi.

Udah dibayang-bayangin mau buat jemur handuk habis mandi, eeeehhh…, taunya ukurannya cuma segini,” ia kembali tergelak.

“Udah heboh-heboh, eh, taunya cuma segini gedenya,” ujarnya sambil mengacungkan si gantungan handuk.

Tak bisa kami menahan tawa.

Tinah ternyata masih penasaran. “Bu, kemarin ada, lho, fotonya dipasangin handuk besar. Beneran, bu.”

Hahaha, belum paham rupanya ia bahwa sudut pengambilan gambar bisa menipu mata. Perlu pembuktian rupanya agar ia mengerti.

Dengan masih terbahak-bahak kuambil gantungan handuk yang sudah dirangkai dan kupasang dua handuk kecil. Setelah itu, kuminta ia mendekatkannya ke dinding seolah-olah gantungan tersebut sudah terpasang. Kemudian aku berdiri mendekat dan kupotret gantungan berhanduk tadi beberapa kali.

Kutunjukkan padanya hasil fotoku. Matanya kemudian membesar. “Iya ya bu, kayak handuk besar kalau gini.”

“Kemarin di foto juga kayak gini,” ucapnya. “Tinah kirain ini untuk handuk gede,” lanjutnya sambil memandangi gantungan handuk di tangannya.

Aku hanya menggelengkan kepala sambil tertawa geli. Kejadian ini sebenarnya bukan kali pertama. Ia sebelumnya sudah pernah terperosok saat berbelanja secara online.

Kapokmu kapan, batinku.

***

I’ll Call You Everyday

“Emails get reactions. Phone calls start conversations.”

-Simon Sinek-

Raising children in this digital world is a very intensive role. Whilst all the gadgets make everything seems closer, they also draw everyone apart. It not uncommon for us to see people highly occupied with their mobile phones, tabs, laptops, or other gadgets, and ignore human connections (although they’re sitting in a restaurant with their friends or their family).

Of course, we can’t just ignore the significance of gadgets and draw them away from our lives. As a mom, I want my children to embrace technology, but on the other hand, I want them to have bonds with their family (and me, for sure!).

As a way to build this so called bond, I like to spend some time with both my children (or each one of them) everyday. We call it ‘huggy-huggy time’. It’s the time when I cuddle with them and talk about anything they like (or don’t like), talk about their school, and any other mundane things in life.

During these pillow talks, sometimes they talk about what they want to buy for their parents when they grow up. I usually hear them saying something like: I’ll buy you a car when I grow up, I’ll buy you a big house (or sometimes a mansion), I’ll take you around the world (they knew I like to travel), or I’ll buy a Lamborghini (or a Ferrari) for you. Then, they typically continue the conversation with something that is bigger or better. Along the way, they try to outnumber each other, and they end up with buying their mother a hundred cars or houses (which is very cute in terms of intention, but rather hyperbolic when it comes to reality). For sure, I always give an amen to that and hope that all their wishes come true (come on, who doesn’t want a hundred cars or houses?).

Nonetheless, no matter how cute their promises are for their mother, I always think of their promise as a wishful thinking of a child. Surely, as their mother, I’d like to be given a Ferrari as my ride (when the time comes I’m already a granny, hahaha). I’m sure I’d make a very fashionable nanna in a Ferrari 😉 But please, seriously, it’s not an easy promise to keep.

This afternoon, I was just cuddling with my daughter, Anja, when she suddenly said, ” I’ll call you everyday.”

Just like that, and it struck me.

“Even when you’re older?” I asked in doubt.
“Yes.”
“Even when you’re an adult and you already work?”
“Yes.”
“Even when you’re busy?”
“Yes.”
“Even when you already have a family?”
“Yes, yes, and yes,” she said firmly.
“Promise?”
“Yes! I’ll call you everyday, and that’s a promise.”

That very moment, nothing else matters, except this simple promise from my little girl: an everyday call from her. As a mother, it’s the most important promise that she’s ever made. That is exactly the promise that makes my heart melt.

It makes me feel important.

Knowing that she’ll be busy with her life and she’ll make time to call me makes me feel significant. It makes me feel needed. As a parent, I’d like to feel that my children still need me regardless of their age (most parents do, I believe).

And, a brief phone call from my beloved children can simply do that.

That’s why I love my job as a mom. It can give me happiness from even the simplest thing!

Cerita di Balik Serunya Writober 2020

“I try to write a certain amount each day, five days a week. A rule sometimes broken is better than no rule.”

~ Herman Wouk

Writober tahun ini adalah Writober pertama buat saya yang baru bergabung dengan RBM (Rumah Belajar Menulis) Ibu Profesional di tahun 2020. Blog saya pun masih fresh from the oven, baru beneran bikin blog awal tahun ini…. jadi masih piyik banget, dibandingkan teman-teman lain di RBM.

Sementara itu, sebelum Writober mulai beberapa teman-teman sudah menyatakan harapan mereka untuk bisa menyelesaikan Writober karena tahun lalu belum berhasil menyelesaikan tantangan 10 hari posting bertema di periode Writober. Membaca hal ini saya sempat berkecil hati. Waduuuh….! Apa jadinya saya niiih… Teman-teman yang sudah rajin menulis aja ada yang belum berhasil menyelesaikan tantangan…. apa sanggup ya menulis 10 hari bertema (dan harus berurutan temanya) seperti ini? 🙈🙈

Tapi, memang berkahnya saya sebagai orang yang gak berpikir panjang, kekhawatiran itu gak berlangsung lama. Biar aja deh! Que sera sera, seperti kata lagu (ayooo… cuuung… yang tahu lagunya….). Selesai gak selesai yang penting nulis, hahaha…. Toh, katanya, menulis satu kata pun gak apa-apa (iiiiish, kata siapa?? Hahaha.…).

Sayangnya, menulis satu kata atau bahkan satu paragraf untuk saat ini tidaklah memungkinkan bagi saya. Kenapa? Soalnya, saya mengikuti komunitas menulis lainnya yang menetapkan jumlah minimum 300 kata per tulisan, daaaan… sebagai emak-emak penyandang gelar pegawai teladan PT Ogah Rugi, berasa rugi banget dong ya kalau posting cuma 10 kata atau 299 kata. Gak dihitung sebagai postingan soalnya di grup sabeulah, huhuhuhu….. Makanya, saya memaksakan diri untuk menulis lebih dari 300 kata (biarpun hanya 301 kata, yang penting lebih dari 300 kata, hihihi…), supaya bisa disetorkan ke dua grup sekaligus. 😂😂😂

Kesulitan berikutnya: begitu temanya dijembreng di grup… jeng jeng jeeeeng….! Ternyata, ada beberapa kata baru yang alhamdulillah asing dan susyaaah bangeet untuk dicerna — dalam artian, untuk mencari ide tulisan. Walaupun di WAG sudah diberi tahukan definisi katanya, tetap saja cari ilhamnya itu ampun-ampunan susyahnya. Maklum, saya tuh penganut genre tulisan curcol remahan… Tema yang terlalu canggih itu rasanya bikin otak saya yang prosesornya di bawah Pentium ini kesulitan untuk cari inspirasi.

Yang berat lainnya adalah m-e-m-u-l-a-i. Di setiap tema tulisan Writober, selalu saja ada alasan untuk menunda menulis. Saya selalu merasa bahwa ide saya belum matang, atau masih penasaran ingin mengulik topik dengan pendekatan yang berbeda, atau ingin mencari referensi tambahan, atau sejuta alasan lainnya yang membuat saya menunda menulis ke hari berikutnya. Namun, setelah berhari-hari meneguhkan niat, akhirnya saya berhasil menuliskan postingan Writober pertama saya. I truly deserved a pat on the back, hahaha….

Kesulitan lainnya adalah waktu alias kesempatan. Bulan Oktober kemarin tetiba saya sering bolak-balik Jakarta-Bandung. Hampir tiap minggu ke Bandung, bahkan pernah baru mendarat di Jakarta, besoknya road trip lagi ke Bandung, hahaha…. Lalu, tiap ke Bandung, kami sekeluarga boyongan (secara saya gak punya ART). Anak-anak pun terpaksa PJJ di hotel, hahaha…. Rusuh banget lah pokoknya. Untung wi-fi di hotel lancar jaya. Sayangnya, sulit sekali untuk mencari waktu untuk menulis saat saya di hotel, terutama karena saya harus bergantian memakai komputer jinjing dengan anak saya.

Namun demikian, akhirnya beberapa tulisan yang saya buat (termasuk setoran BunSay) terpaksa saya ketik di kamar hotel karena kalau menunggu sampai tiba kembali di Jakarta tenggatnya tidak akan terkejar. Saya baru bisa mulai menulis setelah anak-anak tidur nyenyak di samping saya. Tidak mungkin rasanya saya bisa berjibaku dengan Writober di saat duo krucil ini masih bangun, entah karena mereka sibuk mengerjakan PR atau justru berisik saat main berdua. Jadi, sambil ditemani acara TV di jam-jam Cinderella lah biasanya saya menulis (persis seperti sekarang ini, hihihi….).

Kesulitan tambahan yang dicari-cari: kebanyakan gaya, hahaha… Tadinya sempat ingin membuat semacam tulisan fiksi bersambung — sudah ada ide di kepala, tapi idenya keburu datang saat saya belum sampai di tema tulisan yang sesuai. Sayangnya, karena mood saya keburu lenyap dan karena adanya keterbatasan waktu di tema-tema terakhir, rencana tadi akhirnya tak terselesaikan.

Harusnya, tema terakhir merupakan akhir dari cerita fiksi ini, tapi untuk saya yang masih belajar menulis fiksi (kebanyakan mau banget lah pokoknya, segala mau dicobain, padahal saya pertama kali menulis fiksi ya waktu tulisan tentang si kocheng belum lama ini. Sebelumnya saya belum pernah menulis cerita fiksi sama sekali), susyah banget menulis verita fiksi yang bisa saya selesaikan dalam sehari. Saya perlu bertapa di bawah air terjun dulu baru ide muncul, huhuhu…. #lebay

Akhirnya, di waktu yang semakin meffeeettt…. sekitar jam 8 malam hari terakhir (kalau tidak posting tulisan di hari itu saya dianggap tidak menuntaskan tantangan karena hanya berhasil menyelesaikan 9 tulisan dari 10 tulisan. Gantung banget kan yaaa…), saya banting setir. Lupakan tulisan cerita fiksi karena tidak mungkin akan selesai, huhuhu…. Tetiba saya teringat fillm yang saya tonton semalam di kamar hotel: Air Crash Investigation. Rasanya ini lebih memungkinkan untuk ditulis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dibandingkan dengan cerita fiksi (apapun itu). Karena itu, akhirnya Writober tahun ini saya tutup dengan ide cerita dadakan ini, hahaha….

Sebagai penganut aliran “yang penting finisher” sejati (ya di Writober, Klip, ataupun Bunsay), filosofi saya emang sederhana: yang penting kelar, hahaha… Sama sekali tidak muluk-muluk. Itu pun nyaris gagal kalau saya ketiduran malam itu (seriously, ini nyariiisss bangeeet). Alhamdulillah, target yang awalnya bikin deg-degan ini bisa tercapai juga. 😅😅

Maaf kepada teman-teman yang sempat mampir ke blog saya kalau masih banyak kekurangan di sana-sini. Mudah-mudahan di tahun berikutnya bisa lebih ada kesempatan untu mengulik tema yang diberikan. 🙏🏻🙏🏻

Oh iya, di antara 10 tulisan Writober ini, dua tulisan yang paling saya suka adalah tulisan tema kedua dan ketiga. Tulisan kedua tentang pengalaman saya belajar menjadi barista dengan tema #adaptasi ini sempat di-feature-kan oleh KLIP. Sungguh tak menyangka. It was a great honour for an amateur like me. Sementara itu, saya suka tulisan saya dengan tema #nihil karena inilah pertama kalinya saya menulis dengan ide cerita seperti ini.

Seandainya teman-teman ada waktu, monggo mampir membaca tulisan-tulisan Writober saya. Penasaran juga, tulisan yang teman-teman senangi kira-kira sama dengan saya atau berbeda ya? 😉😊

Hermes Temptation: Suka Duka Penjual Tas Seharga Sedan Mewah

Untuk saya yang orangnya tidak terlalu hobi buku yang serius-serius kecuali buku cerita detektif (hihihi…), buku Hermes Temptation ini cocok sekali. Apalagi, jika dibaca di saat me time yang seringnya gak jadi me lagi karena diramaikan oleh tingkah polah dua orang jagoan kecil di rumah. Kenapa cocok untuk kondisi saya yang jarang bisa full ber-me time ini? Soalnya, cerita per babnya tidak bersambung, tapi merupakan cerita yang terpisah. Jangan tanya soal harga bukunya, hahaha…. Saya kebetulan berlangganan Gramedia Digital, dan buku ini merupakan salah satu buku yang bisa saya unduh karena hak saya sebagai pelanggan. Namun, saya pernah membaca bahwa buku ini dijual dengan harga Rp 125 ribu. Boleh dicek deh di toko buku, masih sesuai gak ya dengan harga buku ini sekarang.

Oh iya, jangan juga ditanya, kenapa judulnya Hermes Temptation, dan bukan ‘Godaan (Tas) Hermes’, misalnya, kan biasanya buku berjudul bahasa Inggris akan ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Hihihi…. gak ada sih kayaknya…. Soalnya, buku ini memang dituliskan dalam bahasa Inggris oleh penulis aslinya, meskipun keduanya adalah orang Indonesia.

Buku ini dituliskan oleh Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi yang sebelumnya telah sukses menerbitkan buku Little Pink Book: Jakarta Style & Shopping Guide. Buku setebal 356 halaman ini berkisah tentang pengalaman sang dynamic duo, Fifi dan Dewi, sebagai broker tas Hermes.

Awal mula mereka berjualan tas yang mereka sebut sebagai ‘Bentley of handbags‘ ini bukanlah suatu kesengajaan. Fifi dan Dewi sering bepergian ke luar negeri, dan saat sedang mengobrol via telepon genggam, tetiba terbersit ide untuk menjual kembali tas pre-loved Hermes. Jika mereka bepergian ke kota yang membuka butik Hermes, mereka akan membeli beberapa tas Hermes dan menjualnya di sini.

Menjual tas yang dibandrol dengan harga mega premium ternyata tidak semudah dan semulus yang dibayangkan. Justru, dengan adanya harga yang sangat fantastis, calon pembeli menjadi amat sangat demanding. Pembeli biasanya akan meminta penjelasan mengenai spesifikasi tas secara detail serta meminta mereka memastikan keaslian tas yang akan dijual (ya iya laaaah….. seharga mobil atau rumah getoo loooohh….).

Hahaha….. Ternyata beneran gak segampang itu ya menjual tas yang merupakan crème de la crème-nya tas tangan. Saya sih penasaran berat pingin tahu gimana mereka berdua mengawali usaha ini…. Biarpun saat ini saya masih termasuk golongan rakyat jelata yang cuma bisa jelalatan melihat harga tasnya…. Tapiiii, siapa tahuuuu… suatu hari nanti jadi golongan sultan, ye kaaannn….. (aamiin….). Jadi perlu tahu juga cerita mengenai per-Hermes-an ini, hahaha….. Bhaiiiiqqlaaaah….. untuk yang sudah mulai pinisirin kayak saya ini, saya mulai saja ya ceritanya….

Bagaimana awal mulanya?

Fifi dan Dewi ini serius banget, lhooo….. Demi kelancaran bisnis mereka, mereka membuka rekening bersama. Alasannya? Agar jika salah satu dari mereka bepergian dan perlu membeli tas yang diincar, yang satunya lagi bisa mengirimkan uang yang diperlukan. Jangan syediiih, mereka memiliki kartu kredit platinum yang tentunya memiliki pagu yang amat sangat lebih dari cukup untuk membeli tas merk ternama, namun bila dibelikan tas Hermes, terutama yang berbahan eksotis, pagu ini dengan segera habis, dan bahkan melebihi pagu yang diberikan.

Mereka membatasi nilai maksimum pembelanjaan mereka hingga setara kurang lebih 15 tas birkin (jangan tanya totalnya berapa ratus juta, hahaha…), dan membuat grup BBM chat (yes, it was the good ol’ days of Blackberry empire) yang bertajuk ‘Hermes Temptation’ sebagai forum untuk menjual tas berharga ruuaarrr biasa ini. Buat yang masih ternganga-nganga, jawabannya: yes, these bags were sold through chats…! Emejing bingit lah pokoknya. Fifi dan Dewi membuat 7 grup chat, yang tiap grupnya berisi 30 orang. Kebayang kaaan…. 210 pembeli potensial tas mereka! Hebat banget deh pokoknya, saya pun gak kebayang gimana mereka bisa ketemu orang untuk mengisi grup chat-nya. Lingkaran pertemanan saya belum secanggih dan sesultan itu.

Namun, sama halnya dengan usaha saya yang menjual produk berharga puluhan ribu, bisnis mereka yang menjual produk berharga puluhan bahkan ratusan juga pun awalnya seret. Meskipun mereka banyak menerima inquiry, tidak ada satu tas pun terjual. Usaha mereka baru membuahkah hasil setelah seorang pembeli yang cukup terkenal namanya membeli tas birkin berbahan kulit buaya dari mereka. Setelah itu, mereka berhasil menjual tas yang serupa dengan yang disandang tokoh Carrie Bradshaw dalam film ‘Sex and the City’… dan barulah nama mereka terangkat di dunia super eksklusif yang super langka ini.

Suka duka menjual tas berharga eksotis ke makhluk yang tidak kalah eksotisnya

Pembeli tas Hermes merupakan wanita dari kalangan terbatas yang tentunya bawel dan sangat kritis mengenai produk yang mereka beli. Sesempurna-sempurnanya tas yang mereka berhasil dapatkan, ada saja klien yang menganggap tas mereka kurang sempurna.

Kadang, mereka deg-degan mengenai tas yang mereka sudah bayarkan, namun tak kunjung tiba dari luar negeri, sementara klien yang menunggu tas tersebut ‘meneror’ mereka pagi-siang-malam.

Mereka mengatakan bahwa dengan adanya usaha ini mereka jadi lebih sabar, lebih toleran, lebih pemaaf, dan lebih berhati-hati. Cerita mengenai hal ini dibahas di bab-bab dalam buku.

Yang jelas, cerita menarik tentang tingkah-polah klien mereka pun tergambar dengan jenaka di buku ini. Misalnya, ada yang bela-belain beli tas Hermes, padahal ia tidak punya mobil dan mengandalkan taksi kemana pun ia pergi.

Cerita lain yang juga menarik adalah cerita mengenai tas birkin berwarna pink terang yang disebut sebagai bubble gum shiny pink shiny crocodile porous birkin (uuuwoooowww…. namanya lebih panjang dari nama anak saya yang nama lengkapnya lumayan panjang, hahaha….). Tas ini sempat diragukan keasliannya oleh kliennya karena warnanya agak pudar. Bila tas ini berharga Rp 500 ribu sih mungkin tidak apa-apa yaaa…. Tapiiii… tas yang dikomplain ini seharga rumah di Jakarta, jadi tentu saja mereka ketar-ketir tidak karuan dan mulesss berhari-hari. Apalagi, sertifikat CITES asli Hermes yang merupakan salah satu penanda bahwa produk yang dibeli sang klien ini merupakan tas Hermes otentik dan bukan tiruan tidak diberikan oleh penjual aslinya, dan mereka lupa untuk menanyakan hal ini ke sang penjual. Awalnya, setelah ditanyakan ke si penjual, si penjual tidak bersedia memberikan sertifikatnya kepada Fifi dan Dewi karena ia takut akan dilaporkan ke Hermes bahwa ia menjual tasnya (gileee… jual tas ke orang lain aja sampai takut ketahuan si pemilik merk…. Oh, nooo…..). Namun, setelah berbagai drama dan jungkir-balik, akhirnya sang penjual bersedia memberikan sertifikatnya kepada mereka.

Lewat buku ini, saya pun baru tahu kalau ada merk yang dengan sengaja menyulitkan konsumennya untuk mendapatkan sebanyak mungkin produk mereka. Padahal, tahu sendiri kan harga sebentuk tas tangan ini? Masa’ iya siiih….? Tapiiii… dengan tas Hermes yang sebegitu eksklusifnya, seorang pelanggan hanya bisa membeli dua tas tangan per musim. Jadi, jangan harap bisa kembali esok harinya dan membeli dua kelly atau birkin lagi. Hehehe…. emangnya beli minyak goreng promo di supermarket… Abis pulang, trus balik dan beli lagi (eeeh…itu sih saiyah, huhuhu….).

Daaann…. membeli dua buah tas tangan ini pun banyak tantangannya saking banyaknya saingan di dalam toko. Menurut Dewi dan Fifi, waktu terbaik adalah saat jam buka toko. Lewat sedikit, bisa-bisa produk yang diincar sudah berpindah tangan ke pemilik barunya. Bayangkan saja, saat mbak-mbak atau mas-mas sales associate masih menunjukkan tasnya ke kita, di belakang kita sudah bertebaran wanita-wanita lain yang ingin merebut kesempatan itu dari kita. Harus buru-buru deh mengambil keputusan. Di sinilah rasanya perkataan: lebih baik menyesal beli dibanding menyesal gak beli, terasa banget benernya.

Seru banget kan ya? Siapa sangka kehidupan penjual tas bisa sebegitu serunya. Masih banyak lagi cerita seru di buku ini. Jangan terlalu khawatir dengan bahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya sangat mengalir dan tepat menggambarkan kehebohan yang terjadi sehingga bisa membawa kita ke situasi yang dihadapi kedua penulis. Saya yang cuma membaca bukunya saja bisa terkikik-kikik dan geleng-geleng kepala sendiri membayangkan kepanikan dan petualangan mereka selama bergelut dengan tas tangan impian banyak wanita (dan sumber ke-stres-an suami mereka) ini. Hihihi….

Well, seperti kata Dewi dan Fifi, siapa tahu nanti kita berjodoh dengan tas maha eksklusif ini…. jadi, tidak ada salahnya mengetahui seluk-beluk dan cerita tentang tas Hermes ini dari sekarang 😁😁

Air Crash Investigation: Hikmah dan Asa di Balik Petaka

If you don’t take risks, you’ll have a wasted soul

Drew Barrymore, in the 2004 movie My Date with Drew

Setiap jam 11.00 malam, bila masih terjaga, saya memiliki kebiasaan untuk mengubah acara TV yang sedang saya tonton ke kanal National Geographic untuk menonton program TV kesayangan saya: Air Crash Investigation.

Dari namanya, ketahuan dong ini acaranya tentang apa…. Iyeesss…. Air Crash Investigation atau Mayday (nama lain program TV ini) adalah program televisi produksi Cineflix yang menayangkan penyelidikan atas suatu kecelakaan atau insiden pesawat terbang serta musibah lain yang terkait penerbangan. Depressing banget lah pokoknya…. Bayangkan, hampir tiap episode berisi jatuhnya suatu pesawat entah di belahan dunia mana. Jatuhnya pesawat ini bisa jadi disebabkan oleh kesalahan manusia, kurangnya pemeliharaan pesawat, kesalahan prosedur, atau sebab-sebab lainnya (termasuk bom dan pembajakan pesawat).

Karena dalam acara ini dilakukan rekonstruksi kejadian serta wawancara dengan investigator kecelakaan, awak kapal, pengamat penerbangan, serta pihak terkait lain, saya sebagai penonton dapat mengamati apa yang terjadi dalam penerbangan dan hal yang menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut.

Saking detailnya ilustrasi dan penjelasan yang diberikan, paksu awalnya sempat protes, “Ngapain sih nonton acara begituan? Bikin stres aja!” Hehehe…. ada benarnya juga sih dia, walaupun tidak sepenuhnya benar.

Terus terang memang, kalau tidak teguh hati, bisa-bisa cita-cita untuk jadi pilot langsung pupus setelah menyaksikan beberapa episode acara ini. Pun, yang tadinya gagah berani naik pesawat bisa jadi akan merasa khawatir untuk naik pesawat lagi setelah pandemi ini berakhir. Kenapa? Karena hampir seluruh episode dalam suatu musim tayang berisi jatuhnya pesawat yang menewaskan penumpang dan kru pesawat, termasuk pilotnya. Bahkan, kadang-kadang, sebuah pesawat berbadan besar yang berisi ratusan penumpang bisa begitu saja mengalami kecelakaan hanya karena sebuah insiden kecil.

Continue reading “Air Crash Investigation: Hikmah dan Asa di Balik Petaka”

Badai: Titik

Selalu kucoba tuk lupakan
Cerita lama yang menjadi buku
Terlanjur sudah ku membaca
Dari bab perkenalan

Tak semua halaman merana
Namun yang kelam terlalu berarti
Yang bahagia terlupakan
Terselimuti benci

Hampir sewindu berlalu sejak aku menghilang dari kehidupanmu. Aku menjalani kehidupanku sendiri, mencari maknaku tanpamu di negeri orang. Tanpamu, tanpa bayangan kasihmu.

Ingatanku melayang ke hari terakhir aku di Jakarta. Inginku adalah menikmati hari terakhirku dengan sahabatku, tanpa dirimu. Namun, ternyata kau ikut mengantarku hingga pintu keberangkatan bandara Soekartno-Hatta saat itu. Entah siapa yang mengabarimu, ketika aku tiba di bandara, kau sudah siap di sana, bercengkerama bersama teman-temanku yang juga turut mengantarkanku bertolak ke Manchester. Saat itu aku tidak peduli, toh ini hari terakhirku di sini.

“Tunggu aku, Rana” pintamu. “Aku akan menyelesaikan semuanya. Akan kupenuhi janjiku padamu. Akan kutunggu kamu kembali tahun depan.”

Continue reading “Badai: Titik”

Selembar Wastra, Segenggam Doa

Akhir minggu kemarin, saat saya berbenah rak-rak di rumah, tak sengaja saya menemukan album lama saat saya menikah dulu. Saat membalik-balik halaman, mata saya tertuju pada kain jarit batik yang saya dan paksu kenakan saat menjalani akad nikah dan resepsi.

Sebagai turunan galur murni suku Jawa, penting artinya bagi orang tua kami untuk mengikuti kaidah adat istiadat dalam upacara pernikahan, termasuk di dalamnya simbolisme yang terkandung dari kain jarit yang dikenakan oleh pengantin.

Motif batik yang digunakan pengantin serta kedua orang tua mereka dalam prosesi pernikahan bukanlah sembarang motif yang bisa sesukanya dipilih oleh si empunya hajat. Dalam upacara pernikahan tradisional, umumnya motif jarit yang digunakan oleh pengantin diatur oleh si perias pengantin. Perias pengantin memang memegang peranan penting dalam segala hal yang berkaitan dengan upacara adat, tidak hanya masalah riasan sang pengantin serta keluarganya. Ia akan memilihkan motif kain yang sesuai dengan doa-doa dan simbolisme yang selaras dengan kebahagiaan dan harapan bagi kedua pengantin.

Continue reading “Selembar Wastra, Segenggam Doa”

Dewangga

Seindah mawar semungil melati
Dikau cemerlang wanita
Semerbak wangi sejinak merpati
Dikau senandung di cita


Gerak gayamu ringan
Memikat hati muda taruna
Mekar bersinar menyilaukan mata


Halus wanita bak sutra dewangga
Senyummu meruntuhkan mahkota


Adakah yang tahu lagu di atas? Lagu ini adalah lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul Wanita. Saya sudah sejak masih sekolah mendengar lagu tadi tanpa pernah tahu arti “dewangga”. Entah kenapa, biarpun tidak tahu dan penasaran ingin tahu artinya, sedikit pun saya tidak berniat untuk mencari tahu.

Sepertinya sih terhentinya rasa ingin tahu saya disebabkan oleh kondisi kemajuan zaman di kala itu. Harap maklum….. zaman saya muda, Mbah Google masih belum lahir (cepet banget ya dia menua dan jadi mbah-mbah, hahaha…), jadi lumayan susah untuk mencari tahu istilah yang tidak diketahui. Kalau orang sekitar kita tidak tahu, ya seringnya mentok. Mau cari di kamus sudah minder duluan rasanya melihat kamus yang tidak kalah tebalnya dari bantal 🙈🙈 Belum lagi terbayang kzl-nya kalau ternyata kata yang dicari tidak ditemukan di kamus, huhuhu….

Begitu saya beranjak dewasa dan si mbah serba tahu itu lahir, lagu ini sudah menjadi obsolete dan hilang ditelan zaman. Saya pun tak pernah teringat lagi untuk mencari arti “dewangga”, si kata misterius.

Baru-baru ini saja saya mencari tahu tentang hal ini. Itu pun bukan karena saya rajin ataupun penasaran, hehehe…. Pencarian kata ini lebih disebabkan oleh tugas di salah satu komunitas menulis yang saya ikuti.

Bulan ini, saya sebagai anggota komunitas menulis tersebut mengikuti Writober, tantangan menulis 10 hari dengan tema tertentu per harinya. Tahu doooong… apa salah satu tema yang ditentukan panitia? Iyeeessss….., tak lain dan tak bukan adalah “dewangga”, kata yang tidak saya ketahui artinya selama lebih dari tiga dekade 🙄🙄

Continue reading “Dewangga”

Badai: Senandika

Jika dia cintaimu melebihi cintaku padamu
Aku pasti rela untuk melepasmu
Walau ‘ku tahu ‘ku ‘kan terluka
Jikalau semua berbeda, kau bukanlah orang yang ‘ku puja
Tetapi hatiku telah memilihmu
Walau kau ‘tak mungkin tinggalkannya

Berada sendirian di kamar kos membuatku teringat kembali lagu yang sore tadi kudengar. Aku sudah mandi dan berganti pakaian. Sudah bersiap untuk tidur. Namun, niatku berbaring dan beristirahat sudah tidak mungkin dilakukan. Aku terlanjur bergelut dengan pikiranku sendiri. Kini mataku nyalang. Jantungku berdegup kencang. Aku marah. Marah pada diriku yang terjebak dalam pesonamu, sekaligus marah padamu karena kegigihanmu mendekatiku.

Aku meradang. Kau yang salah! Bukan aku!

Kau yang mendekatiku. Kau yang tak henti-hentinya menghujaniku dengan perhatian. Kau yang salah!

Aku bukanlah orang yang mudah tergoda. Mengapa kamu terus mendekatiku? Sudah kubilang untuk pergi jauh dari hidupku! Mengapa kamu tidak mau mendengarku?

Aku tersedu. Hancur rasanya hatiku. Terbelah antara kenyataan dan mimpi sungguh menyakitkan. Teramat sakit. Sakit yang dalam dan pedih menghujam jantung.

Aku memang memujamu. Memuja kecerdasanmu dan keteguhan sikapmu. Memuja ketulusan hatimu. Tapi, sungguhkah kamu tulus menyayangiku? Bagaimana bisa kau tulus menyayangiku jika kau tidak bersedia meninggalkannya?

Continue reading “Badai: Senandika”
Design a site like this with WordPress.com
Get started