“Yuk, Mas Ichi, mandi,” ajakku sambil tersenyum pada anak keduaku, Yoda yang biasa disebut dengan panggilan sayang ‘Mas Ichi’ di rumah. Ia segera berlari mengambil handuk lalu membawanya ke kamar mandi. Alhamdulillah, anak-anakku tidak pernah menyulitkan aku bila diingatkan kewajiban mereka untuk mandi. Kalaupun sedang asyik bermain atau menonton TV, aku cukup memberikan mereka pilihan, misalnya, “Mas Ichi mau mandi setelah film selesai tapi habis itu gak main lagi, atau mau mandi sekarang terus main sampai jam 17.30?” Hihihi… aku sebenarnya curang. Pilihan yang kuberikan ini sesungguhnya bukanlah pilihan yang seimbang. Film yang sedang ia tonton saat itu sebentar lagi selesai. Tentu saja ia akan memilih untuk mandi lalu puas bermain.
Aku segera menemaninya ke kamar mandi untuk memastikan semuanya bisa tergapai tangannya yang mungil. Setelah semua siap, aku melihat ke arah jam dinding yang tergantung tepat di seberang shower box. Kulihat jam menunjukkan pukul 16.35. Aku menengok anakku yang mulai bersiap-siap mandi. “Mas, nanti selesai mandi pas jarum panjangnya di angka 10 ya,” kataku sambil menunjuk ke arah jam. Ia memang senang mandi sambil bermain bila saatnya mandi sore. Jadi, kuberikan ia waktu tambahan. “Habis itu sikat gigi dan kumur selesai di angka 11,” aku melanjutkan. Anakku yang berumur 6 tahun ini mengangguk. Aku lalu memastikan pemahamannya, “Jadi Mas Ichi selesai mandi di angka berapa?” Yoda melihat jam lalu berkata, “Angka 10.” Aku mengangguk. “Terus, selesai sikat gigi dan kumur di angka berapa?” Anakku kembali menengok ke arah jam dinding dan menjawab, “Di angka 11.” Aku tersenyum dan memberi tanda jempol. “Mas Ichi pinteeerrr…. udah tahu kapan selesai mandinya,” kataku. “Nanti mommy ke sini lagi ya,” ujarku sambil menutup pintu shower box.
Aku kemudian beranjak keluar, tetapi kupastikan pintu kamar mandi terbuka sedikit agar mudah kuawasi. Kedua anakku memang kubiasakan untuk mandi sendiri sejak mereka masih balita. Tentu saja aku masih mengecek apakah rambut mereka sudah tidak bersisa busa sampo ataukah mereka sudah benar-benar bersih. Menyikat gigi pun begitu. Aku masih mengecek kebersihan gigi geligi mereka dan memastikan bahwa mereka menyikat gigi dengan benar. Ritual mandi sendiri ini kuanggap sebagai latihan agar mereka mandiri.
Untuk memastikan agar mereka tidak bermain terlalu lama di kamar mandi, aku biasanya membatasi waktu mereka. Untuk anakku yang pertama, Anja, mengingatkan soal durasi mandi lebih mudah karena ia sudah mengerti cara membaca jam. Untuk Yoda lebih sulit karena ia baru sebatas bisa memahami per setengah jam. Kalau waktu di antaranya, ia masih belum terlalu bisa. Untuk memudahkan, aku selalu menunjukkan di mana jarum panjang berada sembari pelan-pelan mengenalkan konsep membaca waktu.
Mendekati jam 16.50 aku kembali ke kamar mandi. Kuketuk pintunya sebelum aku masuk. Setelah Yoda menjawab, aku membuka pintu. Kudekati ia. “Gimana mas, sudah keramas?” Ia mengangguk, “Udah, mommy. Ini Mas Ichi lagi mandi.” Kulihat rambutnya memang sudah basah. Aku lalu mengecek apakah masih ada busa sampo tertinggal di helai-helai rambutnya. Setelah kupastikan bersih, aku keluar. Tak lama kudengar air dimatikan, lalu setelah beberapa kali bunyi klotak-klotak, kudengar ia menyikat giginya. Ok, berarti aku nanti tinggal mengecek apakah giginya sudah bersih.
Jam 16.53 aku kembali masuk ke kamar mandi dan mengecek keadaan Yoda. Kulihat ia hampir selesai menyikat giginya. Setelah mengecek giginya sebentar, kuambil handuk yang tergantung di kamar mandi dan membungkus badannya yang basah.
Sebelum beranjak keluar, aku melirik jam dinding. Tepat jam 16.35 Yoda selesai mandi sesuai dengan yang disepakati.
*****
Seperti rencanaku kemarin, hari ini aku mempraktikkan cara berkomunikasi secara produktif pada anakku yang kedua. Untuk hari ini, aku hendak berbagi tentang pengalamanku mempraktikkan komnikasi produktif dalam aktivitas mandi sore yang ia lakukan. Untuk aktivitas lainnya, aku ceritakan di lain hari saja ya…!
Tadi sore, seperti biasanya aku memberikan target yang jelas kepada anakku, yaitu, jam berapa ia harus selesai mandi. Aku mendapati bahwa anak-anak akan meudah mengikuti arahan bila mereka diberikan target yang terukur. Terukur artinya dalam terminologi yang mereka pahami. Untuk anakku Yoda, kata-kata seperti ‘sepuluh menit lagi’ atau ‘lima menit aja ya’ terkadang masih terlalu abstrak. Ia seringkali kesulitan merasakan seberapa lama atau sebentarnya 5 menit itu. Dengan memberikan batasan waktu menggunakan istilah yang ia mengerti, anakku dengan mudah mengikuti arahan yang kuberikan.
Aku tentu saja tidak mudah percaya bahwa ia akan mengikuti kesepakatan yang kami buat. Itulah fungsi pengawasan. Itu sebabnya aku beberapa kali mengecek apakah ia mandi dan menggosok gigi sesuai dengan tenggat yang diberikan. Kadang memang melelahkan karena harus beberapa kali ke kamar mandi sementara aku sendiri memiliki aktivitas lain. Namun, demi konsistensi untuk mengajarinya tanggung-jawab dan disiplin, aku harus ‘menikmati’ ritual bolak-balik ini, hehehe….
Oh ya, aku juga melakukan evaluasi. Jadi, sebelum anak-anak mulai mandi aku menanyakan apakah waktu yang diberikan cukup untuk mereka. Kadang, anak-anakku ingin mandi lebih lama (lebih tepatnya main air lebih lama, hihihi). Tugasku adalah mempertimbangkan apakah ada aktivitas lain yang mengharuskan mereka mandi dengan cepat. Bila tidak ada, biasanya aku akan memberikan kelonggaran. Dengan demikian, waktu mandi pun cukup fleksibel: kadang 15 menit, kadang 10 menit, dan sesekali 20 menit.
Untuk Sabtu besok, aku akan meneruskan mempraktikkan komunikasi produktif yang aku jalankan hari ini. Namun, siapa dan aktivitas apa yang akan aku bagikan ceritanya masih belum aku tentukan. Kita lihat besok ya….
Berapa bintangku hari ini? Untuk emosi yang stabil terjaga serta senyum yang selalu terkembang di wajah anakku, boleh dong ya aku menghadiahi diriku dengan Bintang 5….? Lagipula, untuk hari-hari awal, jangan terlalu keras pada diri sendiri, ah! Berikan reward untuk diri sendiri agar lebih semangat…! 🙂 🙂
#harike-2
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia






