524

Kututup pintu mini market dengan hati-hati, lalu kuturuni pelan-pelan tangga yang licin karena masih basah selepas hujan yang turun lebat di subuh tadi.

Di tangan kananku tidak ada belanjaan satu pun. Sementara itu, di tangan kiriku hanya tergenggam struk dari ATM yang terletak di dalam mini market tadi.

Kulangkahkan kakiku dengan hati-hati menuju motor yang terparkir di samping mini market. Beberapa genangan air yang tersebar di parkiran mini market membuatku agak sulit melangkah lurus.

Kulihat suamiku siap menungguku di atas motor. Begitu melihatku mendekat, ia sigap menyalakan mesin motor dan mengambil helmku yang tergantung di spion.

“Yah,” kupanggil suamiku sembari kusorongkan struk yang kubawa. Sebagai gantinya, kuraih helm dari tangannya dan kupakaikan helm berwarna biru terang bergaris hitam itu di kepala.

Kulirik suamiku.

Wajahnya yang tadinya penuh pengharapan langsung berubah sendu begitu mengetahui saldo yang terpampang jelas di struk yang barusan ia terima: Rp.524.00.

Iya, struknya tidak salah, dan tintanya juga tidak pudar. Angka nolnya memang hanya dua, tidak menggelinding. Angka nol yang berjumlah 2 digit ini menandakan pecahan sen. 

Saldoku memang hanya lima ratus dua puluh empat rupiah. Tidak kurang dan tidak lebih.

Gimana?” Desakku.

Suamiku mendesah, tanda ia gundah. Lalu, dimatikannya mesin motor yang sudah ia nyalakan.

Ia hanya menatapku.

“Anak-anak buka puasa pakai apa ya hari ini?” Ucapnya lirih.

Aku tertunduk. Air mataku menggayut di pelupuk. Tak sanggup aku bersuara. Cemas air mata yang masih menggantung itu akan turun dengan derasnya.

Hari ini sudah hari ke-15 Ramadan, tetapi pesanan kue kering ataupun hantaran Lebaran yang biasanya sudah mulai menumpuk belum terkumpul satu pun.

Pesanan ayam goreng dan ayam bakar di bulan Ramadan tahun ini pun lumayan sepi, padahal biasanya ada saja yang memesan sebagai menu berbuka puasa bersama keluarga.

Kantor kecil di dekat rumahku yang seminggu sekali memesan nasi boks untuk lima karyawannya juga menyetop langganannya di bulan puasa ini.

Praktis, pemasukan yang kuterima hanya berasal dari pesanan beberapa langgananku dan cuma cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. 

Tidak usah bertanya apakah uang yang ada cukup untuk membayar tagihan listrik yang bisa mencapai satu jutaan per bulan. Jangankan membayar tagihan listrik, untuk membayar cicilan motor yang ‘cuma’ enam ratus ribuan pun aku belum terbayang dari mana uangnya.

Membayangkan tagihan listrik membuatku bergidik. Aku masih ingat peristiwa bulan lalu saat kami didatangi petugas PLN dengan ancaman diputus aliran listriknya, sementara di dalam rumah anak-anak sedang melakukan ujian daring. Sungguh, aku tidak sanggup bila peristiwa ini harus terulang lagi.

Kugeleng-gelengkan kepalaku, seolah mengibaskan trauma peristiwa bulan lalu.

Kutepuk lembut pundak suamiku, “Pulang dulu aja yah,” kataku. “Siapa tahu masih ada uang di rumah.”

Harapanku timbul kembali seiring laju motor kami menuju rumah.

****

Sampai di rumah, aku segera mengambil beberapa tas yang biasa aku pakai, berharap ada kembalian atau uang yang terselip di antara struk belanja yang lupa kubuang dan masih berada di dalam tas.

Sebenarnya aku agak pesimis karena aku ingat kalau beberapa waktu lalu aku sudah membongkar semua tas di hadapanku ini dan menggunakan uang yang kutemukan untuk membeli seliter beras dan sayuran.

Namun, aku mencoba berpikir positif, siapa tahu kali ini masih ada sedikit uang tersisa.

Dengan penuh semangat kubolak-balik beberapa tas di pangkuanku. Kubuka ritsleting dan segala saku di dalam tas serta kupilah-pilah berbagai struk yang kutemukan di dalamnya.

Kosong. Tak ada uang sama sekali.

Kuambil lagi sebuah tas dari rak. Penuh harap agar setidaknya ada uang lima ribu rupiah supaya kami bisa membeli beberapa butir telur.

Kosong juga.

Ya Allah, aku hanya perlu lima ribu, tidak usah banyak-banyak. Kalau menurut Engkau lima ribu masih terlalu banyak, tolong cukupkan aku dengan dua ribu rupiah saja.’

Aku berusaha menawar dan memohon kepada Allah sambil terus mencari di tempat-tempat yang kupikir berpotensi untuk kutemukan sedikit uang.

Suamiku juga tidak kalah sibuknya membuka laci-laci serta mengeluarkan isi di dalamnya

Setelah hampir setengah jam aku dan suamiku mengorek dan membolak-balik berbagai tempat, aku dan suamiku hanya menemukan enam ratus rupiah, yang terdiri dari tiga keping uang dua ratus rupiah.

Doaku rupanya belum dikabulkan oleh Sang Maha Pengasih.

Kami berdua terduduk lesu. Di mana lagi ada sisa uang di rumah ini? Celengan anak-anak pun sudah kosong. Sudah terpakai untuk membayar entah keperluan apa saat itu.

“Bu, gimana kalau ngutang ke warung Mpok Ami?” Suamiku mencoba menawarkan solusi.

Gak usah banyak-banyak, cukup telur 2 butir. Kan paling sekitar empat ribu,” lanjutnya.

Aku menggeleng lesu.

“Utang yang kemarin aja belum dibayar, masih kurang dua puluh ribuan,” sahutku.

Gak enak, Yah, Mpok Ami itu biasanya gak mau ngasih utangan, cuma ke kita aja dia mau ngutangin. Aku gak enak ngutang lagi kalau yang kemarin belum lunas.”

Suamiku mengangguk setuju, sekaligus bingung. 

Hendak berbuka dengan apa kedua anak kami sore hari nanti? Belum lagi untuk makan malam, tidak mungkin kalau tidak ada lauk yang tersaji untuk mereka.

Untuk kami, perut kami kosong tidak apa-apa, asalkan anak-anak bisa makan dengan layak. Tidak harus daging atau ayam, tempe dan tahu pun mereka suka.

Namun, jangankan tempe di pasar yang harganya 5.000 per buah, gorengan yang hanya 1.000 sebuah pun saat ini tidak terbeli.

Memang, kekurangan uang untuk makan kami sekeluarga ini bukan pertama kalinya bagiku dan suamiku. Akan tetapi, seberapa pun sulitnya kami, sebelumnya selalu ada makanan yang terhidang meskipun sederhana. 

Pedih rasanya membayangkan bahwa hari ini bisa jadi anak-anak hanya makan dengan kerupuk karena memang yang tersedia di rumah hanyalah kerupuk.

Sembari mengembalikan tas-tas dan laci-laci yang tadi kami bongkar, aku berusaha menghibur suamiku. Tak tega rasanya melihat wajahnya muram begini.

“Sudah, nanti aja kita pikirin lagi,” kataku.

“Insyaallah ada jalan,” tambahku sambil berusaha tersenyum. 

“Nanti kucoba tawarkan ayam goreng ke Mbak Yuli, Bu Titin, dan Mbak Meta deh Yah, siapa tahu ada yang mau pesan untuk berbuka hari ini atau besok,” ujarku mencoba untuk optimis.

Aku lalu beranjak ke dapur. Menyiapkan pesanan seporsi ayam goreng dari seorang teman yang tinggal di daerah Tebet. Sayangnya, pesanan temanku ini sudah dibayar di muka, dan uangnya pun sudah menguap terpakai untuk kebutuhan mendesak lainnya. 

Jadi, bahkan setelah pesanan diantar, tidak akan ada pemasukan yang kuterima.

Sambil berkutat di dapur aku memutar otak. Masakan apa yang kira-kira akan kuhidangkan untuk kedua buah hatiku? Sebenarnya, di dalam hati aku masih tidak tahu harus menyiapkan makanan apa untuk anak-anak. Apa yang bisa kubuat dengan 600 rupiah?

Sempat aku terpikir untuk memasak nasi goreng polos. Hanya nasi dan bumbu-bumbu. Biarpun tidak ada isinya, paling tidak masih lebih ada rasanya, dibandingkan hanya nasi putih dan kerupuk.

Meskipun masih gamang, sejauh ini baru nasi goreng saja ide yang terpikirkan olehku. Belum ada lagi ide keluar dari kepalaku yang rasanya beku ini.

Setelah pesanan selesai disiapkan, aku dan suamiku segera berangkat. Mumpung masih belum jam 5 sore, jadi lalu-lintas belum terlalu ramai.

Sambil duduk di atas motor kucek telepon genggamku. Siapa tahu sudah ada respon dari salah satu pelangganku. Akan tetapi, tak ada satu pun pesan yang masuk.

Sabar,’ pikirku menenangkan diri. ‘Mungkin mereka masih sibuk menyiapkan takjil.’

Sepanjang perjalanan kami dari Jalan Pasar Minggu menuju Tebet, aku terus terngiang-ngiang saldo tabunganku.

524…. 524…. 524….

Tak pernah sebelumnya saldo tabunganku seminim itu.

Lima ratus dua puluh empat rupiah.

Semakin lama, semakin sedih hatiku mengingat saldo tabunganku yang nyaris kosong itu.

Ting!

Kuintip telepon genggamku. Ada pesan dari Mbak Meta. Dengan harap-harap cemas kubuka pesan yang masuk.

Mbak, maaf, aku lagi mudik sampai minggu depan. Insyaallah kalau sudah kembali ke Jakarta aku pesan ya.

Hatiku kembali ciut. Duh, sudah satu dari tiga orang yang menjawab, tetapi bukan jawaban yang menggembirakan.

Ting! Ting!

Kali ini dua pesan masuk berturut-turut ke teleponku. Dari Mbak Yuli dan Bu Titin.

Aku pass dulu ya mbak, masih banyak makanan di rumah. Maklum mbak, bulan puasa, jadi waktu makannya terbatas. Next time deh mbak.

Mbak Yuli sudah memberikan respon negatif. Aku bertambah lesu. Harapanku satu-satunya hanyalah Bu Titin.

Bismillah, kubuka pesanku.

Mau mbak….

Yes! Akhirnya ada yang mau pesan.

…tapi 3 hari lagi ya mbak. Aku lagi di luar kota nih. Baru kembali Rabu depan ini.

Huft. Aku menghela napas. Ternyata aku gembira terlalu dini. Bu Titin baru akan memesan 3 hari lagi.

Tabunganku hari ini masih belum bergerak. Masih 524 rupiah.

Aku tertunduk lesu.

Tiba-tiba badanku serasa ditarik ke belakang. Kueratkan peganganku di pinggang suamiku. Rupanya ia mengejar lampu hijau, jadi agak menambah kecepatan di perempatan Pancoran.

Tidak lama setelah berbelok dari Pancoran ke arah Gelael di Jalan MT Haryono, terlihat anak-anak bergerombol di dekat gedung Samsat. Aku tidak berpikir panjang. Kupikir hanya anak-anak yang akan pulang selepas ibadah di gereja karena setahuku di situ ada gereja Advent. 

Jalanan yang biasanya lengang kini menjadi lumayan ramai karena adanya anak-anak yang bergerombol di depan gereja. Dibanding mengambil sisi kanan jalan, suamiku memilih untuk tetap berada di jalur lambat dan mengurangi laju motor yang dikendarainya.

Tiba-tiba, seorang anak menyorongkan bungkusan plastik ke arahku. Tak disangka, ternyata anak-anak tadi sedang membagikan makanan untuk berbuka puasa.

Saat aku masih belum sepenuhnya menyadari yang terjadi, ada seorang anak lainnya yang mendekat dan mengulurkan sebuah bungkusan ke arah suamiku.

Total, kami menerima dua bungkusan. Aku dan suamiku berpandang-pandangan.

“Nasi boks ya kayaknya?” tanya suamiku dengan nada tidak yakin, tetapi terdengar optimis.

Aku mengangguk ragu. Separuh senang, tapi juga separuh khawatir kalau-kalau harapan kami ternyata tidak sesuai kenyataan.

Dengan tidak sabar kubuka plastik pembungkusnya.

Bau harum khas nasi boks langsung menyeruak.

“Iya, kelihatannya,” kataku sambil berusaha mengintip ke dalam kotak yang baru sedikit terbuka. Tak terkira girangnya hatiku mengetahui bahwa ada secercah harapan di depan mataku.

Suamiku segera menepikan motornya. Kami lalu bergegas membuka bungkusan.

Sungguh…. Allah Mahabaik. Ternyata bungkusan yang kami terima betul-betul berisi nasi boks.

“Alhamdulillah,” seru suamiku. Matanya berkaca-kaca. Tak terkatakan gembiranya hati kami menerima nasi boks barusan.

Kubalik-balik lauk di dalam boks. Ada sebungkus nasi, sepotong ayam, segelintir sayur, sambal, dan sebuah pisang. Tidak lupa, segelas air mineral melengkapi tiap boks yang kami terima.

Ya Allah…. Ternyata apa yang ada di tanganku kini jauh melebihi permohonanku tadi.

Doaku ternyata bukan tak diijabah oleh-Nya, tetapi digantikan-Nya dengan yang lebih baik.

Sebelumnya, kami tidak pernah melihat anak-anak ini membagikan makanan, padahal ini merupakan rute yang cukup sering kami lewati. Mungkin karena sedang bulan Ramadan, mereka mengadakan semacam kegiatan sosial dengan berbagi makanan menjelang waktu berbuka puasa.

Entah bagaimana, saat itu, waktu antara kegiatan mereka berbagi makanan dengan saatnya kami melewati rute itu bisa sedemikian sinkronnya.

Sungguh, pintu dan jalan rezeki memang rahasia Allah. Siapa yang menyangka bahwa makanan kami hari ini akan tercukupi dari kegiatan berbagi yang diadakan umat lain?

Di saat kami kesulitan dan nyaris putus asa, ada tangan Allah yang bekerja melalui jalan yang tidak disangka-sangka.

Dan, meskipun saldo tabunganku hari ini masih tetap 524 rupiah, kebutuhan makan kami sekeluarga dapat tercukupi, malah dengan lauk pauk yang lengkap.

Alhamdulillah.

Frustrasinya Mengurus Kartu Prakerja

Beberapa waktu lalu saya mencoba peruntungan dengan dibukanya gelombang prakerja. Sebenarnya, saya sudah mendaftar sejak lama, tapi, karena kemarin dibuka gelombang pelatihan yang baru, saya berniat mendaftarkan diri ikut pembukaan gelombang ini.

Sebagai catatan, saya belum pernah mendaftarkan diri ikut pelatihan yang difasilitasi oleh kartu prakerja ini sebelumnya. Namun, saya melihat manfaatnya untuk seorang teman yang sempat tembus pendaftaran di gelombang awal dan menikmati beberapa pelatihan yang ia pilih.

Karena itu, begitu saya mendengar bahwa gelombang pendaftaran untuk pelatihan melalui kartu prakerja ini kembali dibuka, saya segera bersiap-siap.

Di tanggal 17 Maret jam 9an pagi, saya mulai membuka akun saya karena saya mendapatkan informasi bahwa gelombang akan dibuka sekitar jam 10 pagi.

Awalnya baik-baik saja. Saya hanya diminta memutakhirkan data saya saja, dan saya bisa membuka akun saya.

Saya lalu mengecek akun saya. Semua terlihat normal.

Sekitar jam 10 pagi saya kembali mengecek akun saya. Setelah login ulang, ternyata saya diminta untuk memasukkan swafoto saya.

Nah, di sinilah masalah dimulai.

Pertama, kalau saya ambil foto secara portrait (sesuai template, hasilnya akan jadi landscape. Begitu sebaliknya. Jadi, apa yang terlihat di layar saya tidak sesuai dengan hasil jadinya. Dengan demikian, saya harus berkali-kali trial and error untuk mendapatkan foto yang sesuai dengan garis bantu.

Kedua, hasil jadinya pun tidak sesuai sisi atas bawahnya, heuheuheu…. Jadi, mulailah saya merotasi foto saya ke bawah, ke samping, dan ke atas supaya hasilnya sesuai, Lagi-lagi, harus trial and error, yang tentunya lebih banyak error-nya dooong….

Bhaiiiiiqqqq….. Akhirnya setelah jepret sana jepret sini saya berhasil mengambil foto yang bisa mengikuti panduan dan garis bantu (padahal di contoh swafotonya ada latar belakangnya, lho, kelihatannya tidak susah).

Terakhir, saya sudah menempatkan swafoto saya sesuai garis bantu dooong…. Cekrek, cekrek…. Siaaap…. daaan… begitu klik kirim foto langsung ditolak. Bete.

Bingung sih, lebih tepatnya pas awal-awal. Kenapa foto yang sudah memenuhi persyaratan ini bisa tertolak masuk?

Namun, setelah berkali-kali mencoba, saya bingung dan penasaran itu perlahan berubah menjadi kejengkelan. Bukan apa-apa, kalau poin pertama dan kedua tidak terjadi sih mungkin tidak seberapa sulit ya mengambil swafoto dan meletakkannya sesuai garis bantu…. Masalahnya, itu hasil swafoto juga rada-rada ajaib. Kan kezzeeeeelllll….!

Eh, ditambah lagi, setelah entah ke sekian kalinya saya mencoba, di jam 10.35 saya mendapatkan notifikasi bahwa saya sudah terlalu banyak mencoba mengunggah foto dan gagal, dan karenanya aksesnya dikunci serta baru bisa mengunggah lagi setelah 24 jam.

Whaaatttttt?????

Sabaaarrrrr….. sabaaaarrrrr….. Orang sabar pasti kezzzzeeelllll…..

‘Fine! besok deh, saya coba lagi.’

Continue reading “Frustrasinya Mengurus Kartu Prakerja”

To My Dearest Sun and Moon

Dear my sun and my moon, the apple of my eye,

Please know that I’m always proud of you two, no matter what. There is nothing in this world that can take my love away from you.

It is my dream to see both of you become fully-grown adults and watch you raise your own family. But, of course, no one knows how much time he or she has in this world, as age is a secret that God keeps for Himself, while us human can only wonder.

Please remember that when I ask you to do house chores, get up early, submit your homework on time, and help around here and there, it is not because I want to make your life miserable. Instead, I’m teaching you to be responsible and independent.

Please understand that when I push you to your limit or encourage you to do things that you have never done before, it is not because I want to make fun of yourself. Instead, it is because I want you to see how talented you are.

I know for sure that I am hard on you. Nonetheless, please understand that I do it out of love, and not from a lack of love. I love you that much, so I want you to learn the importance of ‘responsibility’, as you will become adults who will need to take care of your family.

I also give you rewards for a job well done, no matter how small the job is. I do it on purpose, so you can appreciate your effort and hard work, and later learn to appreciate others.

I constantly remind you to thank Allah for His blessings, not to force you, but to make you understand how much love Allah has shown you, so you can also be compassionate to others.

It’s not an easy journey, as once in a while I see pain in your eyes, but I enjoy every step of the way. I love to see the sparkle in your eyes when you finally accomplish something. It’s like being on a roller coaster. Sometimes it’s scary, sometimes it’s exciting, but, in the end, it’s always delightful to be on one.

Don’t let others dictate your happiness, and don’t rely your happiness on others. Please remember, you are the one and only person who can determine your happiness. Choose to be happy as much as possible.

Be the very best version of you, and not an image of me. Allah created us with our own greatness. Build your own path, carve your own future, and be the master of your life.

My dearest children, the love of my life, no matter how far life takes you, please remember that you’re always in my heart, and no matter how far we’re apart, my heart will always be with you, every step of the way, long after I’m gone.

Always,
Mommy ❤❤

#SuratUntukAnakku
#TaTiTaTu
#RBMIPJakarta

Rempongnya Berburu Sekolah untuk Anja: Prolog

Di bulan-bulan terakhir ini, kesibukan saya yang seringnya unfaedah nirmanfaat ini sedang disusupi aktivitas yang mahapenting: mencari sekolah lanjutan pertama untuk Anja, anak saya yang pertama, yang di tahun ajaran 2022/2023 ini insya Allah akan naik ke jenjang Sekolah Menengah Pertama alias SMP.

Jadi, jiwa rebahan saya jelas terganggu, huhuhu…. Siang-siang yang biasanya aman damai sentosa gemah ripah loh jinawi (apaan sih?) kini harus direcoki kegiatan berselancar di dunia maya mencari info biaya sekolah, hadir di acara open house secara daring, tanya-tanya tentang kurikulum SMP, dan lain sebagainya.

Jika sebelumnya jiwa julid dan nyinyir ala netijen saya hanya membahas mengenai harga telur yang melambung tinggi atau Mas Aris yang tetiba digeruduk pacbapac di media sosial, kini saya kasak-kusuk mencari informasi mengenai biaya formulir pendaftaran, biaya uang gedung sekolah, biaya SPP SMP, pergaulan anak-anak ABG di SMP, dan tes masuk SMP (susah gak siiiis soalnya? Pilihan ganda atau ada esainya? Haah? Ada tes IPS-nya? Duuuuh…. kayaknya dulu masuk SMP gak susah kayak gini ya cyyyyn….).

Hidup mamak tetiba pusing, heuheuheu….

Continue reading “Rempongnya Berburu Sekolah untuk Anja: Prolog”

Selamat Jalan Sahabatku

Hari masih menunjukkan pukul 6.15 pagi saat aku meraih telepon genggamku. Teringat beberapa pesan semalam di WAG SMA yang belum sempat kurespon. Salah seorang teman menanyakan mengenai terapi atau prosedur perawatan yang sesuai untuk anaknya yang retak lengannya karena terjatuh dari sepeda.

Malam tadi sudah terlanjur menjadi dini hari saat aku membaca pesan di WAG. Waktu sudah bergulir menjadi jam 2.00 pagi, dan mataku sudah mulai mengantuk. Karena itu, kuputuskan untuk merespon di pagi hari setelah mataku segar.

Kugulirkan jariku ke arah bawah, sambil mataku bergerak mencari nama WAG yang berisi sahabatku dekat semasa SMA. Iya, ini memang WAG khusus, bukan WAG kelas apalagi angkatan yang isinya bisa beratus-ratus anggota. WAG ini hanya berisi 17 anggota, yaitu teman-temanku semasa SMA beserta pasangan mereka.

Baru saja kutemukan nama grup yang kucari, mataku membaca sebaris pesan tak terbaca di sana.

Innalillahi wainna ilaihi roojiuun….

Sempat ada rasa kaget. Siapa?

Continue reading “Selamat Jalan Sahabatku”

Sebaris Curcol, Seuntai Blog

Bertahun-tahun silam, saya tidak pernah membayangkan sedetik pun bahwa saya akan memiliki blog, apalagi blog yang diisi secara rutin (Jangan bilang karena saat itu blog belum ada yaaa, hahaha). Dulu, tak terbayangkan bahwa saya akan menuliskan kisah saya di suatu media yang akan bisa dibaca oleh siapa pun yang mau.

Selain karena malu (karena saya tidak yakin bisa bertutur dengan baik dan menarik), alasan terbesar adalah karena hoream. MALAS — dengan huruf kapital.

Malas untuk meluangkan waktu, malas untuk mencari ide, malas untuk berpikir, malas untuk menulis, malas (lebih tepatnya malu) dibaca orang yang tidak dikenal, dan malas untuk konsisten. Pokoknya, malas semua-muanya.

Menulis di blog menurut saya jauh berbeda dengan menulis di Facebook atau Instagram yang bisa dilakukan secara spontan atau serampangan. Begitu dapat ide, bisa langsung cuusss menulis dan di-posting. Menulis postingan FB atau IG sembari menonton TV ya oke, sambil menunggu misoa yang tak kunjung menjemput ya bisa (sembari ngomel-ngomel di dunia maya karena paksu tak jua muncul), sambil dalam perjalanan pulang ya hayuk, sambil nunggu gebetan lewat juga mangga, pokokna mah bebas.

Sementara itu, menulis di blog itu (menurut saiyah) harus khusyuk dan tidak terganggu kesibukan lainnya. Saya yang ‘pengacara’ (pengangguran banyak acara) ini mana mungkin bisa khusyuk tak terganggu ‘iklan’ (baca: kegiatan lain) yang berseliweran dan memanggil-manggil saya?

Continue reading “Sebaris Curcol, Seuntai Blog”

Menerima SMS OTP? Jangan Sembarangan Meneruskannya kepada Orang Lain

Ting!

Terdengar bunyi notifikasi yang menandakan adanya pesan singkat masuk ke telepon genggam saya. Saya, yang pagi-pagi sedang leyeh-leyeh setengah mengantuk sambil menonton TV, hanya melirik malas.

[Kode bersifat rahasia, jgn berikan….]

Demikian yang terbaca di tampilan layar telepon genggam saya.

Hmmm…. aneh. Kode kan hanya dikirim kalau ada transaksi.’

Sementara itu, HP saya sepagian tadi magabut, alias makan gaji buta, alias tak tersentuh barang sedetik acan. Gimana bisa ada transaksi?

Belum sempat saya membuka layar HP untuk mencari tahu lebih jauh, telepon saya tetiba berdering.

[085959372279]

Bukan dari nomor yang saya kenal. Dari siapa ini?

Saya, yang memang segan untuk mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal, pastinya memilih untuk tidak menjawab. Saya juga masih penasaran dengan pesan singkat yang saya terima sebelumnya. Felt like something’s fishy. Batin saya juga seperti menahan agar saya tidak terburu-buru menjawab panggilan telepon ini.

Selagi saya mencoba mencerna apa yang terjadi, sebuah pesan singkat kembali masuk ke telepon genggam saya.

[Slm liqum pak, bu, ma,af mengganggu sbntar, ada vocer game anak saya trkirim ke no anda, tolng d cek ada nggak sms nya dari 99100.]

Saya tersenyum geli. Terbaca sudah tujuan si nomor misterius itu.

Continue reading “Menerima SMS OTP? Jangan Sembarangan Meneruskannya kepada Orang Lain”

Pelangi

“Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn”

Benjamin Franklin

Have you ever said “yes” to a bet that you will (almost) definitely lose?

I have.
Baruuu…. aja, hahaha.

How come?
Udah seusia segini masih aja bisa mengambil keputusan gegabah?

Hahaha, ternyata bisa tuuuh.
Udah tahu lah ya hayy, pastinya karena ditantangin dan gak kuat untuk menolak (ah, saiyah tuh emang gampangan banget).

Tantangannya pun sesuatu yang saya gak pernah sentuh sama sekali seumur-umur (eh, lebay ah…. Menyentuh sih pastinya pernah): main satu lagu dengan gitar!

Hahaha, yang kenal saya pastinya tahu banget, saya tuh gak pernah belajar alat musik, apalagi gitar! Kok mau-maunya taruhan main satu lagu pakai gitar 🙈🙈

Seribu persen, pasti saya bakalan kalah.

Soalnya, gitar adalah alat musik yang paling saya hindari. Biarpun, konon, orang yang bisa main gitar itu punya appeal tersendiri, buat saya, gitar itu makhluk yang saya jauhi. Bukan apa-apa, main gitar itu bisa bikin buku-buku jari kaku dan sakit-sakit. Belum lagi kuku yang harus pasti pendek untuk bisa memainkan chord gitar. Uuuh, saiyah kan cinta banget sama kuku tercinta iniiii…. Berat banget rasanya ngebayangin kuku saya harus dipotong rapi demi belajar main gitar. Big no lah buat saya.

Akan tetapi, malam ini saya terjebak mengiyakan tantangan untuk memainkan lagu dengan gitar. Heuheuheu….

Oleh siapa?
‘Tetangga sabeulah‘ (baca: paksu) laaah…. Siapa lagi?

Awalnya, karena malam ini turun hujan dengan derasnya, saya dan paksu asyik menonton almarhum Glenn Fredly menyanyikan lagu ‘Pelangi’ via YouTube di TV, yang dilanjutkan dengan mencari cover-an lain dari lagu yang sama.

Bermula dari komentar soal chord lagu ‘Pelangi’ yang kayaknya sederhana, akhirnya kami berdua ngobrol soal lagu ini.

One thing led to another, dan saya lalu menunjuk gitar yang teronggok kesepian di pojok ruangan (yang sebenarnya gitar hadiah ulang tahun dari saya dan anak-anak untuk paksu).

“Ah, omdo (omong doang)!,” kata saya, “Ngomong doang bisa main gitar. Mana? Itu gitar gak pernah dimainin.”

“Nanti bisa-bisa gue duluan yang bisa main gitar.” lanjut saya. Oh iya, saya dan paksu memang terbiasa menyebut diri dengan lo-gue.

Langsung disambit, eh, disambut paksu, dong, omongan ‘asal njeplak’ saiyaaah….
(Oops, me and my short-term thinking!)

Yuk, kita taruhan, siapa yang duluan bisa mainin lagu itu pakai gitar,” katanya.

Wis kadung, saya langsung mengiyakan.

“Hayuuuk!” sambut saya. “Apa nih taruhannya?”

Hahaha, biar tambah seru dooong…. Mana seru tantangan tanpa embel-embel taruhan, ya nggak?

Paksu setuju. Gak seru kalau gak ada ‘reward‘-nya.

Yang agak syulit adalah menentukan reward atas kerja keras kami. Kami sempat berdebat beberapa saat sebelum akhirnya setuju dengan taruhan semangkuk bakso (serius nih, saya tuh ‘lemah iman‘ bingit, siiiih….). Yang menang akan ditraktir semangkuk bakso oleh yang kalah.

Deal!

****

Long story short, biarpun kayaknya saya sudah hampir pasti kalah, secara paksu sebenarnya sedikit-sedikit bisa main gitar, saya gak mau dong kalah dengan gampilnya.

No. Tidak semudah itu, Ferguso.

Kalaupun kalah, setidaknya ada perlawanan — meskipun sedikit.

Saya sudah bilang kan, klo saya sama sekali gak pernah main gitar? Jadi, jangankan tahu chord-nya, bagian mana yang harus saya tekan atau petik untuk mengeluarkan nada tertentu pun saya gak ngerti, hahaha.

So, it’s not going to be an easy battle for me. Semoga saiyah tetap tabah yaaak…. Deadline-nya adalah akhir bulan ini. Hahaha, berani mati banget, kaaan?

Saya langsung browsing-browsing Google untuk mencari lirik lagu dan chord-nya. Setelah itu, saya juga mencari bagaimana chord-nya kalau dimainkan dengan gitar.

Saya tulis lah itu satu per satu di kertas yang saya sobek dari buku (iyesss…. saiyah memang old skool banget). Mulai dari lirik, chord, sampai cara memainkannya di gitar.

Setelah itu, baru saya belajar memainkan gitar.

Hasilnya?

Bantalan jari yang sakit (karena menekan senar gitar)…. dan kegembiraan karena bisa memainkan dua baris lirik lagu! 😂😂😂

****

Daripada kelamaan menunggu saya bisa memainkan lagu ini, lebih baik menonton yang memang sudah jago menyanyi dan memainkan lagu ini dengan gitar aja, yuk!

Menikmati Hidup tanpa ART

Selama beberapa tahun belakangan, keluarga kami sempat hidup tanpa ART. Kalau tidak salah sejak Anja kelas 2 SD (sekitar 6 tahun) dan Yoda di KB (sekitar 3 tahun). Sebelumnya, kami juga sempat on and off terkait ART, jadi sebenarnya hidup tanpa ART bukanlah hal baru bagi kami.

Ibu mertua sebetulnya beberapa kali berbaik hati menawarkan ART lewat yayasan atau penyalur ART langganannya, tapi saya sudah kapok ber-ART, kecuali kalau orangnya sudah saya kenal baik. Bukan apa-apa, beberapa kali saya mendapatkan ART ajaib dari yayasan, penyalur, atau apapun namanya itu, mulai dari yang maling kelas teri, ART halu kelas kakap, pengadu domba, tukang ghibah, sampai yang meninggalkan kedua anak saya sendirian di rumah pun pernah saya rasakan. Keajaiban ART ini bisa berjilid-jilid kalau ditulis (semoga suatu hari nanti datang hilal menulisnya, hahaha). Jadi, ada masanya saya sempat ‘alergi’ mendengar kata ART.

Kalau paksu, ia sesungguhnya agak galau dengan per-ART-an ini. Di satu sisi, ia merasa perlu mempekerjakan ART mengingat kesibukan dan kebutuhan kami untuk bekerja di kantor, sementara anak-anak masih kecil-kecil dan masih perlu pengawas. Di sisi lain, ia juga agak trauma dengan segala ‘kelucuan’ ART yang pernah bekerja pada kami. Akhirnya, kami berdua sepakat untuk woles saja mengenai per-ART-an. Kalau ada yang kira-kira sreg di hati, ya diambil, kalau tidak ya terus saja tanpa ART. Gak perlu ada rasa pakewuh untuk menolak ART yang ditawarkan sang ibu mertua, jika gut feeling merasa gak sreg.

Dalam hati saya sebenarnya mengerti, paksu lebih memilih untuk mempekerjakan ART. Dia tidak tega saya kelimpungan pagi-pagi menyiapkan sarapan dan bekal anak-anak tanpa ada yang membantu. Belum lagi adanya pekerjaan rumah yang menumpuk sepulang saya dari kantor. Yang lebih krusial, kesulitan terbesar kami adalah anak-anak yang setelah pulang sekolah harus dipikirkan pengaturannya bila kami berdua ngantor. Namun, saya yang masih kapok dengan segala drama ART yang konflik dan plot twist-nya melebihi drakor lebih memilih untuk hidup santuy tanpa ART.

Keluarga kami diuntungkan dengan kondisi paksu yang bekerja sebagai konsultan. Dengan demikian, ia memiliki waktu yang cukup fleksibel dibandingkan saya yang bekerja penuh waktu di kantor. Namun demikian, ada kalanya ia harus bekerja di siang hari selepas anak-anak pulang sekolah. Kalau begini, kami berdua lumayan pening memikirkan pengaturan anak-anak yang tidak mungkin ditinggal di rumah tanpa adanya kehadiran orang dewasa.

Mengapa tidak minta bantuan mertua?

Saya dan paksu sepakat untuk sebisa mungkin tidak merepotkan mertua (orang tua saya sudah meninggal sejak sebelum saya menikah) dengan menitipkan anak kami pada mereka, baik secara rutin maupun sesekali. Mertua saya sih dengan senang hati akan mengasuh anak-anak sepulang mereka dari sekolah. Namun, kami ingin mereka menikmati bermain dengan kedua cucu mereka tanpa ada embel-embel keharusan untuk mengasuh karena kedua orang tua sang cucu harus bekerja di kantor. Dengan demikian, meskipun cukup jamak untuk menitipkan cucu kepada sang nenek, menitipkan anak kepada mertua was and is not an option for us.

Jadi, demi kemaslahatan bersama dan pikiran yang sehat tanpa stres karena drakor a la ART, kami memutuskan untuk mengelola rumah tangga tanpa ART. Namun, bukan berarti kami sama sekali menutup opsi untuk mempekerjakan ART yaaaa. Kalau di status relationship atau mencari pekerjaan, status kami adalah not actively looking. Kalau gak ada ya gak apa-apa, kalau ada dan sreg di hati ya kami terima (walaupun untuk yang ini saya sesungguhnya agak-agak reluctant).

Hidup tanpa ART ini sebenarnya bukan juga tanpa drama, apalagi usia anak kami masih relatif muda. Cukup banyak stok sabar di lemari yang perlu dikeluarkan untuk menghadapi tingkah polah anak-anak. Kami juga harus menyesuaikan banyak hal agar hidup berjalan dengan cukup nyaman dan damai. Alhamdulillah, meskipun banyak juga cerita duka, lebih banyak lagi cerita suka selama kami hidup berempat saja di rumah.

Rahasianya? Tidak ada trik yang istimewa sih. Kami hanya menerapkan beberapa hal di bawah ini.

Continue reading “Menikmati Hidup tanpa ART”

Membentuk Karakter melalui Stimulasi Baca Tulis dan Literasi Digital

The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go

Dr. Seuss, I Can Read With My Eyes Shut!

Anak kedua saya, Yoda, merupakan anak yang luar biasa aktif, dan bahkan cenderung tidak bisa diam. Energinya seakan tiada habisnya, sampai kadang saya tertakjub-takjub karena energinya seperti telepon genggam yang baru di-charge. Dulu, saat sebelum pandemi, kami biasa mengikutkannya dalam berbagai kegiatan olahraga untuk menghabiskan energinya dan membuatnya tenang. Karena selama pandemi ini kegiatan di luar ruangan dibatasi, saya harus memutar otak untuk mengakomodasi kebutuhannya untuk beraktivitas, tetapi dapat dilakukan di dalam rumah. Selama ini, hanya beberapa hal yang bisa membuatnya anteng, dan salah satunya adalah membaca.

Membaca memang merupakan aktivitas yang gampang-gampang susah. Gampang karena tidak memerlukan perlengkapan yang rumit (hanya modal buku, hehehe) ataupun tempat yang luas dan khusus, tetapi kadang menyulitkan karena belum tentu kita bisa ‘istiqomah’ dalam menjalankannya.

Konsistensi itulah yang saya coba pertahankan selama sebulan terakhir ini, dan ternyata untuk menjalankan kegiatan membaca secara rutin diperlukan kiat tertentu.

Continue reading “Membentuk Karakter melalui Stimulasi Baca Tulis dan Literasi Digital”
Create your website with WordPress.com
Get started