Tips Sukses Membersamai Anak selama PJJ

Pembelajaran Jarak Jauh selama pandemi COVID-19

Sudah genap satu term ini saya menemani anak-anak menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan merasakan banyak suka dan duka dalam membersamai mereka belajar dari rumah. Mulai dari betapa gerabak-gerubuknya saat pertama kali meng-install aplikasi, sampai sebegitu deg-degannya mendampingi mereka selama ujian semester secara online.
Anak-anak saya saat ini masih kelas 4 SD dan TK-B, yang secara umum masih memerlukan pendampingan dan arahan dari orang tua. Mungkin berbeda kasusnya bila anak-anak sudah lebih besar. Pendampingan saya tentunya tidak akan sedekat ini.

Dalam 3 bulanan terakhir, saya banyak belajar. Virus Corona yang melanda secara tiba-tiba dan memaksa kita semua untuk menerima protokol dan prosedur baru membuat saya tergopoh-gopoh beradaptasi dengan segala perubahan ini. Dan, setelah menyelesaikan satu siklus, saya bisa merenungkan apa yang telah saya lakukan sehingga meskipun awalnya terkaget-kaget, akhir dari pembelajaran jarak jauh di tahun ajaran ini berbuah manis.

Siapkan jadwal pengumpulan tugas untuk tiap mata pelajaran

Contoh jadwal pengumpulan tugas yang saya buat

Saat pertama kali PJJ dilaksanakan, kebanyakan sekolah belum melaksanakan pembelajaran secara daring dengan paripurna. Sekolah Anja, saat itu masih melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara sporadis. Antara satu mata pelajaran dan mata pelajaran lainnya belum standard, dalam artian cara menjalankan sesi kelasnya. Sepertinya saat itu sekolah masih berharap banyak bahwa sesi online hanya dilakukan secara singkat (misalnya hanya selama seminggu atau dua minggu, dan setelah itu sekolah berjalan normal), dan karenanya tidak terlalu mempengaruhi jalannya kelas secara umum.

Yang saya ingat, saat itu WAG kelas banyak dipenuhi pertanyaan orang tua yang kebingungan mengingat tenggat tugas tiap mata pelajaran. Untungnya, dari awal saya membuat list tugas yang diberikan lengkap dengan tenggat dan metode pengumpulan yang diminta. Saya pun memberikan kode berwarna yang memudahkan saya untuk menelusuri status tugas yang diberikan: belum dikerjakan dan sudah mendekati tenggat (warna merah), sudah dikerjakan tapi belum dicek (warna kuning), atau sudah dicek dan dikumpulkan (warna hijau).

Lakukan semua instalasi aplikasi dengan segera di beberapa gawai sekaligus

Saat pertama kali PJJ dilaksanakan, sekolah Anja mengumumkan bahwa mereka akan menggunakan Edmodo, suatu platform pembelajaran daring yang umum digunakan selain Google Classroom. Saat itu saya segera mengunduh aplikasinya di ponsel saya dan memasang bookmark di laptop yang digunakan untuk PJJ ini. Hari itu, saya juga langsung bergabung di kelas yang disediakan dengan menggunakan kode yang diberikan. Karena hari itu juga saya mengunduh aplikasi dan bergabung dengan kelasnya, saya menyadari bahwa ada kode yang salah diketik oleh sekolah sehingga tidak bisa digunakan untuk mendaftar di salah satu kelas. Karena waktunya masih cukup untuk melaporkan ke sekolah dan menunggu respons mereka mengenai kode yang seharusnya, saya jadi tidak perlu panik karena gagal mendaftar di kelas tersebut. Mengurangi panik di saat kita diharuskan untuk beradaptasi dengan cara baru sangatlah diperlukan.

Selain itu, saya sengaja melakukan instalasi di beberapa gawai karena saya khawatir bila ada kesulitan atau masalah dengan salah satu media, saya masih punya back-up. Instalasi ini saya lakukan dengan rumus n+1, dengan ‘n’ adalah jumlah anak yang melakukan PJJ. Karena saya memiliki 2 anak, saya melakukan instalasi di 3 gawai, yang terdiri dari 2 laptop dan 1 ponsel. Apabila memungkinkan, instalasi di beberapa gawai ini memang baik untuk dilakukan. Dalam kasus saya, pemikiran ini terbukti bermanfaat di kemudian hari. Untuk mengunggah tugas (yang perlu melampirkan file atau foto) saya merasa lebih mudah dilakukan dengan ponsel, sementara untuk mengikuti kelasnya tentunya lebih nyaman bila melalui komputer jinjing. Pernah pula salah satu laptop bermasalah dan tidak bisa mengakses video serta Google Meet. Saya alihkan sesi hari itu ke laptop satunya sembari menelusuri kenapa hari itu laptop yang biasa digunakan ngambek.

Tugas orang tua adalah memberi arahan, bukan mengerjakan tugas anak

Kadang, sebagai orang tua kita tergoda untuk membantu anak sebisa kita, termasuk ‘berkontribusi’ terlalu besar dalam tugas-tugas anak (baca: mengerjakan tugas anak). Hal ini baiknya dihindari. Selain bahwa guru pastinya akan menyadari bahwa yang dikumpulkan adalah hasil karya orang tua, memaksakan diri untuk melakukan hal ini pun bisa membuat energi (fisik dan mental) orang tua terkuras. Kalau sudah begini, suasana rumah pasti tidak menyenangkan. Ini pula yang menyebabkan beberapa orang tua merasa bahwa PJJ sangat membebani orang tua (walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa metode PJJ yang dilakukan sekolah kurang tepat — yang akan dibahas di bawah).

Cek tugas anak secara berkala

Di beberapa aplikasi learning platform, lewat parent account kita bisa mengecek tugas apa saja yang diberikan oleh guru (termasuk tenggatnya) serta apakah anak kita sudah mengumpulkan tugas tersebut. Setiap hari, saya mengecek apakah dalam waktu dekat anak saya harus mengumpulkan tugas serta apakah ada tugas yang diberikan oleh guru selepas pembelajaran di hari tersebut. Setelah itu, saya hanya mengingatkan anak saya untuk mengerjakan tugasnya.

Latihan, latihan, dan latihan

Satu hal yang saya sadari dalam PJJ ini adalah pola belajar yang perlu disesuaikan. Kalau sebelumnya, Anja mengerjakan beberapa PR atau latihan sekaligus sehingga dalam sehari bisa belajar dalam waktu yang cukup lama. Selama PJJ ini saya menyesuaikan pola belajar atau mengerjakan PR menjadi beberapa kali sehari. Keseharian yang hanya di rumah saja saya lihat membuat anak cepat bosan. Jadi, pola belajarnya menjadi lebih sering, namun dalam waktu yang singkat. Kalau sebelumnya bisa mengerjakan 2 PR sekaligus, selama PJJ ini kadang 1 PR pun (kalau soalnya banyak) kadang saya pecah menjadi 2 kali, yang di tengah-tengahnya diselingi bermain.

Jumlah jam belajar di sekolah yang menjadi lebih singkat pun saya lihat memerlukan porsi latihan yang lebih banyak, apalagi kesempatan guru untuk benar-benar memastikan anak didiknya mengerti bahan ajar pun lebih sedikit. Latihan di rumah dapat membantu saya memahami apakah anak saya sudah mengerti materi yang diajarkan atau belum. Apabila belum, saya akan menambahkan porsi belajarnya, tentunya dengan waktu yang lebih singkat per sesi belajar agar anak tidak mudah bosan.

Berkomunikasi dengan sekolah bila dirasa PJJ yang dijalankan sekolah kurang tepat

Alhamdulillah, PJJ yang diselenggarakan oleh sekolah Anja, di luar segala kekurangannya, sudah cukup memadai. Namun, saya mendengar beberapa teman yang kurang puas dengan penyelenggaraan PJJ oleh sekolah anak mereka. Ada yang merasa bahwa jamnya terlalu sedikit (tidak sebanding dengan materi yang harus dipelajari), dan ada pula yang merasa bahwa tugas yang diberikan tidak sesuai untuk anak.

Baiknya, hal ini dikomunikasikan dengan sekolah yang bersangkutan. PJJ kali ini adalah PJJ yang tidak direncanakan. Kita semua masih tergagap-gagap untuk menyesuaikan diri dengan situasi terkini. Ada yang cepat beradaptasi, namun sayangnya ada pula yang kesulitan untuk menyesuaikan diri. Semoga dengan komunikasi yang baik segala halangan ini bisa terjembatani, meskipun masih jauh dari ideal.

****
Saya sendiri sekarang masih H2C (harap-harap cemas) dalam menghadapi tahun ajaran baru nanti. Kalau kemarin rata-rata orang tua masih WFH (work from home), nanti mulai Juli sepertinya sudah lumayan banyak yang bertransisi untuk kembali bekerja di kantor seperti saat sebelum pandemi melanda. Hal ini pasti akan menjadi tantangan baru untuk ke depannya. Namun, mumpung masih liburan sekolah, saya memilih untuk menikmati hari-hari santai tanpa PJJ 🙂

#sekolah
#BelajarDariRumah

Sang Maling

“Aaaaaaarrrrggghhhh…..!!! Siapa nih yang makan ikan gorengkuuuu….???”

Pagi yang senyap mendadak jadi bising. Aku menutup kupingku. Tak tahan rasanya mendengar suara senyaring itu sepagi ini. Terdengar suara langkah kaki diseret. Uuuhh, aku segera menyingkir. Takut terkena imbas amukan boss besar di pagi yang sebenarnya indah ini.

“Mamaaaa……!” bossku berteriak lagi. “Kenapa ikan goreng Ika gak ada? Siapa yang makaaaan??” Mukanya merah menahan geram.  Ibu Susi, yang dipanggil mama oleh bossku, menoleh bingung. “Gak ada? Bukannya ada di meja? Mama taruh di situ kok tadi,” jawabnya sambil berjalan ke meja makan. “Mama taruh di sam…..” Ibu Susi kemudian tertegun, “Iya ya… Barusan mama taruh di meja… kok sekarang gak ada ya?”

Bossku melihat sekeliling. Mencari-cari ke bawah meja, lalu ke arah jendela yang terbuka, dan tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesuatu. Ia berseru, ”Itu dia Ma…!! Itu dia malingnya…!!” Tangannya menunjuk kepada suatu sosok di halaman: seekor kucing berwarna belang hitam-putih yang sedang asyik menikmati sepotong ikan di balik perdu. Memang tidak terlalu jelas karena sebagian badannya terhalang perdu, tapi masih bisa terlihat kalau sang tersangka sedang mengunyah ikan dengan nikmatnya. Terlihat sedikit ekor ikan menyembul keluar dari mulutnya.

Bossku segera berlari. Di tangannya tergenggam sapu lidi. Merah padam wajahnya. Ikan goreng kesukaannya disikat kucing tak bertuan. Sayang, Si Belang sadar kalau si empunya ikan sedang berlari penuh dendam padanya. Ia pun segera berlari menjauh. Meloncat ke pohon mangga, lalu menghilang di balik tembok. Tinggal bossku yang berjalan mondar-mandir memegangi sapu lidi sambil terus mengomel karena buruannya kabur.

****

Si Belang itu memang kucing baru di sini. Ia baru menampakkan diri beberapa minggu yang lalu. Entah siapa pemiliknya. Tidak ada yang tahu. Mungkin juga ia bukan milik siapa-siapa. Setelah ia datang, suasana rumah kadang memanas. Ada saja lauk yang menghilang, seakan ada yang menyulap. Barusan ada, sekarang lenyap. Memang tidak setiap hari, tapi dalam seminggu ada saja yang hilang. Jumat lalu ayam goreng bumbu kuning yang tahu-tahu hilang dari atas meja makan, dan hari ini ikan tongkol goreng. Entah berikutnya apa.

Aku juga tidak mengerti. Apa yang disenangi dari ayam ataupun ikan goreng. Bagiku, semua itu tidak enak. Baunya terlalu menyengat. Uuuggh…! Membayangkannya saja aku harus menutup hidungku. Tak tahan dengan baunya. Jauh lebih enak makananku ini. Makanan kering khusus kucing. Hmmm…. Lezat dan menggugah selera. Apalagi, bossku membelikanku makanan yang premium. Tidak tanggung-tanggung harganya. Kalau kata bossku, harga makananku jauh lebih mahal dari ayam. Padahal beratnya sama-sama satu kilogram. Tapi, katanya lagi, tidak apa. Biarlah agak mahal, toh sepadan dengan aku yang kucing persia, tambahnya. Terlebih, menurut penjualnya, merek yang bossku beli ini bisa membuat buluku tumbuh sempurna. Mengkilat, licin, dan halus.

****

Pagi ini aku sudah jauh-jauh menyingkir. Aku yang di Minggu pagi biasanya duduk santai sembari mengantuk di depan televisi, kali ini bersembunyi di bawah kursi. Seakan tahu kalau sebentar lagi bakal pecah perang dunia.

Tak lama, terdengar suara berisik dari arah ruang makan. Kali ini Ibu Susi yang meradang. Ikan asinnya hilang. Kudengar, dari satu piring penuh, hanya tersisa beberapa gelintir ikan asin. Jelas pasti murka. Ikan asin yang sedianya disiapkan untuk teman makan sayur asem bersama tahu dan tempe kini lenyap ditelan bumi.

Kulihat Ika, bossku, berjalan ke arah teras. Pasti mencari Si Belang, yang sudah diincarnya sejak lama. Sudah siap amunisi rupanya. Kuintip ia membawa sapu lidi di tangan kiri dan segayung air di tangan kanan.

Setelah sesekali menengok ke kanan-kiri, sekarang ia berhenti. Ia lalu berjalan berjingkat-jingkat. Sudah menemukan buruannya kelihatannya. Bossku berjalan mengendap-endap, bersembunyi di balik tembok. Dilihatnya Si Belang, yang sedang menjilat-jilat kaki depannya, duduk di dekat tembok pembatas halaman samping. “Sial! Sudah dihabiskan rupanya ikan asin buatan mama,” bossku merutuk. Tambah dendam sepertinya bossku ini terhadap Si Belang. Langsung disiramnya segayung air dingin yang disiapkannya. Namun, Si Belang sempat menghindar, lalu lari ke menuju pohon mangga. Bossku buru-buru  melemparkan sapu lidi, takut Si Belang melompat lagi ke pohon mangga, lalu kabur ke rumah tetangga seperti saat pertempuran sebelumnya. Ups! Meleset lagi.

Amarah bossku semakin memuncak. Segera diambilnya sandal jepit. Entah sisi yang kiri atau yang kanan. Ia tak peduli. Dibidiknya kucing belang hitam-putih itu, lalu dilemparnya sandal kuat-kuat. “Takk…!” bunyi yang keras, tapi sayangnya masih meleset. Malah mengenai vas bunga yang sekarang oleng dan jatuh terguling. Tambah geram rupanya boss kesayanganku ini. Kali ini diambilnya pasangan sandal jepit yang satunya, dan segera dilempar sekenanya ke arah Si Belang yang bersiap mengendap-endap meloncat ke pohon mangga. “Pletakkk..!” kali ini kena punggungnya. “Yesss…!!” bossku berseru gembira, “Biar kapok dia!” Tinggal Si Belang kulihat meringis kesakitan sembari lari melesat ke pohon mangga dan menghilang di balik tembok.

****

Rumah sudah sepi. Setelah insiden ikan asin, bossku dan keluarganya memutuskan untuk makan di luar. Kesal sekali rupanya Ibu Susi pagi ini. Musnah sudah minatnya untuk makan bersama sembari bersantai di rumah. Ia berharap, makan di restoran sembari jalan-jalan di mall bisa mengobati kekesalannya karena pagi-pagi sudah kerampokan ikan asin.

Aku, yang ditinggal sendirian di rumah, pelan-pelan berjalan ke belakang. Menengok sebentar ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada siapa pun di sekitarku, lalu meneruskan berjalan ke ujung halaman. Dari balik pohon perdu kukeluarkan harta karunku: setumpuk ikan asin yang baru tadi pagi digoreng Ibu Susi. Hmmmm…. Lezatnyaaaa….. Bau menyengat yang biasanya kuhindari kini malah kucari. Baru tahu aku nikmatnya dunia.

Maafkan aku, Belang. Aku tahu, pasti sakit tadi punggungmu dilempar sandal. Akan kubagi kau ikan asin ini sebagai permintaan maafku karena menjadikanmu tertuduh, padahal kau tak bersalah.

#RBMChallenge
#RBMApaJudulCeritamu
#fiksi

Drive Responsibly, Please

Saat pagi ini membuka FB, saya diingatkan oleh Mas Mark Zuckerberg soal kejadian 4 tahun lalu waktu paksu ditabrak motornya dari depan oleh 2 emak yang tidak bertanggung jawab: menyetir motor sambil menengok belakang gegara asik ngobrol berdua, jelas pastinya tidak liat jalan, tidak pakai helm, dan mengambil jalan orang lain. Begitu menabrak, bukannya menolong (karena toh salah dia kaaaan), malah ngegas. Pingin banget doain itu 2 emak buruan ketemu sama Tuhan…. Mana peduli mereka dengan efek kecelakaan ini yang ternyata cukup panjang.

Alhamdulillah masih ada saksi mata, mas-mas Gojek yang membantu menyimpankan motor yang babak-belur (dan balik ngegas ke si emak gak bertanggung jawab itu) dan supir mobil Fortuner yang baik banget nolongin bawa paksu ke klinik terdekat. Sayang, pas saya sampai, orang baik ini sudah tidak ada. Terima kasih juga pada pemilik mobil Fortuner yang meminta supirnya untuk mengantar paksu. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mas-mas semua dengan berlipat ganda 🤲🏻

Saya, yang tadinya sudah dalam perjalanan untuk menjadi pembicara di sebuah workshop di suatu universitas langsung putar balik begitu mendengar berita ini. Saya segera menelepon ibu kaprodi penyelenggara workshop dan mengabarkan kalau saya akan datang terlambat karena adanya musibah tadi. Si ibu penyenggara amatlah pengertian, bahkan menawarkan untuk menjadwalkan ulang workshop-nya ke lain waktu. Tapi, tentunya tidak etis untuk membatalkan mendadak. Saya hanya minta diundurkan 30 menit saja.

Saya segera ke klinik, dan melihat bahwa paksu sedang ditangani dokter. Kakinya sobek dekat jari dan akhirnya dijahit sebanyak 16 jahitan… yang sebenarnya tidak terlalu besar, tapi karena sobeknya tidak rata dan berbelok-belok, jahitannya juga tidak bisa rapi. Selain itu, pergelangan dan jari tangan pun sempat retak dan memerlukan pengobatan. Belum lagi memar dan lebam di beberapa tempat.

Dua minggu setelah kejadian ini, adik saya menikah. Beskap dan perlengkapan lainnya yang sudah disiapkan jadi menganggur. Datang ke akad nikah dan resepsi pakai kruk. Berjalan pun tidak mudah karena masih diperban.

Lukanya juga tidak kering-kering, selalu basah, sampai akhirnya setelah sebulanan luka ini dikerok oleh dokter bedah. Setiap hari saya bersihkan lukanya, serta saya ganti kassa obat yang menutupi lubang lukanya dan perban di luarnya. Kelihatannya mudah, tapi sungguh memerlukan ketelatenan. Pernah pula ada masanya kassa obat sulit ditemukan di apotik dan rumah sakit sekitar tempat tinggal kami sehingga kami harus membelinya di tempat yang lumayan jauh.

Lukanya baru mengering dan sembuh setelah sekitar 3 bulan. Namun, sampai sekarang, bila udara dingin, bekas luka tersebut terasa ngilu. Kalau kata dokter yang merawat, itu karena ada syaraf yang tidak tersambung.

….dan semua ini hanya karena ada emak-emak berboncengan motor tanpa helm yang asik nggosip ketawa-ketiwi sambil nyetir tanpa liat jalan 😔😒

Sensasi Terima Rapor di Masa Pandemi

Berbincang dengan guru mengenai kemajuan belajar secara daring

Masa pandemi COVID-19 ini memang menjadikan tahun 2020 ini tahun yang istimewa, baik bagi guru, siswa, orang tua, maupun staff sekolah. Banyak hal yang dulunya biasa dilakukan, kali ini menjadi tidak mungkin dilaksanakan sehingga harus dicarikan cara baru untuk mengakomodasi aktivitas tersebut, yang sekarang ini disebut sebagai kenormalan atau kelaziman baru (new normal).

Setelah bertahun-tahun pembagian rapor selalu dilakukan secara langsung, tahun ini pembagian rapor harus dilaksanakan secara online, termasuk pembahasan kemajuan belajar siswa dengan guru mereka. Anak saya, Anja, minggu ini menerima rapor kenaikan kelasnya. Kami sebagai orang tua yang biasanya menerima undangan pembagian rapor berdasarkan slot dari sekolah (dibagi dalam jadwal tertentu), kali ini menerima informasi bahwa rapor akan dikirimkan melalui email. Lalu bagaimana dengan PTC (Parent Teacher Conference) yang intinya adalah diskusi dengan guru terkait kemajuan belajar siswa? Orang tua akan menerima undangan untuk melakukan online booking melalui Google Form beberapa hari sebelum rapor dikirimkan via email.

Jadi, Jumat tanggal 5 Juni lalu saya menerima informasi berisi nama guru-guru dan mata pelajaran yang diampu, tautan ke Google Form untuk melakukan pemilihan jadwal diskusi dengan guru, serta tautan untuk melakukan video call melalui melalui Google Meet di jadwal yang dipilih. Karena pemilihan jadwal dilakukan berdasarkan azas siapa cepat dia dapat (hehehe…) alias first come first served basis, saya pun segera melakukan pemilihan jadwal. Setelah memilih jadwal (jadwal tidak bisa dipilih 2 kali oleh orang yang berbeda), saya mencatat jadwal yang saya pilih secara manual. Hal ini karena saya tidak menerima notifikasi otomatis mengenai jadwal yang saya pilih. Setelah itu, saya tinggal duduk manis menunggu rapor dikirim (Senin tanggal 8 Juni kemarin rapor dikirim via email), lalu orang tua bisa melakukan video call di tanggal 9-10 Juni bergantung dari jadwal yang dipilih.

Pagi tanggal 9 Juni saya melakukan marathon video call dengan para guru pengampu (jadwal PTC sebagian besar saya atur di hari ini), yang masing-masing pertemuan diberikan waktu sebanyak 30 menit. Dari waktu 30 menit yang disediakan, kebanyakan saya dan paksu hanya memerlukan sekitar 15-20 menit untuk berbincang dengan guru sembari menggali potensi dan kesulitan belajar anak saya di tahun ajaran ini. Hanya dengan beberapa guru saya dan paksu menghabiskan waktu 30 menit, termasuk salah satunya dengan guru wali kelas yang akan pindah ke sekolah lain di tahun ajaran depan (hiks, jadi sediiiih….).

Rasanya ada sesuatu yang berbeda. Menyapa guru melalui layar laptop dan bukannya menyapa langsung. Namun demikian, kelaziman baru ini tidak mengurangi hangatnya sapaan para guru terhadap kami. Rupanya para guru ini melakukan PTC dari lokasi yang berbeda-beda. Ada yang dari rumah, namun tidak jarang pula yang melaksanakannya dari sekolah. Saya lihat, yang menjalankan PTC di sekolah diatur sedemikian rupa sehingga tiap ruangan hanya berisi satu guru.

Dari segi isi diskusi, saya tidak melihat ada perbedaan antara PTC online maupun offline. Para guru telah siap dengan daftar nilai dan evaluasi kinerja anak didik mereka. Saya dan paksu pun merasa bahwa evaluasi serta umpan balik dari para guru sesuai dengan karakter anak saya, jadi saya yakin bahwa mereka memang mengenal dengan baik anak didik mereka.

Selain evaluasi atas tahun yang telah berjalan, kami juga menanyakan pendapat para guru mengenai tantangan di tahun ajaran depan. Karena di tahun ajaran mendatang Anja akan naik ke kelas 5, saya menanyakan topik apa yang biasanya sulit untuk dikuasai anak. Harapan saya, dengan adanya informasi ini saya dan paksu sebagai orang tua bisa lebih mempersiapkan Anja untuk menghadapi topik yang sulit tersebut. Toh liburan ini kami juga tidak bisa pergi ke mana-mana, hehehe…..

Setelah semua sesi hari ini selesai, meskipun kadang saya merasa ada sesuatu yang hilang karena PTC ini dilakukan secara daring, PTC ini juga mendatangkan beberapa kenyamanan. Yang pertama jelas, tidak perlu menghabiskan waktu untuk rapi-rapi berdandan cantik untuk pergi ke sekolah (saya bukan tim dandan, soalnya, hehehe….). Kedua, saya juga tidak perlu menghabiskan waktu di jalan untuk berjibaku dengan kemacetan (iyeesss…. biarpun ini masih PSBB, jalanan sudah mulai macet). Ketiga, rasa tidak nyaman selagi berdiskusi dengan guru karena tahu bahwa di belakang kami sudah ada pengantri lainnya jadi tidak ada. Soalnya, waktu diskusi dengan guru sudah terjadwal dengan jelas. Meskipun ada orang lain, kalau masih sesi kami ya tidak akan ada yang mengganggu diskusi ataupun menyerobot antrian. Terakhir, waktu yang kadang molor (karena diskusi yang terlalu panjang antara guru dan orang tua murid) sehingga antrian mengular pun tidak terjadi hari ini. Hal ini karena tiap slot telah diatur secara seksama dan diberikan waktu yang cukup. Guru dan orang tua pun lebih sadar waktu. Begitu mendekati injury time biasanya salah satu pihak akan dengan sopan menghentikan perbincangan sehingga semua sesi hari ini bisa dijalani tepat waktu.

Tapiiiii….. semenarik apapun sesi hari ini, tetap saya kangen sesi pengambilan rapor seperti biasanya. Kangen bertemu orang tua lain dan mengobrol santai di koridor sembari menunggu giliran berbincang dengan guru. Kangen pula bersalaman langsung dan duduk berhadap-hadapan dengan guru. Daaan…. meskipun kurang nyaman, saya pun kangen duduk di kursi sekolah yang ukurannya agak terlalu mini untuk ukuran orang dewasa 🙂

#sekolah
#DiRumahAja

Menelaah Peran Orang Tua dalam Model Pembelajaran Homeschooling

Menyambung tulisan sebelumnya tentang homeschooling, hari ini saya belajar sesuatu yang baru. Alternatif mendidik anak dengan model pembelajaran homeschooling rupanya sedang menjadi trending topic di antara para orang tua. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi COVID-19 ini rupanya bukan sesuatu yang dianggap ideal sehingga sebagian orang mencari opsi metode pembelajaran selain melalui sekolah formal. Sementara, orang tua lainnya yang sebelumnya memang menimbang untuk ‘menyekolahkan’ anaknya dengan cara sekolah rumah (homeschooling) jadi sedikit mencicipi pengalaman sekolah rumah dan semakin ingin tahu mengenai homeschooling.

Ilmu mengenai homeschooling kali ini saya dapatkan dari mengikuti webinar yang diadakan oleh YoBerbagi, suatu kanal daring (online) berbagi pengetahuan dan pengalaman, yang di hari Kesaktian Pancasila ini menampilkan obrolan dengan beberapa praktisi homeschooling yang sudah menyekolahrumahkan anak mereka sejak tahun 2009 hingga akhirnya sang anak diterima di berbagai universitas di Indonesia serta manca negara. Obrolan ringan namun berbobot dengan para praktisi homeschooling ini sangat membantu saya untuk lebih memahami berbagai aspek homeschooling secara lebih detail dari sudut pandang orang tua sebagai praktisi homeschooling.

Program Homeschooling tiap anak bisa saja berbeda bergantung dari karakter anak

Homeschooling berangkat dari pemahaman orang tua bahwa tiap individu adalah pribadi yang unik, atau dengan kata lain: berbeda antara satu individu dengan yang lain, sehingga sang anak tidak akan dapat berkembang secara optimum apabila potensi yang dimiliki tidak tergali dengan baik sesuai keunikan masing-masing anak. Karena itu, homeschooling dikategorikan sebagai customized edukation, yang mengakui keunikan tiap anak sehingga program pendidikan dapat disesuaikan berdasarkan karakter anak tersebut.

Orang tua adalah unit yang terdekat dengan anak sehingga seharusnya bisa menemukan keunikan sang anak, yang kemudian merancang program homeschooling sesuai dengan keistimewaan anak tersebut. Hal ini dapat tercermin di kegiatan akademik maupun non-akademik ataupun dalam pendekatan belajarnya.

Sebelum memulai, tentukan target belajar dan sepakati dengan anak

Homeschooling bukanlah belajar suka-suka di rumah. Sama dengan sekolah formal, dalam sekolah rumah juga perlu ditetapkan target belajar jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Target belajar ini kemudian perlu disepakati juga oleh anak. Kenapa? Pertama, agar proses pembelajaran lebih terukur dan anak mengerti apa yang diharapkan dalam proses pembelajaran ini. Kedua, agar beban pembelajaran lebih masuk akal dan sesuai dengan kemampuan anak. Selain itu, apabila terjadi penyimpangan dari target, orang tua akan lebih mudah dalam meminta pertanggungjawaban anak. Diharapkan dengan adanya kesepakatan dua belah pihak ini proses pembelajaran lebih lancar dan tidak ada ‘eyel-eyelan’ di kemudian hari.

Dalam webinar tadi, salah seorang praktisi menjabarkan bahwa ia awalnya menetapkan target jangka panjang yang kemudian diturunkan menjadi target tahunan (target jangka menengah) dan target bulanan (target jangka pendek). Kesemua target ini ia diskusikan dengan si anak dan kemudian disepakati bersama.

Pentingnya memonitor secara rutin target dan jadwal yang telah disepakati

Dalam homeschooling, salah satu kuncinya adalah disiplin. Tanpa disiplin, homeschooling tidak akan dapat berjalan dengan baik. Berbeda dengan sekolah formal, semua beban tanggung jawab terletak di unit keluarga. Kalau di sekolah formal, kadang orang tua tinggal duduk manis menunggu informasi dari sekolah. Kalau misalnya anaknya kesulitan dalam memahami pelajaran, tinggal tunggu ‘surat cinta’ datang dari sekolah. Jadi, sebagian beban untuk memonitor kemajuan anak ada di tangan sekolah. Kalau homeschooling, beban ini seluruhnya ada di tangan keluarga. Dengan demikian, apabila pengawasannya longgar, tentunya dapat dipastikan target jangka menengah dan jangka panjang yang sebelumnya telah disepakati sulit untuk dicapai.

Dalam keluarga praktisi homeschooling tadi siang, mereka mengadakan diskusi mingguan terkait kemajuan proses pembelajaran untuk memastikan agar target bulanan tercapai (huhuhu… kok saya mendadak teringat target bulanan di kantor ya…..)

Tetapkan aturan dan sanksi yang dijatuhkan bila aturan tidak ditepati

Sekali lagi, karena kuncinya adalah disiplin, aturan main perlu dibuat dan ditegakkan. Untuk memastikan anak mengikuti aturan yang telah disepakati, orang tua perlu menetapkan sanksi bila aturan tersebut tidak dipenuhi. Tentunya sanksi yang diberikan ini pun perlu disepakati oleh si anak. Jadi, bukan juga sanksi yang ditetapkan secara suka-suka dan tidak konsisten oleh orang tua.

Apa sanksinya? Tidak perlu yang syerem-syerem seperti hukuman fisik yang berat…. sanksi yang dicontohkan tadi siang cukup menggelitik: denda Rp. 15.000 bila terlambat bangun pagi. Selain mengajarkan mengenai tanggung jawab dan kedisiplinan, sanksi ini juga mengajarkan anak untuk menghargai uang.

Berani untuk menetapkan prioritas

Orang tua harus berani menetapkan prioritas dan menentukan mana yang penting dan mana yang bukan merupakan prioritas. Hal ini diperlukan untuk membagi energi dan alokasi waktu anak. Sebagai orang tua, kita perlu memahami dan berbesar hati bahwa anak belum tentu cemerlang di setiap mata pelajaran. Akan ada pelajaran yang amat dia kuasai, namun bisa jadi ada pelajaran yang kurang dikuasai.

Dengan menetapkan prioritas, alokasi waktu dan sumber daya dapat difokuskan kepada hal yang dianggap sebagai prioritas agar anak tidak mengalami burn-out karena merasa sudah menghabiskan banyak waktu dan energi untuk hasil yang tidak sepadan.

Pentingnya membangun budaya belajar dalam keluarga

Dalam pembelajaran dengan metode homeschooling, amatlah penting untuk membangun budaya belajar. Hal ini karena kendali untuk kemajuan belajar ada di tangan keluarga dengan orang tua sebagai referensi dan tutor utama. Dengan demikian, budaya belajar ini perlu dijadikan sebagai budaya dalam keluarga. Apabila hanya anak yang diharuskan belajar sementara orang tua enggan belajar dan mengembangkan pengetahuan, program homeschooling tidak akan berjalan dengan mulus.

Pentingnya berbagi peran dalam keluarga

Berbagi peran antara ayah dan ibu menjadi krusial dalam pembelajaran dengan model homeschooling. Apabila dalam pembelajaran melalui sekolah formal ada keluarga yang memilih untuk menetapkan tanggung jawab pendidikan hanya di pundak salah satu orang tua sementara yang satunya mengambil posisi sebagai pemberi nafkah, dalam pembelajaran dengan model homeschooling hal ini tidak dimungkinkan. Ayah dan ibu dalam hal ini harus memikul tanggung jawab secara bersama-sama.

Yang dapat dibagi adalah peran sebagai referensi pembelajaran. Misalnya, ayah kebagian tugas untuk mengawal pelajaran IPA, sementara ibu bertugas untuk mendampingi selama mata pelajaran matematika. Atau, ayah bertugas untuk mendampingi aktivitas luar ruangan, sementara ibu menemani belajar di rumah. Reafirmasi berbagi peran ini juga perlu dilakukan secara rutin mengingat proses pembelajaran homeschooling yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Orang tua sebagai teladan

Dalam pembelajaran model ini, orang tua harus dapat menempatkan dirinya sebagai teladan karena referensi utama anak-anak adalah orang tua, bukan sekolah ataupun guru. Selain sebagai pemimpin, orang tua juga wajib berperan sebagai role model yang dapat memberikan teladan secara konsisten. Akan sulit untuk menerapkan disiplin, misalnya, jika orang tua juga tidak disiplin.

Orang tua harus siap multi-tasking

Tidak hanya sebagai tutor, dalam pembelajaran model homeschooling orang tua pun perlu mengambil peran sebagai petugas tata usaha (untuk mendokumentasikan proses pembelajaran), kepala sekolah (menentukan ujian dan kelulusan anak), serta berbagai peran lainnya, termasuk sebagai kurir pengantar dokumen jika diperlukan.

Berbeda dengan belajar di sekolah formal, jika anak belajar secara homeschooling, orang tua wajib rajin mencari informasi secara mandiri. Kalau anak belajar di sekolah formal, kadang orang tua menerima informasi dari sekolah, tidak perlu susah payah mencari informasi. Sementara, dengan model homeschooling, orang tua harus siap untuk giat mencari informasi, Misalnya, jadwal ujian penyetaraan yang kadang jadwalnya tidak selalu sama setiap tahunnya. Dalam hal ini, orang tua harus proaktif mencari tahu jadwal ujian penyetaraan karena informasi ini tidak akan secara otomatis diterima oleh orang tua.

Bahkan, orang tua pun harus paham bahwa segala dokumen atau berkas harus diurus sendiri. Salah satu praktisi dalam webinar tadi menjelaskan bahwa mereka harus menerbitkan semacam tanda kelulusan sendiri untuk mengurus pendaftaran anak mereka ke universitas yang diminati. Meskipun bukan sekolah atau institusi formal, penerbitan dan pengurusan dokumen semacam itu terkadang perlu dilakukan.

Last but not least, homeschooling bukan solusi masalah psikologi dan mental

Praktisi homeschooling yang menjadi narasumber webinar tadi mengingatkan bahwa sebelum memulai pembelajaran dengan homeschooling harus dipastikan bahwa hubungan antara orang tua dan anak terjalin dengan sehat. Artinya, ada rasa saling percaya antara kedua belah pihak, baik dari orang tua ke anak, maupun dari anak ke orang tua. Hal ini penting karena anak harus menganggap bahwa orang tua adalah referensi utama, sementara orang tua juga harus yakin bahwa anak akan mengikuti proses pembelajaran secara bertanggung jawab.

Perlu digarisbawahi bahwa homeschooling tidak bisa membereskan masalah psikologi dan mental, misalnya masalah kenakalan remaja. Jika memang ada masalah, masalah tersebut perlu dibereskan terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran secara homeschooling. Perlu dipastikan bahwa orang tua memahami kalau homeschooling bukanlah solusi mujarab segala permasalahan.

****

Setelah ini, lalu apa?

Saya bersyukur di saat saya memerlukan informasi lebih detail mengenai homeschooling saya mendapatkan banyak referensi. Baiknya memang jangan seperti membeli kucing dalam karung. Kita sebagai orang tua perlu tahu apa yang akan dihadapi sebelum memilih model pembelajaran yang sesuai untuk anak kita. Seperti yang saya dengar dari narasumber di salah satu webinar yang saya ikuti, homeschooling adalah salah satu opsi pendidikan, namun tidak juga selalu menjadi opsi yang terbaik. Semua bergantung dari karakter dan kesiapan keluarga karena tidak selalu sesuai dengan budaya atau kultur yang dianut keluarga tersebut. Saya pun sependapat, dalam pendidikan tidak ada yang namanya one size fits all. Solusi yang baik untuk seseorang bukan berarti baik pula untuk orang lainnya. Semua berpulang pada karakter dan nilai yang dianut orang atau keluarga tersebut.

#homeschooling
#pendidikan
#sekolah
#parenting

Menimbang Homeschooling sebagai Alternatif Model Pembelajaran di Masa Pandemi

Anak saya yang kedua, Yoda, akan memulai tahun pertamanya di SD di tahun ajaran depan ini. Awalnya, kami akan menyekolahkan dia di sekolah konvensional seperti kakaknya. Tapi, dengan adanya pandemi yang berkepanjangan ini, saya dan paksu mulai memikirkan alternatif lain selain sekolah konvensional. Pikir punya pikir, saya dan paksu mulai mempertimbangkan homeschooling sebagai jalur atau model pembelajaran untuk anak kami yang kedua. Namun demikian, berbeda dengan kebanyakan orang tua lain yang memilih untuk menyekolahkan anak mereka dengan homeschooling hingga selesai suatu jenjang tertentu (misalnya: SD atau SMP), saya dan paksu memandang homeschooling ini sebagai jembatan menuju belajar di sekolah konvensional bila situasinya sudah memungkinkan, atau yang kadang disebut sebagai homeschool (sekolah mandiri) sementara.

Saat saya mulai mencari informasi mengenai homeschooling, seorang teman mengabarkan kalau Rumah Inspirasi menyelenggarakan webinar mengenai hal ini. Rumah Inspirasi dimiliki oleh sepasang orang tua yang merupakan penggiat homeschooling, yang ketiga anak mereka menempuh pendidikan melalui homeschooling atau sekolah rumah.

Langsung saya cuusss mendaftar (soalnya ternyata webinarnya diadakan di hari tersebut), dan duduk manis di depan laptop saat mendekati waktu webinar. Dari informasi yang saya dapatkan melalui penjelajahan di internet serta duduk manis dan khusyuk menyimak webinar ini saya mendapatkan beberapa oleh-oleh mengenai homeschooling.

Homeschooling bukanlah sekolah di rumah

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa homeschooling = sekolah di rumah, yang artinya anak-anak tidak ke mana-mana dan hanya belajar dari rumah. Kurang lebih serupa keadaannya dengan anak-anak sekolah selama masa pandemi ini. Hampir 100% kegiatan dilakukan di rumah dan tidak ada atau minim sekali aktivitas di luar rumah. Hal ini yang menyebabkan kebanyakan orang bertanya-tanya: bagaimana sosialisasi anak-anak yang mengikuti homeschooling ini? Soalnya kan mereka mengerjakan semuanya di rumah, kasian tidak punya teman sebaya.

Ternyata anggapan ini tidak tepat. Homeschooling memang berawal dari rumah, tapi tidak melulu beraktivitas di rumah. Homeschooling yang ideal justru menyeimbangkan aktivitas dalam dan luar ruang. Apabila anak-anak di sekolah ada kegiatan ekstra kurikuler, begitu pula dengan anak-anak yang belajar dengan model homeschooling. Mereka juga dianjurkan mengikuti klub olahraga ataupun klub hobi lainnya. Di situlah mereka bisa bersosialisasi dengan teman sebaya mereka. Mereka juga bisa dijadwalkan untuk mengikuti karyawisata: ke museum, tempat wisata, perpustakaan, dan lokasi menarik lainnya. Mungkin malah dengan waktu yang lebih fleksibel dibandingkan dengan sekolah pada umumnya. Belajar pun tidak harus melulu dari rumah. Bisa dari perpustakaan, laboratorium, ataupun lokasi lain (alam bebas, misalnya) yang tidak memungkinkan apabila anak menuntut ilmu di sekolah formal.

Orang tua adalah kunci

Bila kita memutuskan untuk menerapkan model pembelajaran secara homeschooling, sebagai orang tua artinya kita sudah siap lahir dan batin untuk menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak kita. Hal ini karena homeschooling ini dilakukan di bawah pengarahan orang tua dan tidak dilaksanakan di tempat formal seperti sekolah ataupun institusi pendidikan lainnya. Namun demikian, fungsi sebagai penanggung jawab utama bukan serta merta berarti bahwa orang tua harus mengambil peran sebagai guru. Orang tua dapat pula mendatangkan guru pendamping atau tutor ke rumah.

Tapi, tetap harus diingat bahwa kata kuncinya adalah orang tua atau keluarga. Meskipun sebagian beban pengajaran telah disubkontrakkan kepada suatu lembaga pengajaran ataupun tutor, orang tua tetap memegang peranan utama. Orang tua tetap harus menginvestasikan waktu dan energinya untuk memastikan proses pembelajaran berjalan lancar. Investasi waktu dan energi orang tua untuk homeschooling menurut saya lebih besar dibanding dengan menyekolahkan anak di sekolah formal. Komitmen orang tua pun di homeschooling lebih besar, meskipun bukan berarti homeschooling tidak cocok untuk anak yang kedua orang tuanya bekerja.

Orang tua di sistem homeschooling adalah orang tua pembelajar

Karena kunci dalam pembelajaran model sekolah rumah atau homeschooling adalah orang tua, maka orang tua yang berkomitmen untuk menyekolahkan anaknya dengan metode homeschooling suka tidak suka harus menjadi orang tua pembelajar. Hal ini karena referensi utama anak adalah orang tua (meskipun orang tua mencari lagi lewat Google atau YouTube, misalnya), dan bukan guru ataupun institusi pendidikan. Karena itu, orang tuaperlu terus meningkatkan kapasitas diri mereka, tidak hanya terkait hal akademik, namun juga hal non-akademik seperti manajemen waktu dan pola pengasuhan.

Walaupun misalnya orang tua memutuskan untuk memanggil tutor ke rumah untuk pelajaran tertentu, tetap saja tanggung jawab pengajaran utama ada di tangan orang tua. Dengan demikian, tidak ada lagi istilah menitipkan anak ke sekolah ataupun mencari kambing hitam bila ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi terkait dengan proses pembelajaran anak.

Mengenal PKBM

Anak-anak yang bersekolah secara mandiri sama dengan mereka yang bersekolah secara konvensional. Mereka ini juga perlu terdaftar di suatu institusi. Dalam model pembelajaran konvensional, anak-anak ini terdaftar di sekolah atau institusi pendidikan lainnya, sementara untuk homeschooling anak-anak ini terdaftar di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). PKBM inilah yang akan menyelenggarakan ujian kesetaraan (ujian Paket A, B, dan C) dan mutasi anak bila diperlukan. Baiknya memang PKBM yang dipilih terletak tidak jauh dari tempat tinggal kita. Namun, bisa juga bila kita memilih PKBM yang jauh dari tempat tinggal atau bahkan di kota lain. Hanya saja, bila hendak ujian, anak-anak harus melaksanakan ujian di PKBM tempat mereka terdaftar.

Dari webinar dengan Rumah Inspirasi saya mengetahui bahwa sama halnya dengan sekolah konvensional, PKBM pun ada yang legal, ada pula yang abal-abal. Dengan mengecek ke situs Kemdikbud berikut dapat diketahui apakah suatu PKBM merupakan institusi yang terdaftar dan legal atau justru zonk alias abal-abal.

Kurikulum dalam homeschooling

Karena karakter homeschooling adalah pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak, homeschooling memiliki beragam model, mulai dari yang sangat tidak terstruktur (unschooling), hingga yang sangat terstruktur seperti sekolah pada umumnya. Keluarga atau penggiat homeschooling dapat memilih sendiri metode atau model kurikulum yang sesuai dengan mereka, misalnya menggunakan model Montessori, Classical, Charlotte Mason, bahkan kurikulum yang disusun oleh komunitas homeschooling. Selain itu, orang tua pun dapat memilih untuk mengacu pada kurikulum nasional ataupun kurikulum internasional seperti Cambridge dan K-12 Curriculum, yang masing-masingnya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.

****

Lalu, bagaimana dengan saya?

Saya dan paksu mempertimbangkan model pembelajaran secara homeschooling sebagai opsi di masa yang kurang menentu seperti sekarang ini. Dengan demikian, apabila akhirnya kami ‘menyekolahkan’ anak secara homeschooling, homeschooling ini hanya bersifat sementara. Artinya, jika situasi sudah memungkinkan untuk berkegiatan (termasuk bersekolah) secara normal, anak kedua kami akan kembali didaftarkan ke sekolah formal di tahun ajaran berikutnya.

Karena itu, kami sepakat untuk memilih model kurikulum Cambridge ataupun gabungan dengan kurikulum nasional untuk memudahkan integrasi anak kamu nantinya ke institusi pendidikan formal. Hal ini karena sekolah formal yang kami sasar menggunakan kedua kurikulum tersebut.

Saat ini saya dan paksu sedang mempertimbangkan beberapa lembaga untuk mendampingi kami (baca: menyediakan tutor, kurikulum, serta materi ajar) selama masa homeschooling. Cerita mengenai pencarian lembaga pendamping ini akan saya sambung di tulisan yang lain. Sebagai orang yang masih sangat hijau di urusan homeschooling saya masih perlu banyak belajar dan berguru pada teman-teman saya yang sudah mulai lebih dulu memilih model pembelajaran ini bagi anak mereka. Namun, satu hal yang pasti, sebagai orang tua kita perlu mengambil posisi sebagai pembelajar — terlepas dari kita ‘menyekolahkan’ anak secara homeschooling ataupun tidak.

#homeschooling
#Yoda
#parenting
#sekolah

Kebunku Penolongku

Pagi ini, sembari duduk di sebuah restoran cepat saji saya mulai membuka-buka HP. Maklum… duduk sendirian… jadi begitu makanan mulai habis, mulai juga bengong-bengong tidak ngapa-ngapain. “Ping!” Saya melirik, ada tanda notifikasi baru di Facebook saya. Langsung saya buka dan mulai saya scroll ke bawah. Saya lihat seorang ibu yang menjadi teman maya saya memposting beberapa tanaman di kebunnya: ada pohon cabe, kembang telang, dan beberapa tanaman lainnya yang tidak saya kenali namanya. Ingatan saya langsung melayang ke petak kecil di depan teras saya (Hehehe…. Memang lebih pantas disebut petak dibanding kebun, karena memang mungil… ngil…) yang baru-baru ini saya tanami dengan alpukat jenis bullfrog untuk melengkapi beberapa tanaman buah dan sayuran lainnya. Sudah sejak beberapa tahun terakhir ini saya mencoba bertanam buah dan sayur, selain tanaman hias seperti tanaman kamboja yang bunganya banyak berguguran di depan teras setiap pagi. Sudah beberapa kali saya panen kecil. Mulai dari daun papaya Jepang, daun kelor, daun jeruk, sampai cabai rawit yang seringnya saya masak untuk menu makan siang.

Bertanam tanaman sayur dan buah ini sebenarnya saya pelajari sejak kecil. Rumah orang tua saya yang berhalaman cukup besar di daerah Jakarta Timur membuat kami serasa memiliki kebuh buah dan sayur pribadi. Mulai dari pohon mangga, pisang, kelengkeng, matoa, nanas, jambu kelutuk, jambu air, sawo, belimbing, hingga durian (kebayang kan sampai ada pohon durian di halaman rumah….) ditanam di halaman rumah kami. Jenis tanaman sayur dan bumbu dapur pun tidak kalah banyak, mulai dari singkong, pepaya, katuk, cabai, kunyit, laos, sereh, jahe, sampai temu kunci pun ada di halaman. Pohon bunga dan tanaman hias pun tidak kalah ragamnya.

Kebiasaan inilah yang terbawa saat saya menikah dan tinggal terpisah dari orang tua. Meskipun kecil, di halaman saya menanam beberapa macam tanaman buah dan sayuran yang kebanyakan saya tanam di pot karena keterbatasan lahan. Beberapa kerabat yang sempat mampir ke rumah terkadang memetik sedikit cabai rawit, daun bawang, ataupun beberapa helai daun jeruk. Saya sendiri sekarang alhamdulillah sudah tidak kepikiran lagi dengan harga cabai yang terkadang harganya bikin galau tujuh turunan. Soalnya, kalau perlu cabai tinggal petik di samping rumah, hehehe….. Bahkan, ART saya, yang setiap sore selalu kembali  ke rumahnya sendiri, beberapa kali meminta biji atau bibit tanaman yang ada di rumah. Katanya, “Pingin kayak ibu, punya tanaman di rumah.” Beberapa hari lalu dengan berbinar-binar ia bercerita bahwa tanaman cabai rawitnya sudah mulai berbuah, dan kemarin ia memamerkan ke saya bekal yang ia bawa dari rumah, “Ini cabai untuk sambalnya dari biji cabai yang dikasih ibu waktu itu,” katanya. Memang mungkin tidak seberapa, namun untuk saya hal ini sangat berarti. Ikut senang melihat ia juga bisa panen kecil-kecilan di rumahnya.

Selain untuk masak, tanaman yang ada di petak kecil saya itu juga difungsikan untuk hal lainnya. Sudah beberapa bulan ini saya menggunakan cairan pel yang lebih ramah lingkungan, yang dibuat dari bahan-bahan sederhana yang ada di kebun. Salah satunya? Bunga kamboja yang setiap hari berguguran (hahaha…. kayak lagu ya….). Bunga kamboja ini dipotong-potong, lalu dicampur dengan ragi, gula merah, dan air, lalu disimpan di botol. Sayangnya, baru satu bulan setelah diracik cairan pel ini bisa digunakan. Kadang, kalau sedang membeli jeruk, bunga kamboja sering saya ganti dengan kulit jeruk agar wanginya lebih segar. Cairan pel ini juga yang kemudian mulai dibuat oleh ART saya di rumahnya. “Lumayan bu, daripada beli,” katanya. Saya sih senang-senang saja, soalnya kamboja saya banyak berbunga, jadi ada yang tambahan orang yang menampung bunganya.

Tapi, kalaupun lebih banyak bunga yang berguguran dibanding penampungnya, biasanya bunga tersebut saya kumpulkan dan saya tanam di lubang tanah untuk dijadikan kompos. Jadi, bisa dibilang tidak ada bunga yang terbuang. Hahaha…., jangankan bunga, kulit telur pun saya manfaatkan jadi penyubur tanaman. Benar-benar multi-fungsi, hehehe….. 🙂

Sayangnya, saya tinggal bukan di lingkungan perumahan, jadi kurang bisa getok-tular dengan tetangga. Justru, seringnya kerabat atau teman yang datang dari jauh yang minta bibit atau benih tanaman. Saya pun terkadang dapat benih dari jauh juga, termasuk dari teman maya di FB. Dengan teman-teman jauh inilah saya sering bertukar informasi dan ilmu.

Memang ini masih sangat mungil skalanya, dan masih jauh dari keberlanjutan lingkungan ataupun sosial. Namun demikian, seperti benih yang saya tanam di rumah, semoga dari hal kecil ini bisa tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Insya Allah….

#materi3
#empathy
#charity
#filantropi
#sustainability
#kelashabituasisejutacinta
#ibuprofesional

Pindah, atau Tidak Pindah

“Education is not just about going to school and getting a degree. It’s about widening your knowledge and absorbing the truth about life”

— Shakuntala Devi

Sebagai anak jaman old yang tidak pernah sama sekali pindah sekolah (kecuali saat pindah jenjang dari TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA, dst.), saya selalu berpikir bahwa nantinya anak-anak pun akan seperti itu: tetap sekolah di tempat yang sama sampai lulus; tidak seperti paksu yang sempat pindah sekolah di tengah-tengah jenjang pendidikan karena mertua saya pindah tugas ke kota lain. Mendengarkan kisahnya yang rada-rada ngenes sebagai anak pindahan, saya tidak mau anak-anak bernasib serupa.

Tapi apa daya, waktu Anja kelas hampir selesai kelas 2, saya merasa bahwa sekolah tempatnya menuntut ilmu saat itu tidak seindah yang dibayangkan. Selain karena saya merasa bahwa sekolah tersebut tidak memenuhi harapan saya (duuuuh…. panjang ceritanya, bisa berjilid-jilid seperti drakor), saya juga melihat sepertinya Anja semakin ke sini semakin tidak menunjukkan antusiasme pada sekolah. Kalau ditanya apapun tentang sekolah, misalnya, selalu jawabnya: great, ok, seru, dll. dsb. dkk. tanpa bisa cerita lebih jauh lagi di mana serunya, di mana asiknya, kenapa menyenangkan, dan semacamnya. Jawabannya selalu pendek dan tidak bersemangat. Nilai di sekolah sih alhamdulillah tetap bagus, tapi kalau anaknya ditanya juga ogah-ogahan jawabnya kan saya khawatir (iyah, saya emang baperan)…. takut kalau motivasinya menurun dan lama-lama dia malas ke sekolah.

Akhirnya, selama setahun saya galau…. timbang sana-sini, cari wangsit, baiknya Anja dipindahkan atau enggak ya? Semua juga tahu, memindahkan sekolah anak itu susah-susah gampang (lebih banyak susahnya daripada gampangnya kalau menurut saya mah), mulai dari memilih sekolah yang sesuai sampai menyiapkan mental anak. Jangan sampai juga setelah lepas dari mulut harimau, malah masuk ke mulut buaya (hahaha…. kalah pinter sama keledai yang gak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali).

Saat itu saya memilih untuk menyiapkan mental anak lebih dulu. Pertimbangannya, toh saya tidak terburu-buru; anak saya pindah sekolah bukan karena harus pindah ke luar kota, tapi karena ketidakcocokan dengan sekolah yang sedang dijalani. Jadi, saya pikir, memilih sekolah bisa dipirit pelan-pelan selama Anja kelas 3, sembari memantau apakah dalam setahun tersebut ada perubahan yang signifikan di sekolahnya saat itu. Kalau sekolahnya menunjukkan perubahan positif kan dia tidak perlu pindah — karena untuk saya memindahkan sekolah itu sebenarnya opsi terakhir, setelah opsi-opsi lainnya sudah dijajaki dan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.

Saya pelan-pelan memberi pengertian ke Anja, bahwa kami, orang tuanya, sedang menimbang-nimbang untuk memindahkan ia ke sekolah yang lain. Yang kami tekankan, opsi ini hadir bukan karena nilai akademiknya jelek atau menurun, tapi karena sepertinya sekolah ini bukanlah sekolah yang sesuai untuk dia. Selain itu, kami juga mendengarkan kekhawatiran dan ketakutannya untuk pindah sekolah: mulai dari takut tidak punya teman, khawatir teman barunya tidak asik (ataupun mem-bully dia), takut tidak bisa mengikuti pelajaran, sampai takut kangen guru-guru dan teman-teman lamanya. Bicara dari hati ke hati ini tidak cuma sekali, tapi berkali-kali, agar rasa gamangnya bisa berkurang.

Setiap saya dan paksu pulang dari survey ke satu sekolah pun kami langsung berdiskusi bertiga. Ini kami lakukan agar Anja semakin mengerti bahwa kami mencari sekolah yang akan membuatnya merasa nyaman, bukan semata-mata memintanya pindah sekolah tanpa mempertimbangkan perasaannya (maklum lah… anak perempuan kadang rada baperan). Di akhir diskusi, saya selalu menyelipkan kata-kata, “tapi ini masih belum final ya…. kita lihat gmana setahun ini. Nanti kalau sudah pasti akan pindah, pasti Anja dikasih tahu. Kita sama-sama lihat ya baiknya gmana.”

Menyiapkan mental anak ini yang menurut saya PR tersendiri yang perlu digarisbawahi dan ditulis tebal karena memang tidak mudah. Anja awalnya berkaca-kaca (dan terlihat menahan kesedihan) saat kami beritahu kalau kami sedang mempertimbangkan untuk memindahkan sekolahnya. Kekhawatiran terbesarnya adalah soal pertemanan. Dia punya banyak teman di sekolah. Belum lagi, karena Anja masuk di tim sepakbola sekolah (iyess… dia memang perempuan yang hobi main bola), dia juga kenal kakak-kakak dan adik-adik kelas. Jadi, yang dia khawatirkan bukan pelajaran, tapi apakah dia akan mendapatkan teman baru sebaik dan sebanyak teman-temannya saat itu.

……bersambung yaaaa 🙂

#parenting
#school
#sekolah
#pendidikan

Acts of Random Kindness (ARK)

Ada yang ingat film Evan Almighty? Di akhir film ini, Morgan Freeman yang berperan sebagai ‘Tuhan’ bertanya kepada Evan (yang diperankan oleh Steve Carell), “How do we change the world?” – Bagaimana cara kita mengubah dunia? – yang kemudian dijawab, “One Act of Random Kindness at a time.” – Dengan melakukan satu kebaikan setiap kali.

Film ini menyiratkan bahwa kebaikan yang kelihatannya kecil dan tidak bermakna, bila kerap dilakukan, akan memberikan dampak yang luar biasa dan tidak tanggung-tanggung: mengubah dunia. Kelihatan hiperbola dan lebay, tapi mungkin ada benarnya.

Saya berkesempatan untuk lebih merasakan makna berbagi kebahagiaan – yang meskipun kecil, tapi bermakna bagi orang lain – saat saya mulai mengikuti kelas SCIP di komunitas Ibu Profesional. Di sini saya diminta bercerita mengenai 3 kebaikan yang saya bagikan kepada orang lain: anak, suami, mertua, orang tua, orang yang tidak dikenal…. siapa saja…. dan apa saja: kecil ataupun besar, tidak masalah.

Saya yakin, sebenarnya sehari-hari kita sering melakukan atau merasakan dampak kebaikan-kebaikan kecil ini, namun mungkin semuanya berlalu begitu saja, dianggap sesuatu yang lumrah, dan barangkali kita tidak sempat meresapi kebahagiaan dan maknanya. Kelas ini membuat saya berhenti sejenak, merenungkan kebaikan yang saya rasakan, atau saya bagikan, dan merasakan bahwa meskipun kecil, berbagi kebaikan ini bisa memberikan kebahagiaan yang besar.

Berbagi kebaikan ini bisa dimulai dari hal yang remeh-temeh dan receh. Seberapa sering orang menahan pintu untuk kita agar kita tidak perlu membuka pintu sendiri? Sudahkah kita mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut? Saya mungkin termasuk generasi old yang kadang merasa kalau anak-anak jaman now suka kurang ada adabnya. Sudah dibukakan pintu, bukannya bilang terima kasih, malah diam dan lewat begitu saja; bahkan, menengok pun tidak. Kalau sudah begini, kadang saya jengkel dan jadi su’udzon: apa anak-anak ini tidak diajarkan sopan-santun oleh orang tuanya? Ooops.. Maaf ya para orang tua (termasuk saya)…. Hanya saja, saya merasa sudah sewajarnya bila ada yang membantu kita, kita berterima kasih pada orang tersebut. As simple as that. Sayangnya, sudah mulai berkurang orang yang mengucapkan magic word ini.

Karena itu, saat diminta untuk berbagi 3 kebaikan, saya ingin mulai dari sini; mengucapkan terima kasih. Bukan berarti sebelumnya tidak pernah… tapiiii, sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan respon orang yang saya berikan ucapan terima kasih. Jadi, waktu 3 hari lalu ada yang membukakan pintu mall untuk saya, saya ucapkan terima kasih sembari memperhatikan orang tersebut. Saya bisa melihat ia mengembangkan senyum, dan saya jadi ikut senang karena saya melihat bahwa dengan ucapan sesederhana ‘terima kasih’, saya dapat memberikan sedikit kebahagiaan bagi orang lain.

Act of random kindness yang kedua malah sesuatu yang saya sendiri tidak sadar bahwa yang saya lakukan adalah suatu kebaikan. Rabu kemarin sepulang les, sambil menunggu datangnya mobil, Anja, anak saya, memeluk saya dan berkata, ”Mommy selalu bilang supaya Anja bikin PR dan bikin tugas, and I love you for that. You’ve made me who I am now, and I thank God I have you as my mom. I love you, mommy.” Duuuuuh….. siapa yang gak meleleh dipeluk dan disayang sebegitu rupa oleh anak sendiri…. Saya sungguh tidak menyangka, tough love saya untuk anak saya ternyata dirasakan manfaatnya oleh si anak, dan malah sayangnya ke saya jadi bertambah. Sementara, saya justru berpikiran sebaliknya: anak saya tidak suka punya ibu yang tegas dan keras dalam mendidik. Hahaha…. Jadilah saya ibu yang su’udzon ke anak sendiri 😊

Kebaikan ketiga yang saya bagikan adalah saat saya dan paksu (suami) mampir ke Burger King (BK) untuk makan siang. Saat memesan makanan, saya melihat bahwa Burger King menawarkan menu paket dengan harga khusus untuk para pengemudi ojol: nasi, ayam, dan air mineral seharga Rp. 15.000 per paket. Setelah menanyakan apakah paket ini bisa kami bayarkan untuk pengemudi ojol yang datang, saya dan paksu sepakat untuk membeli beberapa paket untuk pengemudi ojol yang mengambil orderan di BK. Kebetulan, saat kami sedang makan, ada seorang pengemudi ojol yang datang dan mengambil pesanan di sana. Satu paket dari saya disiapkan untuk pengemudi tersebut (siapa pemberinya tidak diberitahukan ke penerima), dan dari tempat duduk, saya bisa melihat bahwa wajah bapak tersebut berbinar-binar, terutama saat dia berkata, “Alhamdulillah… Semoga berkah.” Hati saya langsung terasa hangat mendengarnya – saya dapat merasakan bahwa pemberian saya yang mungkin tidak seberapa itu memberikan sedikit kebahagiaan bagi si bapak (Semoga sehat terus ya pak). Alhamdulillah…. Kelas yang baru dimulai ini mengingatkan saya untuk terus menebar kebaikan – meskipun sekecil benih – karena insya Allah akan memberikan kebahagiaan bagi penerimanya.

Sekolah Anja pun di bulan Februari ini mengusung semangat yang sama. Di sekolahnya ada kegiatan Kindness Movement, yang tujuannya adalah berbagi kebaikan dengan teman-teman, guru-guru, dan staff di sekolah. Kegiatannya bervariasi dan sangat menarik. Salah satunya adalah untuk berbagi biskuit atau snack dengan orang/teman yang jarang berinteraksi dengan mereka (bisa dari kelas sendiri maupun kelas lain). Selain itu, setiap hari Rabu mereka diminta untuk makan siang dengan teman yang belum mereka kenal. Hari-hari lainnya ada kebaikan berbeda yang harus dilakukan, termasuk mengucapkan magic words: terima kasih, maaf, tolong, dan permisi. Kata-kata sederhana yang dalam maknanya.

Saat saya membaca pengumuman sekolah mengenai kegiatan ini dan ragam aktivitas yang akan dilakukan para murid, hati saya tergelitik. Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak? Kebaikan apa lagi yang bisa saya berikan bagi orang lain? Bismillah… semoga hal ini bisa menjadi penyemangat saya untuk terus berbagi kebaikan.

#Materi1
#Empati
#HabituasiSejutaCinta
#IbuProfesional
#ActOfRandomKindness

Saiyah

Be yourself; Everyone else is already taken.

— Oscar Wilde.

Saya adalah seorang ibu dengan dua anak — yang melakukan semuanya dengan multi-tasking, dengan sejuta pikiran sekaligus, dan sering berharap bahwa satu hari terdiri lebih dari 24 jam agar segala cucian, masakan, dan tetek-bengek lainnya bisa terselesaikan semuanya — yang terkadang sabar (tapi seringnya gregetan) dengan polah tingkah anak-anak dan tidak pernah berhenti menyayangi mereka.

Saya adalah juga seorang juru bahasa dan tutor yang menemukan passion mengajar dengan tidak sengaja. Kini, saya pun seorang mompreneur (entah istilah ini benar berwujud di kamus atau tidak) yang sedang merintis usaha kuliner rumahan. Monggo intip-intip dan follow IG: sonya.gourmet bila berkenan (ini pun masih dalam tahap awal pengembangan bingiiits. Maaapphkaaan….). Untuk yang sudah kenal saya secara pribadi, pasti tahu kalau saya memang hobi masak dan makan… makanya timbangan di rumah selalu cenderung ke arah kanan dan bukan ke kiri 😀

Blog ini adalah sarana saya untuk belajar menulis (di sini lah pertama kalinya saya belajar menulis), tempat curcol, ber-me time, media menyimpan kenangan bersama keluarga dan teman-teman, tempat saya bersembunyi dari dunia yang hiruk-pikuk, dan tempat saya menemukan diri saya kembali. Seperti juga diri saya yang masih terus belajar dan berkembang, blog ini akan selalu menjadi work in progress yang dibangun pelan-pelan, dirombak, dan dipasang-susun kembali. Sesuatu yang dimulai dari nol hingga semakin lama bisa memberikan manfaat bagi sesama: from zero to hero.

Jangan pernah bosan untuk mampir karena siapa tahu ada sesuatu yang baru di sini! ❤❤

#zerotohero

Design a site like this with WordPress.com
Get started