
Sudah genap satu term ini saya menemani anak-anak menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan merasakan banyak suka dan duka dalam membersamai mereka belajar dari rumah. Mulai dari betapa gerabak-gerubuknya saat pertama kali meng-install aplikasi, sampai sebegitu deg-degannya mendampingi mereka selama ujian semester secara online.
Anak-anak saya saat ini masih kelas 4 SD dan TK-B, yang secara umum masih memerlukan pendampingan dan arahan dari orang tua. Mungkin berbeda kasusnya bila anak-anak sudah lebih besar. Pendampingan saya tentunya tidak akan sedekat ini.
Dalam 3 bulanan terakhir, saya banyak belajar. Virus Corona yang melanda secara tiba-tiba dan memaksa kita semua untuk menerima protokol dan prosedur baru membuat saya tergopoh-gopoh beradaptasi dengan segala perubahan ini. Dan, setelah menyelesaikan satu siklus, saya bisa merenungkan apa yang telah saya lakukan sehingga meskipun awalnya terkaget-kaget, akhir dari pembelajaran jarak jauh di tahun ajaran ini berbuah manis.
Siapkan jadwal pengumpulan tugas untuk tiap mata pelajaran

Saat pertama kali PJJ dilaksanakan, kebanyakan sekolah belum melaksanakan pembelajaran secara daring dengan paripurna. Sekolah Anja, saat itu masih melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara sporadis. Antara satu mata pelajaran dan mata pelajaran lainnya belum standard, dalam artian cara menjalankan sesi kelasnya. Sepertinya saat itu sekolah masih berharap banyak bahwa sesi online hanya dilakukan secara singkat (misalnya hanya selama seminggu atau dua minggu, dan setelah itu sekolah berjalan normal), dan karenanya tidak terlalu mempengaruhi jalannya kelas secara umum.
Yang saya ingat, saat itu WAG kelas banyak dipenuhi pertanyaan orang tua yang kebingungan mengingat tenggat tugas tiap mata pelajaran. Untungnya, dari awal saya membuat list tugas yang diberikan lengkap dengan tenggat dan metode pengumpulan yang diminta. Saya pun memberikan kode berwarna yang memudahkan saya untuk menelusuri status tugas yang diberikan: belum dikerjakan dan sudah mendekati tenggat (warna merah), sudah dikerjakan tapi belum dicek (warna kuning), atau sudah dicek dan dikumpulkan (warna hijau).
Lakukan semua instalasi aplikasi dengan segera di beberapa gawai sekaligus
Saat pertama kali PJJ dilaksanakan, sekolah Anja mengumumkan bahwa mereka akan menggunakan Edmodo, suatu platform pembelajaran daring yang umum digunakan selain Google Classroom. Saat itu saya segera mengunduh aplikasinya di ponsel saya dan memasang bookmark di laptop yang digunakan untuk PJJ ini. Hari itu, saya juga langsung bergabung di kelas yang disediakan dengan menggunakan kode yang diberikan. Karena hari itu juga saya mengunduh aplikasi dan bergabung dengan kelasnya, saya menyadari bahwa ada kode yang salah diketik oleh sekolah sehingga tidak bisa digunakan untuk mendaftar di salah satu kelas. Karena waktunya masih cukup untuk melaporkan ke sekolah dan menunggu respons mereka mengenai kode yang seharusnya, saya jadi tidak perlu panik karena gagal mendaftar di kelas tersebut. Mengurangi panik di saat kita diharuskan untuk beradaptasi dengan cara baru sangatlah diperlukan.
Selain itu, saya sengaja melakukan instalasi di beberapa gawai karena saya khawatir bila ada kesulitan atau masalah dengan salah satu media, saya masih punya back-up. Instalasi ini saya lakukan dengan rumus n+1, dengan ‘n’ adalah jumlah anak yang melakukan PJJ. Karena saya memiliki 2 anak, saya melakukan instalasi di 3 gawai, yang terdiri dari 2 laptop dan 1 ponsel. Apabila memungkinkan, instalasi di beberapa gawai ini memang baik untuk dilakukan. Dalam kasus saya, pemikiran ini terbukti bermanfaat di kemudian hari. Untuk mengunggah tugas (yang perlu melampirkan file atau foto) saya merasa lebih mudah dilakukan dengan ponsel, sementara untuk mengikuti kelasnya tentunya lebih nyaman bila melalui komputer jinjing. Pernah pula salah satu laptop bermasalah dan tidak bisa mengakses video serta Google Meet. Saya alihkan sesi hari itu ke laptop satunya sembari menelusuri kenapa hari itu laptop yang biasa digunakan ngambek.
Tugas orang tua adalah memberi arahan, bukan mengerjakan tugas anak
Kadang, sebagai orang tua kita tergoda untuk membantu anak sebisa kita, termasuk ‘berkontribusi’ terlalu besar dalam tugas-tugas anak (baca: mengerjakan tugas anak). Hal ini baiknya dihindari. Selain bahwa guru pastinya akan menyadari bahwa yang dikumpulkan adalah hasil karya orang tua, memaksakan diri untuk melakukan hal ini pun bisa membuat energi (fisik dan mental) orang tua terkuras. Kalau sudah begini, suasana rumah pasti tidak menyenangkan. Ini pula yang menyebabkan beberapa orang tua merasa bahwa PJJ sangat membebani orang tua (walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa metode PJJ yang dilakukan sekolah kurang tepat — yang akan dibahas di bawah).
Cek tugas anak secara berkala
Di beberapa aplikasi learning platform, lewat parent account kita bisa mengecek tugas apa saja yang diberikan oleh guru (termasuk tenggatnya) serta apakah anak kita sudah mengumpulkan tugas tersebut. Setiap hari, saya mengecek apakah dalam waktu dekat anak saya harus mengumpulkan tugas serta apakah ada tugas yang diberikan oleh guru selepas pembelajaran di hari tersebut. Setelah itu, saya hanya mengingatkan anak saya untuk mengerjakan tugasnya.
Latihan, latihan, dan latihan
Satu hal yang saya sadari dalam PJJ ini adalah pola belajar yang perlu disesuaikan. Kalau sebelumnya, Anja mengerjakan beberapa PR atau latihan sekaligus sehingga dalam sehari bisa belajar dalam waktu yang cukup lama. Selama PJJ ini saya menyesuaikan pola belajar atau mengerjakan PR menjadi beberapa kali sehari. Keseharian yang hanya di rumah saja saya lihat membuat anak cepat bosan. Jadi, pola belajarnya menjadi lebih sering, namun dalam waktu yang singkat. Kalau sebelumnya bisa mengerjakan 2 PR sekaligus, selama PJJ ini kadang 1 PR pun (kalau soalnya banyak) kadang saya pecah menjadi 2 kali, yang di tengah-tengahnya diselingi bermain.
Jumlah jam belajar di sekolah yang menjadi lebih singkat pun saya lihat memerlukan porsi latihan yang lebih banyak, apalagi kesempatan guru untuk benar-benar memastikan anak didiknya mengerti bahan ajar pun lebih sedikit. Latihan di rumah dapat membantu saya memahami apakah anak saya sudah mengerti materi yang diajarkan atau belum. Apabila belum, saya akan menambahkan porsi belajarnya, tentunya dengan waktu yang lebih singkat per sesi belajar agar anak tidak mudah bosan.
Berkomunikasi dengan sekolah bila dirasa PJJ yang dijalankan sekolah kurang tepat
Alhamdulillah, PJJ yang diselenggarakan oleh sekolah Anja, di luar segala kekurangannya, sudah cukup memadai. Namun, saya mendengar beberapa teman yang kurang puas dengan penyelenggaraan PJJ oleh sekolah anak mereka. Ada yang merasa bahwa jamnya terlalu sedikit (tidak sebanding dengan materi yang harus dipelajari), dan ada pula yang merasa bahwa tugas yang diberikan tidak sesuai untuk anak.
Baiknya, hal ini dikomunikasikan dengan sekolah yang bersangkutan. PJJ kali ini adalah PJJ yang tidak direncanakan. Kita semua masih tergagap-gagap untuk menyesuaikan diri dengan situasi terkini. Ada yang cepat beradaptasi, namun sayangnya ada pula yang kesulitan untuk menyesuaikan diri. Semoga dengan komunikasi yang baik segala halangan ini bisa terjembatani, meskipun masih jauh dari ideal.
****
Saya sendiri sekarang masih H2C (harap-harap cemas) dalam menghadapi tahun ajaran baru nanti. Kalau kemarin rata-rata orang tua masih WFH (work from home), nanti mulai Juli sepertinya sudah lumayan banyak yang bertransisi untuk kembali bekerja di kantor seperti saat sebelum pandemi melanda. Hal ini pasti akan menjadi tantangan baru untuk ke depannya. Namun, mumpung masih liburan sekolah, saya memilih untuk menikmati hari-hari santai tanpa PJJ 🙂
#sekolah
#BelajarDariRumah



