Apa Comfort Food-mu?

Image may contain: food
Mie ayam rumahan bikinan sendiri

Comfort food menurut saya adalah makanan yang mengingatkan saya pada kenyamanan dan suasana rumah — masakan yang membuat perut, sekaligus hati, gembira. Apa padanannya dalam bahasa Indonesia? Sayangnya sejauh ini saya belum menemukan yang pas. Mungkin teman-teman di sini bisa membantu.

Untuk saya, di antara berjuta makanan favorit saya (buat saiyah itu, semua makanan mah favorit, hahaha…..), mie ayam adalah comfort food andalan. Maksud hati sih pingin jawab mie instan… taapppiiiii… demi kedamaian sebangsa tanah dan sebangsa air serta stabilitas nasional, pertanyaan ini lebih lebih aman saya respon dengan jawaban padat singkat dan jelas: mie ayam.

Daaaan…. mie ayam ini juga kesenengan anak-anak saya, terutama si anak wedhok… Jadiiii, di rumah selalu ada stok bahan-bahannya, dan sesekali saya bikin sendiri mie ayam di rumah… Bahkan, demi pencarian mie mentah (habis saya bingung, ini kategori mie basah atau mie kering ya?) untuk mie ayam, saya dan paksu pernah pagi-pagi buta meluncur ke pabrik mie, hahaha…. Niat banget yaaa…. Untung hasilnya tidak mengecewakan… Klo enggak mah rugi, sudah pakai nyasar, soalnya, hihihi…

Namun, bukan berarti saya tidak pernah beli atau alergi dengan mie ayam gerobak. Sama dengan teman-teman lainnya, saiyah ini juga punya babang mie ayam kesayangan yang mangkal tidak jauh dari rumah 😋😋 Soalnya, saya termasuk penganut filosofi mie instan: seenak-enaknya mie instan bikinan sendiri, tetep lebih mantul mie instan yang beli di abang-abang warung In**mie (halaaah… padahal ditutup juga seluruh Indonesia raya tahu merk yang dimaksud 🤣🤣). Makanyaaa… biarpun di rumah ada stok bahan mie ayam, tetep saja sekali-sekali saya ganti baju rumah, pakai sandal, dan jalan ke tempat si babang mie ayam kesayangan mangkal.

Bukan apa-apa… di rumah tidak ada saus sambal ubi andalan abang-abang itu lhoooo… Jangan bilang gak tahu deeehhh…. Buat saya, yang paling ngangenin dari mie ayam gerobak terus terang adalah si sambal oranye ituuu…. yang meskipun kalau kata acara TV yang model investigasi bahannya agak-agak gimanaaa getooo… tetep saja sekali-sekali kangen juga. Maklum deeeh… saiyah besar dengan segala persambalan ajaib ituuuh… jadi si saus sambal ubi (atau pepaya — tidak jelas juga versi mana yang akurat) seperti menjadi bagian dari masa kecil saya yang bahagia ini…

Tambahan lagi, saya itu paling tidak bisa tutup mata dan telinga kalau liat postingan mie ayam. Bawaannya langsung auto-celingukan nyari si babang mie ayam mangkal, biarpun sebelumnya sudah kenyang makan 🙈🙈 Teman-teman di salah satu grup WA sampai hapal… kalau ada postingan mie ayam muncul, tidak lama lagi pastiiii saya ikutan posting juga, macam jin Aladdin yang kalau lampunya digosok langsung keluar. Halaaaahhh…. lemah iman banget siiih saya tuuuuh sama mie ayam…. 😆😆 Tapiii… kalau dipikir-pikir, gak apa-apa lah saya murahan, daripada lemah iman kalau lihat tas Hermes, buahahaha…. bisa-bisa langsung disuruh angkat koper sama paksu dan disuruh tidur di pohon di depan rumah.

Saya pun kalau hunting mie ayam tidak tanggung-tanggung. Salah satu warung mie ayam favorit saya letaknya di Kelapa Gading, sementara rumah saya di Jakarta Selatan. Jarak yang cukup jauh (plus macet) dari selatan ke utara tidak menyurutkan langkah saya untuk mengambil kunci mobil dan menembus jarak yang cukup jauh demi semangkuk mie ayam kesayangan. Asal tahu saja, si warung mie ini hanya buka dari jam 7 hingga jam 10 pagi. Kadang, jam 9.30 pun sudah tutup karena mienya sudah habis. Kebayang kan, pagi-pagi harus buru-buru berangkat demi semangkuk mie? Untung saya termasuk kaum yang tidak perlu bulu mata yang cetar membahana, kalau iya, pasti sudah keburu habis mienya begitu saya sampai di tempat, hahaha…..

Tapi, jangan sediiih…. Kelapa Gading masih tergolong dekat. Demi semangkuk mie bakso favorit, saya pun kadang rela menyetir ke Bogor, hihihi…. Tapiiii, yang ini ceritanya lain kali lagi yaaa….. Cerita hari ini cukup si mie ayam (dan saya sekarang langsung buka kulkas cek stok bahan mie, hahaha….).

Scavenger Hunt, Berpetualang sembari di Rumah

Berbulan-bulan #DiRumahAja itu di satu sisi bisa membuat kita mati gaya, tapi di sisi lain mendorong kita untuk kreatif. Kegiatan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, entah karena tidak ada waktu karena kita sebagai orang tua sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas di luar rumah, atau karena anak-anak sibuk dengan pelajaran sekolah, ataupun karena alasan lainnya, jadi terpikirkan. Untuk keluarga saya, salah satunya adalah si scavenger hunt ini.

Kegiatan yang intinya adalah berburu harta karun sebenarnya mudah dilakukan, namun entah mengapa hampir tidak pernah kami kerjakan sampai akhirnya pandemi melanda. Sebagai ibu, waktu anak saya mengajak bermain, saya sempat aras-arasan, mager karena kok rasanya riweuh yaaaa…. Harus ngumpetin ini-itu. Belum lagi harus menuliskan petunjuknya, yang perlu pemikiran tersendiri supaya tidak terlalu mudah, tapi juga tidak terlalu menantang untuk anak seusia mereka.

Tapi, akhirnya setelah saya pikir-pikir, waktu yang saya butuhkan sebenarnya tidak lama. Ya itu…. hanya perlu menyembunyikan barang, plus menuliskan petunjuknya. Kalau cepat, tidak akan lebih dari 5 menit. Ditambah dengan menjelaskan ke anak-anak mengenai aturan mainnya, total hanya memerlukan maksimum 10 menit, dan setelahnya saya bisa kembali ke habitat saya: dapur, hihihi…. Maklum, makan siang belum tersedia.

Sementara, bagi anak-anak ini adalah kegiatan yang seru dan menyenangkan. Mereka bisa menjelajah seluruh rumah sembari memecahkan teka-teki petunjuk yang diberikan. Tambahan keuntungan bagi saya dan paksu: waktu santai bersama keluarga. Kemewahan yang jarang kami dapatkan sebelum era pandemi.

Kami sepakat untuk menyembunyikan empat barang yang berukuran kecil sehingga mudah diselipkan di antara barang-barang lainnya. Waktunya pun dibatasi: hanya 1 jam. Saya dan paksu juga sepakat kalau ini kerja tim, bukan dulu-duluan atau banyak-banyakan barang yang ditemukan. Selain karena tidak seimbang, ini supaya mereka tidak ribut sendiri, hahaha….

No photo description available.
Petunjuk untuk anak-anak

Jadiiii…. kami mengawali dengan menuliskan petunjuk tempat disembunyikannya keempat barang tersebut. Petunjuk pertama hingga keempat dituliskan seperti di samping. Adakah yang bisa menebak di mana barang tersebut disembunyikan?

Sepertinya petunjuk pertama yang paling memusingkan. Kalau belum pernah ke rumah saya, pasti akan bingung, hehehe…. Soalnya ada kata-kata ‘kelinci’ di dalamnya, sementara saya tidak memelihara kelinci. Petunjuk termudah menurut saya adalah petunjuk keempat. Langsung menuju sasaran. Singkat, padat, dan jelas.

Image may contain: 1 person, hat
Persiapan sebelum mulai mencari harta karun yang disembunyikan

Setelah menuliskan petunjuk, sekarang giliran menyembunyikan barang-barangnya. Anak-anak segera digiring ke kamar mandi agar mereka tidak bisa mengintip. Kenapa tidak di kamar? Soalnya ada 1 barang yang akan disembunyikan di sana, hahaha…. Sebelumnya mereka telah kami beritahu bahwa kami tidak akan menyembunyikan barang-barang tersebut di dapur, kamar mandi, ruangan di lantai atas, ruang luar, serta tempat-tempat tinggi yang tidak terjangkau anak-anak (seperti lemari atau rak atas). Intinya, lokasi yang aman untuk anak-anaklah yang dipilih.

Sebelum mulai mencari, anak-anak bersiap-siap dulu. Mereka membawa tas selempang (untuk tempat barang-barang yang sudah ditemukan), kaca pembesar (yang didapat dari paket menu anak-anak salah satu restoran cepat saji), dan tongkat penggaruk punggung (untuk mengambil barang yang sulit diraih) sembari melakukan pencarian. Hahaha….. sudah berasa seperti pencari harta karun sungguhan yaaa…. 😁😁

Image may contain: one or more people
Yoda dan kaca pembesarnya

Setelah membaca petunjuk, anak-anak anak langsung mencari barang keempat sebelum mencari tiga barang lainnya. Rupanya mereka sependapat. Barang keempat yang termudah untuk dicari. Mereka langsung membuka kulkas, dan mencari di dalamnya. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya berhasil juga mereka menemukan mainan Tweety di antara kotak makanan yang disimpan di dalam kulkas.

Setelah itu, mereka beranjak ke petunjuk lainnya. Barang kedua yang mereka temukan adalah balsem Geliga yang disembunyikan di antara berbagai pelembab, wewangian, minyak kayu putih, serta losion di kotak toiletries. Kalau kata anak saya Anja, petunjuknya mudah sekali: letaknya di antara berbagai minyak yang membuat badannya hangat dan wangi, hehehe….

Image may contain: 1 person, sitting
Sibuk mencari Pikachu yang disembunyikan di sini

Mereka rupanya agak kesulitan untuk menemukan barang pertama dan ketiga. Khusus untuk dua barang tersebut, mereka sempat bolak-balik mencari, tapi tidak bisa menemukannya. Petunjuk ketiga sebenarnya mudah sekali, namun mereka kurang teliti, jadi mainan yang dicari tidak ditemukan. Setelah beberapa kali bolak-balik mencari di tempat yang sama, mereka mulai kesal, meskipun sebenarnya penasaran karena sebenarnya mereka sendiri yakin bahwa lokasinya benar. Tadinya saya menggoda mereka, menanyakan apakah mereka siap untuk menyerah. Tapi, anak-anak, terutama Anja, menolak untuk menyerah. Setelah minum, anak-anak langsung semangat lagi mengaduk-aduk tempat penyimpanan kotak makan dan botol minum. Setelah membuka-buka restsleting semua tas kotak makan, ketemu juga mainan Pikachu yang disembunyikan.

Image may contain: 1 person, sitting and sunglasses
Kakaknya sibuk mencari, sementara adiknya sibuk bermain

Dalam pencarian barang keempat pun mereka kurang teliti. Ada satu tas yang mereka belum periksa, sementara tas-tas lain sudah dibuka beberapa kali. Saat itu, adiknya sudah hampir menyerah, tapi kakaknya masih penasaran. Karena toh ini sudah barang terakhir, saya lalu memberi petunjuk tambahan kalau ada tempat yang belum mereka periksa (tanpa memberi tahu apa). Setelah berpikir sebentar, Anja kemudian ingat tempat mana yang belum mereka periksa. Daaan….. Yeaaaayyy! Barang terakhir ketemu: balsem Vicks Vaporub yang disembunyikan di dalam tas untuk les berenang.

Setelahnya, mereka segera menyerbu minuman dingin dan cemilan yang saya siapkan untuk mereka sebagai imbalan atas ketekunan para pencari harta karun ini. Terlihat sekali betapa antusias dan gembira kedua anak saya karena berhasil menemukan semua benda yang disembunyikan.

Very well done, kiddos…!! 👍🏻👍🏻

Teruntuk Suamiku….

Suami saiyah ini sudah seperti sahabat terbaik saya. Sejak awal kami berkenalan, kami tidak terbiasa memanggil dengan sebutan “sayang”, “cinta”, “honey”, “baby”, “beib”, ataupun sebutan unyu-unyu lainnya. Justru, kami saling memanggil dengan sebutan sesuka hati yang memanggil, tanpa ada hawa-hawa romantis sedikit pun. Jangan bayangkan panggilan manis ataupun so sweet yang bikin hati meleleh. Alih-alih, bayangkan panggilan ajaib yang tidak wajar dari istri kepada suami, ataupun sebaliknya. Panggilan seperti, “pletok”, “cung”, “plenyuk”, “tong”, “odong-odong”, ataupun panggilan aneh dan tidak nyambung lainnya justru terdengar natural di antara kami. No hard feelings. Tidak ada yang merasa sakit hati atau baper mendengar panggilan yang jauh dari romantis ini.

Namun, bukan berarti tidak ada romantisme di antara kami. Kami sering us time (karena kan berdua… hehehe… jadi bukan me time….). Hampir tiap hari, malah. Walaupun hanya sekadar nonton TV berdua ataupun duduk makan sate padang di warung tenda, hal ini sering kami lakukan. Romantisme di rumah kadang sesederhana membuatkan kopi atau teh untuk pasangan, tanpa diminta. Atau, pulang dengan membawa cemilan kesukaan pasangan. Jadi, meskipun hampir tidak pernah memanggil sayang, bukan berarti kami tidak pernah ber-romantis-ria.

Paksu ini juga paling hobi mengirimi saya lirik lagu yang menurutnya manis atau menggambarkan suasana hatinya. Dulu, saya pernah dikirimi sepenggal lirik lagu Virgoun yang berjudul ‘Bukti’. Saya cantumkan ya lirik yang dikirimkan paksu saat itu:

Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku

Duuuuh…. wanita mana yang tidak meleleh menerima lirik lagu seperti ini di siang hari saat matahari rasanya sejengkal dari kepala? Hahaha…. bukan saya! Bukannya tersanjung ataupun terharu, saya justru menelepon paksu. Mengomel panjang kali lebar kali tinggi, “Lirik apaan itu, si Virgoun ngerayu kok maksa…! ‘Tolong kamu camkan itu’ (kalimat setelah penggalan lirik yang dikirimkan ke saya) — apa-apaan tuh…. Gak sopan…. dst. dst. (kebayang kan kalau emak-emak lagi sewot??)”

Mungkin saat itu paksu berpikir: salahku opo?? (lirik juga boleh nemu, hehehe…. bukan bikin sendiri…. kok kena omelan… 😆😆) Untungnya beliau tidak mudah patah arang. Sampai lebih 10 tahun usia pernikahan kami, dia tidak bosan-bosannya mengirimi saya penggalan lirik atau frasa romantis lainnya. Kadang berhasil, namun tidak jarang pula gagal menceriakan hati saya.

Kali ini, gantian saya yang perlu berbuat ‘baik’ kepada paksu. Di komunitas yang saya ikuti, kami diminta untuk menuliskan surat cinta kepada pasangan. Huhuhu…. awalnya saya ragu, apa bisa saya merangkai ekspresi romantis dan indah untuk suami saiyah tercinta (lha wong saya ini koboi kok)? Tapi, kemudian saya berpikir lagi…. Ini kan tugas yang sangat individual dan personal. Mungkin saja satu orang dan orang lainnya berbeda. Tiap orang punya standard gombalan sendiri, kalau kata seorang teman saya. Jadiiii…. ya sudah, saya tulis saja gombalan ala saiyaahh…. Isinya?? Hihihi…. jangan, ah…. Nanti ketahuan kalau gombalan saiyaah di bawah standard yang bisa diterima khalayak ramai…. 🙈🙈

Intinya, meskipun dia tidak setampan Romeo dan tak bergelimang harta (kalau kata Yovie & Nuno), tidak berpostur dan berbadan ideal, kadang tidak sempat bercukur, dst. dll. dkk., kekurangannya inilah yang menunjukkan keistimewaannya. Karena, waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk merawat diri justru ia gunakan untuk merawat kami, istri dan anak-anaknya (#eaaaa….).

Balasannya sayangnya baru saya dapatkan hari ini. Setelah insiden menggoreng otak-otak kemarin (yang sejatinya merupakan contoh rasa cintanya kepada kami, namun sekaligus membuat tangan dan beberapa bagian tubuh paksu melepuh), ia kesulitan untuk menggenggam pulpen ataupun telepon seluler. Jadi, baru hari ini saya menerima balasan dari paksu, yaitu beberapa saat yang lalu sewaktu saya mengoleskan salep ke luka bakarnya. Jawaban manis yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri saat mengetik tulisan ini.

Jawabannya singkat dan sederhana: Makasih mommy…. I love you… ❤❤

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah
#misiterakhir
#misikesembilan
#menujupulaucahaya
#sampaikanrasacintamu

Sepotong Tiramisu untuk Cinta

Nusa Indah, 30 Juni 2020.

Hai Cinta, kamu lagi ngapain di sana? Kamu udah bahagia kan? Udah gak ngerasain sakit lagi. Kamu udah ketemu sama Nara dan Nila? Mereka pasti senang sekali bisa berkumpul. Sambil meneguk kopi dingin dan kue tiramisu terenak yang biasa kita nikmati bersama sambil menatap matahari tenggelam. Cinta, aku pengen cerita lagi nih, tapi mama sudah memanggilku untuk segera sholat zuhur berjamaah.

Mama tahu aku belum terbiasa, masih ada rinduku yang tertinggal di dalamnya. Maka, selepas sholat buru-buru kucium tangan mama dan bergegas pergi, ingin melanjutkan obrolanku dengannya. “Cinta, kue tiramisu favorit kita, ingatkah saat pertamaku membuatnya?” Di hari itu, saat hujan rintik di Sabtu malam, aku bertekad menciptakan tiramisuku sendiri. Berbekal semangat membara dari resep-resep yang telah lahap kubaca ditambah tutorial video yang tidak hanya satu, tapi lebih dari tiga, dan kesemua memiliki judul yang sama, ‘Resep Tiramisu, Mudah, Simpel dan Enak’. Bahan-bahan pun telah kusiapkan dan kuhitung cermat, celemek baru kuambil dari laci dan kupasang dengan hati yang berkata, “Ah, ini sih mudah!” Tapi akhirnya apa yang terjadi dengan tiramisu perdanaku? “Engkau mengingatnya kan Cinta?”

Dia yang disebut Cinta hanya tertawa getir. Sakit itu masih timbul dan tenggelam. Dia hanya bisa terdiam di teras dan memandangi nusa indah yang setia berbunga. Dia masih terdampar di teras tua itu, sendiri. Sesekali memandangi langit yang semakin kelam. Oh, apakah yang harus aku lakukan? Oh, apakah yang harus aku katakan?

Tak terasa rintik hujan mulai turun dari langit, yang mulai membasahi teras tua itu. Sebenarnya aku masih ingin bersamanya, mengenang masa-masa indah yang pernah kita lalui bersama. Aku pun ingin mengajaknya masuk agar ia tidak kehujanan, namun rasanya sangat mustahil. Sedari tadi aku ajak mengobrol, ia hanya diam membisu tanpa kata. Bahkan aku tak yakin ia mendengarkan ceritaku. “Cinta, waktu ashar segera tiba. Pasti mama akan segera datang memanggilku lagi untuk sholat berjamaah. Apakah kamu akan tetap menungguku?”

Baru aku berpikir begitu, terdengar suara mama dari dalam, bersahutan dengan suara hujan, membuyarkan seluruh lamunan. Kusahut sekenanya, “Iya, maaa.” Lalu kudatangi arah suara mama. Mama duduk di kursi makan dengan senyum melebar, menunjukkan sesuatu di meja makan. “Ini tiramisu kesukaanmu, makanlah, kau terlihat pucat, mungkin saja perutmu sudah sangat lapar.”

“Terimakasih ma,” aku duduk di samping mama dan mengambil piring bergambar bunga mawar kesukaanku lalu memotong tiramisu itu dengan pisau yang sudah tersedia di sampingnya. Ketika kupotong perlahan, aku tersentak dan mundur ke belakang.

‘Apakah ini semua hanya imajinasiku? Apa benar yang kulihat dengan kedua mataku?’

Sesuatu yang merah mengalir dari potongan tiramisu itu.

“Nak, kamu kenapa? Kok tidak dimakan malah ketakutan seperti itu?”

Cinta tetap diam… memandang kosong dari teras. Ingin sekali ia masuk ke dalam, namun nusa indah ini menahannya. Dia terjebak di sini bersama sang nusa indah. Sebuah kesalahan masa lalu yang sangat ia sesali. Kini ia harus membayar mahal, membiarkan orang terkasihnya terluka. Seperti kilat waktu, aku kembali berada di waktu yang sama bersama mama. “Aku…aku…tidak apa-apa ma,” sambil perlahan memasukkan potongan tiramisu itu ke mulutku.

Mama menatap dengan pandangan tidak percaya. Lamat-lamat, dilihatnya sekilas bayangan Cinta di teras depan, berdiri mematung di sebelah nusa indah yang berbunga dengan rimbunnya. Seseorang yang teramat dikasihi anak tercintanya, sekaligus sosok yang telah membawa anak satu-satunya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Masih teriris rasanya, mengingat hari terakhir ia melihat buah hati kesayangannya, yang lalu berpulang jauh dari pangkuannya. Namun, dilihatnya Cinta mendekat seraya tersedu, tertahan-tahan merengkuhnya, “Tante, maafkan Cinta, memaksa Rama untuk segera menjemput Cinta, dan akhirnya…,” kulihat Cinta tercekat, lidahnya kelu. Mama terjatuh berlutut, tidak kuasa menahan pilunya hati seorang ibu yang membayangkan aku menjemput ajal di usia muda akibat tersambar orang tak dikenal yang menyetir dalam kondisi mabuk. Aku, yang hanya mampu bertahan beberapa menit akibat pendarahan dalam hebat yang kualami, dengan bunga nusa indah di genggaman dan sepotong tiramisu yang telah hancur luluh di samping jasadku yang membeku.  

#RBMChallenge
#CerpenKeroyokan
#NusaIndah
#Grup3

Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater

Hari ini tepat 100 tahun berdirinya ITB, kampus yang sudah 2 kali mewisuda saya… Sayangnya sampai detik ini saya tidak punya bukti otentik bahwa saya pernah jadi wisudawan di kampus gadjah duduk ini. Tidak pernah ada foto di depan panggung saat tali dipindahkan dari satu sisi ke sisi lainnya, ataupun saat bersalaman dengan ketua jurusan dan petinggi lainnya sambil tersenyum sumringah (saya pun tidak ingat, senyum saya waktu itu beneran sumringah gak ya?).

Jangan tanya: ada atau tidak foto di studio selepas wisuda terpajang di dinding rumah orang tua ataupun rumah saya? Jawabannya: tentu tidaaak…! Meskipun sepertinya saya berfoto di studio foto dadakan yang digelar di Sabuga saat wisuda S2 saya, sampai pagi ini pun saya tidak bisa menemukan bukti otentik tersebut. Percuma rasanya capek-capek berdiri mengantri di studio foto saat hamil beberapa minggu anak pertama saya (waktu itu, saya belum tahu kalau ternyata ada penumpang gelap yang ikutan saya dan paksu wisuda, hihihi….). Yang ada hanya foto dengan suami dan oom serta tante saya yang menemai saya wisuda S2. Itu pun, sampai sekarang masih dicari-cari… gegara lupa tersimpan di mana. Satu yang saya sesali, tidak ada satu pun foto saya dengan ibu saya yang sudah almarhumah saat saya diwisuda S1. Padahal, peran beliau sangat besar sampai akhirnya saya lulus dari kehidupan kampus di Bandung 😔😔 Ayah saya berpulang saat saya masih kuliah di tingkat tiga, jadi entah dengan siapa ibu saya waktu itu datang. Entah sendirian, entah dengan salah satu kerabat. Saya lupa. Maklum, faktor U.

Hal lain yang saya ingat adalah saat nama saya dipanggil ke depan waktu wisuda sarjana di GSG (iyah, saya sempat mengalami wisuda di GSG, jadi saya sudah menjalani wisuda di 2 tempat). Eh, tapi barusan seorang teman mengingatkan, “Bukannya kita wisuda di Sabuga ya?” Huhuhu… lagi-lagi faktor U menjadi kambing hitam atas memori yang mulai tergerus jaman. Bisa jadi saya ternyata memang diwisuda di Sabuga, dan termasuk angkatan-angkatan awal yang menikmati senangnya diwisuda di gedung baru yang saat itu akustiknya termasuk yang terbaik. Semoga ada teman yang bisa memberi pencerahan: wisuda di Sabuga dimulai sejak kapan ya?

Waktu saya diwisuda, teman-teman di PSM bertepuk tangan meriah untuk saya. Senang sekali rasanya. Privilege sebagai unit yang bisa masuk di acara seperti ini adalah bisa bertepuk tangan atau menyoraki teman-teman seunit yang diwisuda. Unit lain yang hadir sebagai pendukung wisuda pun begitu. Setiap ada wisudawan yang dulunya aktif di unit tersebut pasti akan diberisikin, baik lewat tepukan tangan, sorak-sorai, ataupun instrumen tradisional yang mereka mainkan. Saya rasa, orang tua ataupun kerabat wisudawan yang kadang datang dari luar kota pun ikut bangga saat sang wisudawan ditepuki oleh teman-temanya.

Arak-arakan menuju jurusan setelah wisuda sarjana selesai pun tak kalah serunya. Di perjalanan terlihat beberapa jurusan yang memang sudah terkenal sebagai musuh bebuyutan saling lempar-lemparan balon air atau menembakkan pistol air. Belum lagi seru-seruan lainnya. Sudah lupa rasanya kalau diri ini pakai kebaya. Untungnya sarung yang dipakai sengaja dibuat tidak sempit, jadi masih bisa berjalan dengan leluasa. Sampai di jurusan, ada lagi acara pelepasan di jurusan sekaligus makan siang. Yang ditunggu-tunggu oleh wisudawan AR biasanya pembacaan kisah sang wisudawan selama ngampus di kampus tertjintah. Kisah yang biasanya berisi kesan-kesan atau memori teman lain tentang wisudawan kadang membuat kami, wisudawan, harap-harap cemas, soalnya biasanya cerita yang dibacakan benar-benar ditutup rapat-rapat sampai akhirnya tergelar di depan khalayak ramai. Bisa-bisa, yang keluar justru cerita-cerita memalukan atau memilukan yang ingin dilupakan. Kalau sudah begini sih mendingan langsung ambil sekop, gali tanah, trus nyemplungin diri ke lubang. Toga dilempar aja ke luar lubang. Malunya itu lhooo…. dobel-dobel karena hampir bisa dipastikan bahwa orang tua (dan PW) hadir di sini 🙈🙈

Sejak pagi saya scroll sana-sini, tapi hanya menghasilkan beberapa foto kenangan selama ngampus, termasuk beberapa foto saat manggung di konser PSM dan beberapa acara lainnya. PSM ini memang unit kegiatan favorit saya. Kayaknya justru dulu lebih sering mangkal di PSM sebelum dan sesudah kuliah dibanding nongkrong di tempat lain. Kalau tentang ini kayaknya mesti dibikin postingan sendiri deh…. Soalnya banyak banget ceritanya, hihihi….

Alhamdulillah masih ada jejak bahwa saya pernah kuliah dan beraktivitas di ITB. Yang lebih alhamdulillah lagi adalah saya jadi berkenalan dan bersahabat dengan teman-teman, yang persahabatannya tak lekang oleh waktu, selama ngampus di Ganesha 10 ini. Kampus yang dulu saat saya kecil dan sering berkuda di depan ITB saya kira sebagai padepokan silat 🙈🙈 Waktu itu, di depan Aula Timur dan Aula Barat yang legendaris saya sering melihat orang berlatih beladiri. Maaphkeuun lah… imajinasi anak kecil yang seringnya terlalu ajaib ini.

Di hari ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada kampus yang sudah membesarkan saya. Dirgahayu ITB, semoga cita-cita mulia untuk mengembangkan kepak sayap anak-anak bangsa selalu diridhoi Allah SWT.

Demi Tuhan, bangsa, dan almamater 🌷

****

Dengan bangga kami seru namamu
Almamater nan jaya ITB tercinta
Besar nian sumbangsihmu bagi negeri
Bagi cita nan mulia masyarakat sejahtera
Oh Tuhan kami mohon restu dan petunjukmu
Dalam tugas dan bakti pada nusa dan bangsa

#100tahunITB
#SekaliTemanTetapTeman
#InHarmoniaProgressio

Bermain sebagai Sarana untuk Memupuk Kreativitas dan Imajinasi Anak

“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution”

Albert Einstein


Waktu masih TK A, anak saya Anja bercerita, di sekolah, waktu pelajaran menggambar gurunya meminta dia mengganti warna langit yang dibuatnya menjadi biru, sewajarnya warna langit. Saya bertanya, “Memang kamu warnain langitnya pakai warna apa, kak?” Anja menjawab bahwa warna langitnya ungu. Warna yang memang tidak umum digunakan untuk mewarnai langit, meskipun senja ada kalanya berwarna semburat keunguan.

Sebagai orang dewasa, meskipun kita mendorong anak-anak untuk berpikir kreatif, terkadang tanpa kita sadari kita membatasi imajinasi mereka. Kita menggunakan pengalaman yang kita miliki untuk memberikan referensi pada anak: apa warna langit, apa warna pohon, berapa kaki yang dimiliki sapi, dan sebagainya. Kita mungkin merasa khawatir bahwa mereka belum bisa membedakan antara kenyataan dan fiksi; bahwa tidak ada langit yang berwarna ungu, ataupun sapi yang berkaki delapan. Tanpa kita sadari, sebenarnya mereka memahami bahwa unicorn hanyalah fantasi dan tidak berwujud di dunia nyata; bahwa kebanyakan daun berwana hijau, dan bukan biru; dan bahwa susu sapi yang baru diperah berwarna putih dan bukan merah muda serta beraroma stroberi. Hanya saja, seperti halnya fitrah anak yang keingintahuannya besar, mereka ingin mencoba segala sesuatu dan bermain dengan fantasi mereka.

Sebagai orang tua, tentunya kita ingin agar anak kita tumbuh menjadi anak yang kreatif. Saya pun demikian. Meskipun kadang tidak mudah, saya sebisa mungkin mengingatkan diri saya sendiri untuk menahan diri agar tidak menghambat imajinasi mereka.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua?

Sempatkan waktu untuk bermain di alam bebas

Anak-anak kadang saya ajak untuk bermain di luar rumah dan menikmati alam. Mereka senang sekali bermain pasir di pantai, bermain dengan ranting pohon, kemping di tenda, bermain air di sungai, ataupun berjalan di pematang sawah. Dengan berada di alam, anak-anak dapat merasakan suasana yang berbeda dengan yang biasa mereka alami di kota besar. Hal yang berbeda inilah yang turut membantu mereka dalam berimajinasi dan berpikir kreatif.

Namun, kalau pergi ke alam terasa terlalu menyulitkan, hal ini bisa diganti dengan aktivitas bermain di taman. Dengan bermain ayunan atau mainan lainnya di taman, anak juga belajar untuk berimajinasi.

Bermain peran 

Saat anak-anak bermain peran dan berpura-pura menjadi panglima perang atau pemilik toko kue, mereka sesungguhnya melatih kemampuan sosial dan verbal mereka. Saya sering mengajak anak-anak untuk bermain peran, dan kadang saya pun ambil bagian. Saat ini, peran yang mereka gemari adalah peran sebagai hewan pemburu. Terkadang mereka menjadi orca, kadang menjadi komodo, dan sesekali menjadi si raja hutan. Siapa yang menjadi hewan buruannya? Tentu saya atau paksu doooong…. hahaha….. Mana mau kedua anak itu menjadi hewan buruan. Meskipun melelahkan (faktor u yaaa….), saya lihat mereka sangat menikmati bermain peran seperti itu, dan saya bisa melihat bahwa imajinasi mereka jauh berkembang.

Kadang, saya pancing mereka dengan peran yang belum pernah mereka mainkan sebelumnya. Atau, jika sedang musim superhero, saya ajak mereka berpura-pura menjadi pahlawan super sembari meminta mereka menamai diri mereka sendiri (bukan pahlawan super yang sudah ada) serta memilih kekuatan super yang mereka miliki. Saya sering tergelak-gelak mendengar nama yang mereka ciptakan karena seringkali out of the box.

Ajak anak-anak menggambar atau melakukan kegiatan kreatif lainnya 

Kegiatan kreatif seperti melukis, menggambar, membuat kolase, serta kegiatan seni lainnya merupakan sarana untuk mengekspresikan diri bagi anak. Selain sebagai media untuk berekspresi, seni juga melatih fokus dan konsentrasi anak. Tambahan lagi, aktivitas berkesenian dapat membantu anak mengembangkan motorik halus serta koordinasi tangan dan mata. Anak-anak, misalnya, belajar untuk menggenggam dengan memegang pensil ataupun kuas. Dengan menyelesaikan karya yang mereka buat, anak-anak belajar bersabar dan berkonsentrasi. Lalu, anak juga belajar untuk lebih percaya diri karena dengan semakin seringnya mereka berlatih, mereka bisa melihat bahwa karya yang mereka buat sekarang lebih bagus dari karya mereka sebelumnya.

Selipkan kegiatan berpikir kreatif saat berbagi cerita pengantar tidur 

Salah satu rutinitas malam di rumah adalah bedtime story. Saya, paksu, Anja, dan Yoda bergantian untuk membawakan cerita. Kami sejak awal tidak membiasakan diri untuk membacakan cerita pada anak-anak, melainkan untuk bercerita secara langsung. Kami sesekali membawakan dongeng tradisional seperti Malin Kundang ataupun kisah nabi-nabi, namun dengan menggunakan kata-kata kami sendiri. Selain terdengar lebih natural, hal ini juga membantu anak-anak untuk mengingat dan berimajinasi. Namun, biasanya anak-anak meminta saya dan paksu membawakan cerita karangan kami sendiri. Kalau sudah begini, mereka biasanya akan mengembangkan cerita tersebut sesuai khalayan mereka, yang biasanya kami biarkan. Bahkan, kami sering membumbuinya dengan pertanyaan-pertanyaan tambahan agar imajinasi mereka berkembang.

Biasakan untuk bertanya dengan pertanyaan terbuka 

Pertanyaan yang mengharuskan anak untuk menjawab selain dengan “ya” atau “tidak” (open-ended questions) membantu anak untuk mengekspresikan ide mereka serta mendorong mereka untuk berpikir kreatif. Untuk anak-anak balita, pertanyaan seperti ini juga membantu mengasah kosa kata mereka. Kadang, saya mengajak anak-anak untuk menjawab pertanyaan seperti, “Menurut kamu, nanti bagaimana kalau…….?” atau “Apa yang sebaiknya dilakukan?” atau “Apa bedanya ….. dan ….?” atau “Kenapa kamu pilih yang merah?” Saya lihat, anak-anak sering memberikan jawaban yang cukup panjang dan masuk akal, walaupun kadang-kadang jawaban mereka rada-rada ajaib.

Apa lagi yang bisa kita lakukan sebagai orang tua?

Satu yang saya sadari, usia dini merupakan waktu yang tepat untuk memupuk imajinasi dan kreativitas anak-anak. Jadi, bila suatu saat anak-anak mendatangi kita dan bercerita bahwa ia menggambar singa berwarna biru, meskipun syuliiit…. sebisa mungkin kita memberikan respon yang mendorong kreativitas dan imajinasi mereka.

#parenting
#parenthood
#anakusiadini

Berimajinasi — Aktivitas Penting bagi Anak yang Kadang Dilupakan Orang Dewasa

Anak saya yang kedua, Yoda, suka sekali main kardus bekas bolu lapis keju bermerk Padimas. Kotak kardus bekas berukuran panjang 20 sentimeter ini selalu ia bawa ke mana-mana. Entah kenapa, dia suka sekali bermain dengan kardus bekas ini.

Kadang, ia jadikan kardus ini pesawat, lalu berputar-putar mengelilingi ruang tengah sambil menirukan suara pesawat yang sedang terbang.

Di kesempatan lain, Yoda berimajinasi bahwa si kotak kardus yang sudah mulai penyet dan sobek di sana-sini itu adalah setir mobil. Kalau begini, ia akan lari-lari berkeliling rumah sambil memutarkan si kardus ke kiri dan kanan seolah-olah ia sedang menyetir mobil di jalan raya. Kadang, Yoda duduk di dalam kardus bekas sabun yang saya peroleh sebagai wadah pengganti kantong plastik saat berbelanja di supermarket, dan berpura-pura bahwa ia sedang di dalam mobil dan menyetir ke rumah temannya, sekolah, restoran, toko, dan tempat-tempat lainnya.

Sesekali, ia akan menjadikan kardus tadi sebagai tembok atau rumah untuk mainan-mainannya. Pernah pula ia menjadikan kardus ini sebagai TV layar lebar, yang ditaruh di dalam rumah mainannya. Terkadang, ia akan menganggap si kardus ini adalah unit AC yang terpasang di dinding rumah. Pendeknya, tiada hari tanpa bermain dengan si kardus Padimas kesayangannya. Jangan harap kardus itu bisa dibuang tanpa seijin pemiliknya. Ia selalu menganggap si kardus sebagai teman bermainnya. Bila tetiba hilang, bisa-bisa dia menangis seharian.

Saya memang membiarkan anak-anak bermain dengan imajinasi mereka, bahkan sesekali saya dan paksu pun ikut bermain bersama mereka. Kadang mereka berpura-pura menjadi komodo, orca sang ikan pemburu, bajak laut, jenderal polisi, ataupun tokoh-tokoh lainnya, sementara saya dan paksu menjadi lawan mereka. Bukan berarti mereka tidak pernah bermain game…. Mereka terkadang bermain Township, Roblox, ataupun game lain, tapi sengaja saya batasi waktunya. Saya lebih mendorong anak-anak saya untuk bermain dengan imajinasi mereka. Meskipun terkadang kamar menjadi berantakan karena mereka mengubah tempat tidur menjadi kapal dengan layar yang terbuat dari sarung, saya tetap mengijinkan mereka bermain, asalkan setelah itu dibereskan.

Berimajinasi, yang mungkin terlihat sederhana, ternyata merupakan aktivitas yang penting bagi anak. Saat anak bermain dengan imajinasi mereka, ternyata mereka sekaligus belajar: belajar menciptakan hal baru (misalnya unicorn, monster bermata empat, atau mesin waktu), belajar memecahkan masalah (misalnya bagaimana menyelamatkan diri dari tornado), serta belajar untuk berpikir kreatif.

Sally Goddard Blythe, penulis buku The Genius of Natural Childhood: Secrets of Thriving Children, menuturkan bahwa pentingnya berimajinasi dalam aspek tumbuh kembang anak tidak dapat dianggap sepele. Dengan berimajinasi, anak belajar untuk berpikir kreatif dan mengeksplorasi segala kemungkinan yang ada, tanpa batas, yang dapat membebaskan pikiran mereka. Hal ini kemudian dapat membantu anak untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, mendorong munculnya ide baru, ataupun memunculkan cara baru untuk melihat dan merasakan sesuatu, yang merupakan elemen penting dalam berpikir kreatif.

Saat anak-anak bermain dan berkomunikasi dengan boneka mereka, mereka belajar untuk berempati serta memahami apa yang mereka rasakan. Misalnya, dengan menasihati sang boneka agar tidak nakal, mereka belajar memahami mengapa orang tua mereka marah karena sesuatu hal. Atau, dengan menggendong dan menidurkan boneka kesayangan mereka dengan hati-hati, anak belajar untuk menyayangi sekaligus merasakan sebagai pihak yang disayang. Meskipun kadang terlihat lucu dan tidak masuk akal, untuk anak-anak hal ini merupakan tahapan yang penting dalam kehidupan mereka.

Saya kemudian mengingat kembali masa kecil saya. Kedua orang tua saya tidak pernah marah bila saya dan adik saya bermain dengan bantalan kursi dan menyusun semua bantalan kursi tersebut menjadi rumah-rumahan atau mobil-mobilan. Mereka pun mengorbankan tempat tidur mereka untuk menjadi ajang perang-perangan antara saya dan adik saya. Kadang, kami memancing dari atas tempat tidur atau menaiki guling yang dibuat sebagai rakit yang terombang-ambing di lautan lepas. Semua hal tersebut diperbolehkan dengan catatan harus dibereskan setelah kami selesai bermain.

Selama ini, saya hanya menganggap itu sebagai bagian dari masa kecil yang membahagiakan bagi saya. Namun, setelah membaca buku tadi, saya menjadi tahu bahwa hal tersebut penting bagi perkembangan anak, dan saya semakin yakin bahwa mendorong anak untuk bermain dan berimajinasi merupakan hal yang baik bagi tumbuh kembang mereka.

Oh ya, hal terbaik dari bermain peran dengan memanfaatkan imajinasi adalah anak-anak tidak memerlukan alat-alat khusus. Mereka bisa bermain dengan alat apapun yang ada. Mereka tidak memerlukan mobil-mobilan atau tongkat sulap, misalnya, karena guling dan ranting pohon pun cukup untuk memenuhi fantasi mereka. Sama halnya dengan Yoda yang cukup puas dengan bermain bersama teman kesayangannya: si kotak bekas kue bolu bermerk Padimas yang sudah usang dan diselotip di sana-sini.

#parenting
#parenthood
#bermain
#imagination

Kenapa Saya Tidak Suka Film Spider-Man

Kemarin pagi, anak-anak saya bersemangat sekali saat tahu kalau film the Amazing Spider-Man diputar di salah satu kanal di TV kabel. Karena mereka suka filmnya, mau tidak mau saya terbawa sepintasan melihat adegannya atau mendengar dialognya meskipun sebenarnya hati terpaksa. Terlepas dari debat siapa yang lebih keren dan kasep memerankan sang manusia laba-laba: Tom Holland, Andrew Garfield, atauTobey Maguire, saya tidak pernah menikmati film Spider-Man versi manapun.

Bukan, bukan karena mereka kurang ganteng atau kurang matang untuk jadi superheroes. Bukan pula karena ceritanya terlalu remaja untuk emak-emak seperti saya ini. Setelah dipikir-pikir, ternyata yang saya tidak sukai adalah plot ceritanya yang seringnya berisi karakter antagonis yang sebenarnya tidak sepenuhnya jahat. Tokoh antagonis dalam film Spider-Man rata-rata adalah karakter baik yang kemudian berubah menjadi jahat karena keadaan atau nasib yang tidak berpihak pada diri mereka.

Dalam film Spider-Man yang dibintangi Tobey Maquire, tokoh Green Goblin adalah alter-ego dari Norman Osborn yang menganggap Peter Parker sebagai anaknya sendiri. Kecerdasan serta minat Peter terhadap sains, yang serupa dengan Norman, membuat rasa sayang Norman pada Peter kadang terlihat melebihi kecintaannya pada Harry, anak kandungnya. Green Goblin, yang akhirnya tewas di tangan Spider-Man pun, menunjukkan rasa penyesalan dan kasihnya terhadap lawannya di akhir hayatnya, yang tentunya berlawanan dengan karakter antagonis pada umumnya.

Film Spider-Man 2 menampilkan Doctor Octopus, yang saat itu masih dikenal dengan nama Otto Octavius, yang awalnya merupakan ilmuwan di Oscorp dan sekaligus menjadi mentor Peter Parker. Karena terjadi ledakan yang disebabkan oleh ketidakstabilan reaktor saat sang ilmuwan mengadakan demonstrasi tangan robot yang dikembangkannya, ia bertransformasi menjadi Doctor Octopus yang pikirannya dikendalikan oleh tangan mekanis berwujud tentakel yang kini menempel ke punggungnya. Ia terbawa oleh kesedihan karena meninggalnya istri yang dicintainya dalam insiden ledakan tersebut dan menyalahkan Spider-Man. Namun, setelah serangkaian kejahatan yang dilakukannya, di akhir pertempurannya Doctor Octopus akhirnya tewas karena berusaha melakukan kebaikan: menghentikan eksperimen berbahaya yang dilakukannya dengan mengorbankan nyawanya agar tidak jatuh korban.

Di Film the Amazing Spider-Man yang dibintangi Andrew Garfield, tokoh the Lizard yang merupakan musuh Spider-Man adalah efek samping dari percobaan regenerasi jaringan tubuh dengan menggunakan DNA kadal yang dilakukan oleh Dr. Curt Connors, yang merupakan kolega Richard Parker, ayah Peter Parker, semasa hidupnya.

Konflik perasaan antara tokoh protagonis dan antagonis lainnya terdapat di film Spider-Man: Homecoming. Film yang dibintangi oleh Tom Holland ini menampilkan karakter antagonis Vulture atau Adrian Toomes yang merupakan ayah dari Liz, teman sekolah yang ditaksir oleh Peter Parker.

Sepertinya, film yang merupakan pelepasan dari penatnya kehidupan yang banyak daerah abu-abunya lebih mudah saya cerna dan saya nikmati bila tokoh-tokohnya digariskan dengan gamblang. Untuk saya, rupanya karakter protagonis dan antagonis lebih baik digambarkan secara hitam-putih saja. Kalau baik ya baik, dan kalau jahat ya jahat. Tidak usah galau dari baik berubah menjadi jahat, lalu insyaf dan berubah kembali menjadi baik. Buat saya, kalau jahat, ya jangan tanggung-tanggung, sekalian saja seperti Thanos, yang membuat semua penonton sebal melihatnya. Namanya juga film tentang superheroes, karakter antagonisnya juga harus supervillain dooong….. Jangan cemen dan jangan gantung: jahat jangan setengah-setengah, hahaha….

Alasannya sederhana, saya tidak suka emosi saya bercampur-baur dengan rasa sedih dan kasihan melihat interaksi perasaan antara tokoh protagonis dan antagonis tersebut, terlebih di film fantasi tentang pahlawan super. Untuk saya, lebih baik sekalian saja yang jahat tetap jahat, sampai akhirnya tewas di tangan sang jagoan atau ditangkap pihak berwajib. Mungkin biar puas sekalian. Kapokmu kapan?? Kira-kira begitu.

Aneh? Mungkin. Tapi saya pun termasuk orang yang tidak keberatan membaca sinopsis atau bahkan spoiler sebelum saya menonton suatu film, di saat kebanyakan penonton menghindari untuk membaca atau mendengar tentang isi sebagian dari film tersebut sebelum mereka menontonnya. Lebih baik untuk saya jika saya sudah tahu jalan ceritanya sebelum saya menonton suatu film, terlebih bila saya menonton film tersebut di bioskop. Tempat yang mengharuskan saya untuk diam di tempat duduk saya dan terperangkap tidak bisa kabur ke mana-mana.

Dalam menonton film saya ingin agar emosi saya stabil-stabil saja. Naik…. turun…. tapi sedikit. Tidak seperti lagu Naik ke Puncak Gunung, yang potensi naik-turunnya tinggi sekali 😁 Saya ingin semuanya terprediksi, makanya saya lebih senang bila ada contekan tentang isi film tersebut. Saya ingin akhir ceritanya standard: yang jahat kalah, dan yang baik menang. Tidak ada dalam kamus saya jagoan tewas di tangan karakter antagonis. Oleh karena itu, saya membutuhkan waktu setahun sebelum akhirnya mau duduk manis menonton film Avengers: the End Game. Itu pun butuh berkali-kali sebelum akhirnya saya bersedia untuk menonton filmnya secara utuh. Pertama kali menonton, saya hanya menonton sedikit di depan, sedikit di tengah, dan sedikit di akhir. Hanya sekadar cukup untuk merangkai jalan ceritanya. Yang lebih epik lagi adalah film Titanic. Jangan syediiiih…. saya perlu waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya berdamai dengan diri saya dan mengalah serta menonton film tersebut. Sama dengan film Avengers: the End Game, saya perlu beberapa kali menonton film ini sampai akhirnya sanggup menonton filmnya dari awal hingga selesai 🙈

What a Wonderful World! Melintasi Batas dengan Lagu

Bulan Mei lalu, di salah satu grup WA yang saya ikuti beberapa teman melemparkan ide untuk membuat video menyanyi yang melibatkan teman-teman paduan suara. Lagu yang akan dinyanyikan adalah ‘What a Wonderful World’, lagu yang diciptakan oleh Bob Thiele dan George David Weiss serta dipopulerkan oleh Louis Armstrong di tahun 1967. Gayung bersambut, dan banyak teman yang langsung mendaftarkan diri untuk ikut ambil bagian, termasuk saya. Saya pikir, kapan lagi bisa seru-seruan nyanyi-nyanyi bareng teman-teman yang sudah lama banget gak ketemu? Di jaman pandemi begini…. ngupi-ngupi syantik bertiga aja riweuh banget protokolnya, hehehe…. apalagi ngariung bareng nyanyi-nyanyi bergerombolan gini….

Setelah grup WA khusus untuk persiapan menyanyi dibentuk, langsung saya pelajari lagunya. Untung lagunya lagu yang populer dan saya kenal banget, jadi lumayan memudahkan. Plus, golongan suara saya Sopran, meskipun Sopran 2, jadi cenderung main di nada utama… gak miring-miring atau lari terlalu jauh dari nada lagu asli. Psssttt…. mengaku dosa sebentar…. Saya ini, meskipun anggota paduan suara waktu sekolah dan semasa kuliah, sama sekali gak bisa meraba not angka (bisa siiiih….. tapi perlu waktu). Kalau not balok (iyeesss…. yang kayak toge ituuuh) masih agak lebih mendingan deeeh…. tapi ya gak jago juga…. Tapi, karena secara visual keliatan naik atau turunnya, lebih bisa teraba harus naik atau turun seberapa dari nada awal.

Jadi, praktis partitur saya gunakan hanya untuk panduan lirik (duuh… sayang amat itu partitur) secara di rumah pun saya tidak punya alat musik. Untung di tiap golongan suara ada teman yang menjadi pemandu lagu. Jadi, saya bisa mengikuti nada yang dinyanyikan teman tersebut sembari melihat partitur. Satu masalah beres, siap dicentang: “done”.

Satu masalah teratasi, check list lain menanti. Untuk kirim rekaman suara dan video bagaimana? Kesepakatan di grup, latar belakang harus polos warna terang. Untung hal ini tidak menjadi masalah. Spot yang sesuai kriteria tersedia di rumah. Saya gak perlu nurun-nurunin lukisan atau pajangan lainnya, atau repot-repot memasang sprei polos sebagai latar belakang, hehehe….

Yang menjadi masalah adalah waktu pengambilan rekaman suara dan video. Anak-anak sih sudah mafhum kalau emaknya hobi menyanyi. Jangankan tarik suara, tarik urat pun sudah menjadi sebagian dari iman, hahaha…. Masalahnya, kapan rumah ini pernah sepi? Pagi-siang-sore-malam pasti penuh keriuhan. Satu-satunya waktu ya hanya tengah malam, huhuhu…. Masalahnya, anak-anak hanya mau tidur kalau ditemani. Daaan….. tahu sendiri kan yaaa…. kalau sudah masuk kamar, itu alamat keluar kamarnya lagi setelah berganti hari 😓

Akhirnya, di hari tenggat pengumpulan rekaman, paksu membantu menemani anak-anak tidur agar saya bisa tenang rekaman. Namanya bukan penyanyi profesional, ya rekamannya mesti diulang berkali-kali supaya hasilnya bisa alhamdulillah. Itu pun, pernah di satu kesempatan, lagi asyik-asyiknya menyanyi (pas gak ada salah nada atau salah lirik)… tukang sekoteng lewat. Duuuuuh…. kebayang kan di tengah malam yang sunyi ada bunyi “ting… ting… ting….!” nyaring masuk ke rekaman? Huhuhuhu…. 😭😭

Alhamdulillah, rekaman tetap bisa disetorkan tepat waktu meskipun sudah masuk injury time. Setelah selesai, saya masuk kamar daaaan…. jeng jeng jeeeng….. anak-anak masih belum tidur…! Kata paksu, anak-anak gak mau tidur tanpa ibunya. Hiiiks….. Bye kasuuurrr…. tugas negara menanti.

Meskipun rekaman suara lumayan menantang, rekaman video juga tidak kalah menantangnya kalau menurut saya. Bukan apa-apa…. saya itu bukan #timdandan. Waktu situasi normal aja saya jarang dandan… apalagi ini…. dandan hanya demi rekaman video, yang setelah itu harus dihapus karena toh gak pergi ke mana-mana. But, a woman’s got to do what a woman’s got to do. Jadi, ya dandan lah saya…. pakai bedak tipis-tipis, lip gloss, dan sedikit warna di mata serta pipi. Bulu mata? No way laaah…. gak punya juga saiyaah…. 😅 Pingin deh belajar dandan dari teman saya yang jago-jago…. kayaknya mesti diagendakan nih setelah pandemi berlalu (kayaknya banyak banget ya agenda mamak pasca Covid).

Setelah melalui proses penyuntingan, akhirnya tanggal 9 Juni dirilislah video ini. Dua hari lebih awal dari target yang mulanya ditetapkan. Video ini diramaikan oleh 52 penyanyi yang tinggal di 3 benua berbeda, dan diiringi permainan piano MasProf Bambang Suryoatmono, yang sekaligus berperan sebagai music director dan audio-video editor. Ada bintang tamunya juga lho…. Yang piawai memainkan harmonika adalah Pak Kadarsah Suryadi yang menjabat sebagai Rektor ITB di periode 2015-2020.

Yang menakjubkan, rentang angkatan yang meramaikan video ini ternyata cukup jauh. Setelah ditelusuri, penyanyi dan pemusik di video ini berasal dari angkatan 1965 sampai 2005, dan dari 16 jurusan di ITB. Saking jauhnya rentang angkatan tersebut, seriusan ada dosen saya yang ikut menyanyi di sini, hehehe….. Kapan lagi dosen dan mahasiswa bisa nyanyi bareng?

Yang jelas, saya menikmati banget proses pembuatan video ini, termasuk guyon-guyon seru-seruan hingga tengah malam dengan teman-teman yang sudah lama banget gak ketemu…. Kebayang lah, kalau ini dilakukan dengan cara konvensional, kapan kami bisa ketemu untuk latihan? Sebagian teman saya termasuk orang yang super banyak kesibukannya. Agak menantang pasti untuk mereka jika diharuskan latihan rutin. Justru ketemu virtual ini yang menyebabkan hal yang sepertinya sulit dibayangkan menjadi mungkin.

Untuk teman-teman, selamat menikmati video persembahan kami ya: Paduan Suara Dosen dan Alumni ITB. Meskipun kita berada di tengah keprihatinan pandemi yang memaksa kita semua untuk lebih banyak beraktivitas di rumah… jangan lupa untuk menikmati dunia yang indah ini 🤗

#SekaliTemanTetapTeman
#DiRumahAja

Mati Gaya di Rumah? Tur Virtual ke Museum Dunia, Yuuuuk….

Sudah lebih dari 3 bulan anak-anak #DiRumahAja dan bisa dibilang gak ke mana-mana. Travelling cuma dari kamar ke ruang tengah, trus ke dapur, mampir ke kamar mandi, dan ke ruang makan. Jarak terjauh cuma ke halaman dan teras depan.

Segala aktivitas bermain juga sudah dijalankan. Mulai dari main Lego, main game di HP, masak bareng di dapur, main berburu harta karun, sampai berimajinasi jadi bajak laut, komodo, ikan hiu, dan berbagai karakter lain. Bikin lagu gaje pun dilakoni anak-anak (sampai emaknya ini bingung, apa lagi yang belum yaaa….). Pendeknya, setiap hari adalah hari baru. Mainan hari kemarin belum tentu dimainkan lagi hari ini.

Tadi pagi saya iseng-iseng mengembara di depan laptop. Penasaran. Masak iya siiih… haree geneee…. kita gak bisa ke luar rumah tanpa secara fisik ke luar rumah? Mestinya bisa lah yaaa….. Setelah browsing sana-sini, saya akhirnya ketemu beberapa laman museum yang bisa dikunjungi secara virtual.

Anak-anak yang memang senang main ke museum langsung mendekat ingin tahu. Saya bukakan beberapa laman, lalu mereka mengeksplorasi sendiri. Untuk yang di Indonesia kami hanya berkunjung ke Museum Nasional, sementara untuk yang di mancanegara ada beberapa museum yang bisa dikunjungi melalui laman Google Arts and Culture sehingga kami mengunjungi beberapa di antaranya.

Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Indonesia

Di museum yang lebih sering disebut Museum Gajah ini, saya dengar layanan tur virtual sudah disediakan cukup lama. Tur yang membuat para pengunjung bisa mengintip berbagai ruang pameran dan koleksi museum ini dimulai dari depan museum. Setelahnya, pengunjung bisa menjelajahi museum ini secara panoramik dengan bebas. Bila tertarik dengan salah satu koleksi museum, kita bisa melihat dengan lebih dekat koleksi museum yang ditampilkan, termasuk melihat koleksi ini dari depan, samping, ataupun belakang karena ada pilihan untuk menampilkan koleksi tersebut secara 3D. Setelah memilih untuk menampilkan koleksi tertentu secara 3D, kita pun bisa mendengarkan deskripsi dari koleksi tersebut dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris melalui pilihan ‘narasi’ yang tersedia di halaman koleksi tadi.

Tameng Kelembit Bok di laman Museum Nasional

Anak-anak tadi bergantian mengeklik beberapa koleksi, termasuk koleksi di samping. Reaksi awalnya takjub sembari setengah seyeem karena jalinan rambut di tameng Suku Dayak Kenyah ini tradisinya dibuat dari jalinan rambut manusia. Tapiii… namanya anak-anak, sebentar takut, sebentar kemudian sudah lupa karena sibuk mengeklik koleksi lainnya dan menjelajah bagian lain dari Museum Nasional.

Oya, saya baru tahu kalau ternyata di Museum Gajah kita bisa belajar menari. Saya tadi membaca di lamannya kalau kegiatan menari ini diadakan di hari Sabtu. Nanti sepertinya setelah pandemi ini usai saya akan mampir untuk bertanya lebih lanjut mengenai kegiatan yang diadakan di sini. Saya lihat, di museum ini cukup banyak aktivitas yang diadakan, termasuk kegiatan playdate.

Museo Frida Kahlo, Mexico

Salah satu karya seni yang ditampilkan di laman ini

Kami kemudian menjelajah ke Museum Frida Kahlo di Mexico. Karena tur museum ini difasilitasi oleh Google, teknologi Google’s street view yang biasanya digunakan di Google Map diaplikasikan pada tur virtual ini. Jadi, kami bisa berjalan-jalan dengan santai sembari menikmati karya seni yang dipajang di museum ini.

Tadi, kami pun sempat menikmati taman di museum dan melihat-lihat suasana luar museum. Begitu melihat tanaman lidah mertua (sansiviera), anak-anak langsung berkomentar, “Ih, kayak di sini aja, ada tanaman beginian.” 😀

Solomon R. Guggenheim Museum, New York

Kunjungan virtual ke Museum Guggenheim di New York

Saya termasuk fans berat Museum Guggenheim ini karena struktur gedungnya yang unik. Sayangnya, sejauh ini saya belum berjodoh untuk mengunjungi secara langsung museum yang saya kagumi ini. Dengan adanya tur virtual ini, rasa penasaran saya lumayan terobati. Saya dan anak-anak tadi berjalan menyusuri tangga museum yang berbentuk spiral sembari menikmati karya seni yang ditampilkan di sini.

American Museum of National History, New York

Selain ke Museum Guggenheim, mumpung berkunjung ke New York saya dan anak-anak tadi mampir ke American Museum of National History (hahaha… menghayal….). Di sini anak-anak menonton video tentang Titanosaurus dan T-Rex.

Google Arts and Culture menyediakan bermacam video dari museum-museum di berbagai penjuru dunia, termasuk museum di London dan Berlin. Tadi kami juga sempat menonton beberapa di antaranya.

Kami tadi juga sempat mengintip Kid’s Science Games di American Museum of National History. Menarik juga kegiatan yang ditampilkan. Selain menonton video dan membaca cerita, anak-anak juga bisa melakukan hands-on activities seperti membuat kue yang berbentuk seperti planet (cosmic cookies). Tadi, begitu membaca aktivitas ini, anak-anak langsung janjian untuk mencobanya besok.

Masih kurang? Tenaaang…. Masih banyak kok yang bisa dijelajahi

Tadi saya sempat menjelajah sebentar, dan saya lihat Google Arts and Culture ini juga menyediakan video mengenai beberapa kota di dunia. Sepertinya ini bisa menjadi alternatif penjelajahan berikutnya. Selain itu, setelah hari ini berkeliling museum via tur virtual, mungkin lain hari kami akan menonton berbagai opera dan seni pertunjukan lainnya melalui tur virtual di Google Arts and Culture.

Pandemi ini ternyata ada hikmahnya juga. Mengintip belahan dunia lain lewat tur virtual seperti yang hari ini kami rasakan sepertinya tidak akan sempat dilakukan kalau saya dan anak-anak tidak terpaksa berdiam di rumah setiap hari. Kalau setiap hari bisa menjelajah seperti tadi, beneran deh, every day is a new adventure 😀

Design a site like this with WordPress.com
Get started