Yuuuuk, Mandi….!

“Yuk, Mas Ichi, mandi,” ajakku sambil tersenyum pada anak keduaku, Yoda yang biasa disebut dengan panggilan sayang ‘Mas Ichi’ di rumah. Ia segera berlari mengambil handuk lalu membawanya ke kamar mandi. Alhamdulillah, anak-anakku tidak pernah menyulitkan aku bila diingatkan kewajiban mereka untuk mandi. Kalaupun sedang asyik bermain atau menonton TV, aku cukup memberikan mereka pilihan, misalnya, “Mas Ichi mau mandi setelah film selesai tapi habis itu gak main lagi, atau mau mandi sekarang terus main sampai jam 17.30?” Hihihi… aku sebenarnya curang. Pilihan yang kuberikan ini sesungguhnya bukanlah pilihan yang seimbang. Film yang sedang ia tonton saat itu sebentar lagi selesai. Tentu saja ia akan memilih untuk mandi lalu puas bermain.

Aku segera menemaninya ke kamar mandi untuk memastikan semuanya bisa tergapai tangannya yang mungil. Setelah semua siap, aku melihat ke arah jam dinding yang tergantung tepat di seberang shower box. Kulihat jam menunjukkan pukul 16.35. Aku menengok anakku yang mulai bersiap-siap mandi. “Mas, nanti selesai mandi pas jarum panjangnya di angka 10 ya,” kataku sambil menunjuk ke arah jam. Ia memang senang mandi sambil bermain bila saatnya mandi sore. Jadi, kuberikan ia waktu tambahan. “Habis itu sikat gigi dan kumur selesai di angka 11,” aku melanjutkan. Anakku yang berumur 6 tahun ini mengangguk. Aku lalu memastikan pemahamannya, “Jadi Mas Ichi selesai mandi di angka berapa?” Yoda melihat jam lalu berkata, “Angka 10.” Aku mengangguk. “Terus, selesai sikat gigi dan kumur di angka berapa?” Anakku kembali menengok ke arah jam dinding dan menjawab, “Di angka 11.” Aku tersenyum dan memberi tanda jempol. “Mas Ichi pinteeerrr…. udah tahu kapan selesai mandinya,” kataku. “Nanti mommy ke sini lagi ya,” ujarku sambil menutup pintu shower box.

Aku kemudian beranjak keluar, tetapi kupastikan pintu kamar mandi terbuka sedikit agar mudah kuawasi. Kedua anakku memang kubiasakan untuk mandi sendiri sejak mereka masih balita. Tentu saja aku masih mengecek apakah rambut mereka sudah tidak bersisa busa sampo ataukah mereka sudah benar-benar bersih. Menyikat gigi pun begitu. Aku masih mengecek kebersihan gigi geligi mereka dan memastikan bahwa mereka menyikat gigi dengan benar. Ritual mandi sendiri ini kuanggap sebagai latihan agar mereka mandiri.

Untuk memastikan agar mereka tidak bermain terlalu lama di kamar mandi, aku biasanya membatasi waktu mereka. Untuk anakku yang pertama, Anja, mengingatkan soal durasi mandi lebih mudah karena ia sudah mengerti cara membaca jam. Untuk Yoda lebih sulit karena ia baru sebatas bisa memahami per setengah jam. Kalau waktu di antaranya, ia masih belum terlalu bisa. Untuk memudahkan, aku selalu menunjukkan di mana jarum panjang berada sembari pelan-pelan mengenalkan konsep membaca waktu.

Mendekati jam 16.50 aku kembali ke kamar mandi. Kuketuk pintunya sebelum aku masuk. Setelah Yoda menjawab, aku membuka pintu. Kudekati ia. “Gimana mas, sudah keramas?” Ia mengangguk, “Udah, mommy. Ini Mas Ichi lagi mandi.” Kulihat rambutnya memang sudah basah. Aku lalu mengecek apakah masih ada busa sampo tertinggal di helai-helai rambutnya. Setelah kupastikan bersih, aku keluar. Tak lama kudengar air dimatikan, lalu setelah beberapa kali bunyi klotak-klotak, kudengar ia menyikat giginya. Ok, berarti aku nanti tinggal mengecek apakah giginya sudah bersih.

Jam 16.53 aku kembali masuk ke kamar mandi dan mengecek keadaan Yoda. Kulihat ia hampir selesai menyikat giginya. Setelah mengecek giginya sebentar, kuambil handuk yang tergantung di kamar mandi dan membungkus badannya yang basah.

Sebelum beranjak keluar, aku melirik jam dinding. Tepat jam 16.35 Yoda selesai mandi sesuai dengan yang disepakati.

*****

Seperti rencanaku kemarin, hari ini aku mempraktikkan cara berkomunikasi secara produktif pada anakku yang kedua. Untuk hari ini, aku hendak berbagi tentang pengalamanku mempraktikkan komnikasi produktif dalam aktivitas mandi sore yang ia lakukan. Untuk aktivitas lainnya, aku ceritakan di lain hari saja ya…!

Tadi sore, seperti biasanya aku memberikan target yang jelas kepada anakku, yaitu, jam berapa ia harus selesai mandi. Aku mendapati bahwa anak-anak akan meudah mengikuti arahan bila mereka diberikan target yang terukur. Terukur artinya dalam terminologi yang mereka pahami. Untuk anakku Yoda, kata-kata seperti ‘sepuluh menit lagi’ atau ‘lima menit aja ya’ terkadang masih terlalu abstrak. Ia seringkali kesulitan merasakan seberapa lama atau sebentarnya 5 menit itu. Dengan memberikan batasan waktu menggunakan istilah yang ia mengerti, anakku dengan mudah mengikuti arahan yang kuberikan.

Aku tentu saja tidak mudah percaya bahwa ia akan mengikuti kesepakatan yang kami buat. Itulah fungsi pengawasan. Itu sebabnya aku beberapa kali mengecek apakah ia mandi dan menggosok gigi sesuai dengan tenggat yang diberikan. Kadang memang melelahkan karena harus beberapa kali ke kamar mandi sementara aku sendiri memiliki aktivitas lain. Namun, demi konsistensi untuk mengajarinya tanggung-jawab dan disiplin, aku harus ‘menikmati’ ritual bolak-balik ini, hehehe….

Oh ya, aku juga melakukan evaluasi. Jadi, sebelum anak-anak mulai mandi aku menanyakan apakah waktu yang diberikan cukup untuk mereka. Kadang, anak-anakku ingin mandi lebih lama (lebih tepatnya main air lebih lama, hihihi). Tugasku adalah mempertimbangkan apakah ada aktivitas lain yang mengharuskan mereka mandi dengan cepat. Bila tidak ada, biasanya aku akan memberikan kelonggaran. Dengan demikian, waktu mandi pun cukup fleksibel: kadang 15 menit, kadang 10 menit, dan sesekali 20 menit.

Untuk Sabtu besok, aku akan meneruskan mempraktikkan komunikasi produktif yang aku jalankan hari ini. Namun, siapa dan aktivitas apa yang akan aku bagikan ceritanya masih belum aku tentukan. Kita lihat besok ya….

Berapa bintangku hari ini? Untuk emosi yang stabil terjaga serta senyum yang selalu terkembang di wajah anakku, boleh dong ya aku menghadiahi diriku dengan Bintang 5….? Lagipula, untuk hari-hari awal, jangan terlalu keras pada diri sendiri, ah! Berikan reward untuk diri sendiri agar lebih semangat…! 🙂 🙂

#harike-2
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Bersabar untuk “Menang”

“Bruk!”

Suara telepon genggam yang diletakkan dengan asal membuatku terkejut. Aku menengok ke sebelah. Anakku yang pertama, Anja, terlihat kesal. Matanya pun berkaca-kaca. Ia, yang 10 menit lalu terlihat bersemangat, kini cemberut. Setengah berlari ia masuk ke dalam kamar. Ingin ku menyusulnya, tapi langkahku terhenti. Aku putuskan untuk memberinya sejenak waktu yang dibutuhkannya untuk menenangkan diri.

Setelah meletakkan lauk di meja makan, aku melirik ke arah jam dinding. Sudah lewat beberapa menit sejak anakku masuk ke kamarnya. “Ok, sudah cukup,” aku membatin sambil beranjak ke kamar. Pintu rupanya ia biarkan terbuka, tapi anakku tidur menyamping sambil menutup wajahnya dengan bantal. “Kak,” ujarku lirih menunggu reaksinya. Ia hanya menengok, tetapi tidak memintaku pergi. Ok, ini tandanya aku diperkenankan masuk.

Aku duduk di sampingnya dan kubelai rambutnya. “Kak, kakak kenapa? Kakak sedih?” Ia mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Aku tidak memaksa. Aku teruskan membelai rambutnya sambil pelan-pelan kupeluknya. “Mommy gak akan paksa kakak cerita kalau kakak belum mau cerita… tapi mommy boleh ya peluk kakak?” Ia hanya mengungguk pelan. Tak lama tangisnya kemudian pecah. Sambil terus membelai rambutnya aku bertanya, “Kakak, udah mau cerita kenapa kakak sedih?” Ia mengangguk, dan sambil terisak ia menceritakan kegundahan hatinya. Rupanya ia sedang bermain perang stiker dengan salah satu sahabat sekolahnya. Namun, aturan main yang ditetapkan rupanya terlalu sulit untuknya. Telepon genggam yang digunakannya memang model lama. Sulit sekali baginya untuk memodifikasi apalagi membuat stiker. Jadi, ia hanya bisa bermain dengan stiker yang sudah ada. Ia sudah menyampaikan alasannya ke sahabatnya, tapi sepertinya sahabatnya menolak untuk mempertimbangkan. Hatinya jadi kesal karena ia tidak akan bisa bermain dengan nyaman.

Sudah di ujung lidah rasanya kata-kata ini menunggu diucapkan, “Ngapain sih kak begitu aja sedih. Udah sana main lagi. Gak perlu lah sebegini sedihnya cuma gara-gara main stiker.” Namun, aku memilih untuk diam sambil terus mendekapnya. Aku mengerti bahwa hatinya masih kesal. Apabila aku bereaksi seperti tadi, ia pasti akan segera menutup diri. Padahal, yang sebenarnya kuinginkan adalah keterbukaan dan kepercayaan darinya. Rasa percaya dari anakku bahwa aku tidak akan menghakimi atau menertawakannya.

Alhamdulillah kesabaranku membawa hasil. Anakku ini kemudian meneruskan ceritanya dan menambahkan beberapa detail lain. Aku hanya sesekali mengangguk sambil berusaha menggali lebih jauh akar penyebab kekesalan hatinya: telepon genggamnya yang tidak mumpuni, sahabatnya yang tidak mau mengerti keadaannya, kemungkinan bahwa ia akan kalah dalam perang stiker karena jumlah stikernya yang hanya sedikit, atau penyebab lainnya. Apabila ia ragu atau terlihat enggan, aku berhenti. Kubiarkan ia bercerita.

Setelah itu, kulihat wajahnya mulai bersemu. Aaah…. kelihatannya hatinya mulai tenang; sudah tidak sekelabu sebelumnya. “Kakak terus mau gimana? Masih mau main perang stiker hari ini?” tanyaku. Ia berpikir sebentar sebelum menjawab, “Iya, mommy, tapi sebentar aja. Gak apa-apa kalau kalah. Ini kan cuma mainan,” katanya, “Tapi, Anja paling cuma mau main sebentar, kan ada PR, jadi gak bisa main lama-lama,” tambahnya. Aku tersenyum senang. Aaah… anakku sudah memahami sendiri apa yang sebaiknya dilakukan tanpa harus kucekoki atau kusuruh. Terlebih lagi, ia menyadari bahwa ada hal penting lain yang harus diselesaikan, yaitu kewajibannya membuat PR. Dengan demikian, ia sudah mengerti bahwa ia perlu membagi waktunya dan meletakkan skala prioritas.

Pembicaraan dari ke hati ini pun akhirnya kututup dengan kecupan di dahi. “Mommy hepi deh, anak mommy ini udah ngerti mesti gimana tanpa mommy suruh. Pinter, lagi, udah inget sendiri kalau masih punya PR yang harus dikerjain.” Setelah itu, kupeluk ia erat dan kuajak untuk keluar dari kamar.

*****

Memang tidak mudah untuk mendahulukan kesabaran. Namun, dengan bersabar dan bereaksi dengan tepat, hasil yang lebih baik akan tercapai. Hari ini aku belajar bahwa mengendalikan intonasi suara amat penting. Dengan intonasi yang terkontrol dan bahasa tubuh yang memberikan kesan positif (misalnya dengan memeluk, membelai, dan tersenyum), anakku menjadi lebih terbuka dalam menceritakan tantangan yang ia alami.

Dengan menunjukkan empati pun aku bisa membuat anakku lebih bersedia untuk mengungkapkan perasaannya. Hal yang aku yakin tidak akan ia ceritakan dengan panjang lebar bila aku terjebak untuk bersikap ofensif ataupun menghakimi.

Tambahan lagi, karena aku berfokus pada solusi, anakku menjadi lebih cepat melupakan kekesalannya. Bahkan, tanpa kusuruh pun ia bisa menentukan pilihan yang tepat. Pilihan pantas untuk mendapatkan pujian produktif, yang tentu saja kusampaikan padanya dengan senang hati.

Esok, akan kucoba berkomunikasi secara produktif dengan anak keduaku, Yoda. Semoga bisa seberhasil ini yaaaa….. Hari ini aku gembira sekali. Alhamdulillah komunikasi produktifku berjalan dengan mulus. Mudah-mudahan besok bisa berjalan dengan baik pula.

Berapa bintang kira-kira yang pantas kusematkan pada diriku? Hihihihi…. Aku ingin memberikan hadiah untuk diriku sendiri. Boleh dong ya? Terlebih lagi ini masih langkah pertamaku menjadi petualang bahagia di Pantai Bentang Petualang. Karena itu, kuberikan Bintang 5 untuk kerja kerasku mendahulukan kesabaran, yang tentunya berbuah manis. 🙂

#harike-1
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Udah Merdeka Kok…..

Udah merdeka kok ayam masih mahal sih Pak,” Bu Isti merengut sambal membolak-balik ayam mentah di hadapannya. Pak Sardi, tukang ayam langganan semua penghuni Perumahan Amarilis cuma bisa memanyunkan bibirnya diam-diam. Ia kemudian pura-pura tidak mendengar dan sibuk merapikan sayur bayam dan kangkung yang sesungguhnya sudah berjajar rapi. Tidak ada gunanya berdebat dengan Bu Isti. Mana peduli dia dengan harga yang melonjak karena adanya suplai yang menurun, sementara permintaan terus meningkat karena mendekati hari raya? Bu Isti ini sudah terkenal sebagai “Ibu Merdeka”. Bukan dalam arti merdeka yang sesungguhnya, tapi karena terlalu seringnya ia membawa kata-kata merdeka dalam kalimat sindirannya.

Orang sekompleks sudah mafhum. Berdebat dengan ibu Isti ini bagaikan berbicara dengan tembok. Sebenarnya masih mending berbicara dengan tembok karena tembok pasti hanya akan diam. Sementara Bu Isti? Ia pasti akan memaksakan pendapatnya mengenai “kemerdekaan” meskipun sebenarnya belum tentu valid.

Pernah, Mbak Susi, penjaga kios kelontong di ujung jalan ditegur Bu Isti dengan suaranya yang lantang, “Oalah Mbak Susi…. Udah merdeka kok panci kecil begitu aja belinya kredit.” Mbak Susi kontan meradang. Mentang-mentang tukang kredit keliling sedang mampir ke warungnya, Bu Isti langsung mengambil kesimpulan sesukanya. Lagipula, apa urusan Bu Isti sampai menuduhnya membeli panci dengan cara kredit? Mbak Susi langsung mendebat, “Bu, namanya aja udah merdeka, mau beli kredit kek, cash kek, ya suka-suka.” Tentu saja Bu Isti tidak terima didebat seperti itu. Ia kemudian memberikan balasan yang tidak kalah pedasnya. “Mbak, justru karena udah merdeka itu, tho, sampeyan belinya mbok ya cash. Ngutang itu kayak bangsa gak merdeka. Ndak bebas, mau apa-apa susah karena belum bayar hutang.” Setelah itu Bu Isti melengos pergi. Meninggalkan Mbak Susi yang geram dan tukang kredit yang melongo.

****

Hubungan dengan Bu Isti itu sesungguhnya seperti semacam love and hate relationship: antara cinta dan benci. Penghuni Perumahan Amarilis sudah sepenuhnya maklum, ya begitu lah Bu Isti. Omongannya kadang menyakitkan hati. Namun, sebenarnya hatinya baik. Jika ada tetangga yang tertimpa musibah, Bu Isti ini termasuk yang sregep. Ia tidak segan-segan menyingsingkan lengan untuk membantu sang tetangga yang sedang kesusahan.

Namun ya itu…. kebaikan hatinya sering diawali dengan embel-embel, “Udah merdeka kok…..” kelanjutannya silakan isi sendiri. Ibu Isti selalu bisa menemukan isian yang pas untuk segala situasi. Kalau sudah begini, tetangga yang menerima uluran tangan Bu Isti hanya bisa tersenyum kecut. Tak kuasa menjawab. Mau bagaimana lagi? Lha wong Bu Isti sudah membantu dia kok, ya mana mungkin bisa diprotes.

Di perumahan ini sebetulnya semua orang sudah tahu siapa sebenarnya “musuh” Bu Isti. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bu RT yang lemah lembut tutur katanya itu di dalam hatinya menyimpan sekam. Beberapa bulan terakhir ini Bu RT getem-getem pada Bu Isti gara-gara Bu Isti menyindir Bu RT perihal putra semata wayangnya, Farid, yang belum lama ini dikirim ke Belanda oleh kantornya. “Bu, bu….. Anak kok kerja di Belanda. Udah merdeka kok masih kerja sama penjajah. Kok ya mau tho bu, Mas Farid sing ngganteng iku nyambut gawe ning Londo (Belanda)…. Belanda kan sudah menjajah lebih dari 3,5 abad. Apa kurang lama tho bu?” Bu RT hanya bisa manyun. Sungguh sebuah dilema. Walaupun disebut mengabdi ke penjajah, anaknya dibilang ganteng. Sulit kan untuk marah kalau sang putra kesayangan dibilang ganteng? Nanti bisa-bisa ditarik lagi pujiannya.

****

Hari ini acara perayaan 17 Agustus. Karena sedang pandemi, warga Perumahan Amarilis tidak mengadakan lomba di luar rumah seperti biasanya. Tidak ada yang namanya lomba makan kerupuk, memindahkan kelereng, tarik tambang, lomba catur, ataupun lomba memindahkan belut. Tahun ini, lomba berlangsung dari rumah masing-masing. Yang ada hanya lomba sepeda hias dan lomba menghias tumpeng. Satu untuk mengakomodasi anak-anak, sementara satunya lagi untuk menyenangkan hati para ibu di kompleks. Bapak-bapak tahun ini cukup puas dengan posisi sebagai pendukung istri atau anak mereka masing-masing.

Meskipun dari luar terlihat sepi, sebenarnya warga kompleks sedang sibuk berkutat dengan sepeda ataupun tumpeng masing-masing, termasuk Bu Isti. Sudah sepagian ini ia sibuk berjibaku di dapur. Memeras santan, menanak nasi kuning, lalu memasak segala lauk lainnya untuk ditata di sekitar tumpeng yang tengah disiapkannya.

Waktu mendekati jam 12.00 siang. Tersisa 1 jam dari tenggat setoran foto tumpeng kepada panitia lomba tahun ini. Namun sial, di tengah kesibukannya menggoreng ayam untuk ditata di tumpeng, gas di rumah Bu Isti habis. Buru-buru ia lari ke teras dan menyalakan motor. Sejak suaminya berpulang dua tahun yang lalu karena sakit diabetes, Bu Isti tinggal sendirian. Hanya terkadang anak dan cucunya yang tinggal di Semarang datang menjenguk.

Tujuan Bu Isti tidak jauh. Hanya agen gas dan air mineral di ujung kompleks. Sayangnya, karena hari ini tanggal merah toko langganannya tersebut tutup. Bu Isti mengeluh, “Udah merdeka kok toko malah tutup. Kapan untungnya?”

Bu Isti segera menyalakan motornya kembali. Kali ini ia menyasar toko lain yang terletak tidak begitu jauh toko langganannya. Hanya berbelok di perempatan, dan setelah itu sampai. Bu Isti segera melajukan motornya. Karena buru-buru, ia tidak memperhatikan kalau lampu lalu lintas sudah berubah menjadi merah. Ia terus saja berbelok dan tidak menyadari bahwa Pak Sardi sedang mendorong gerobak sayurnya menyeberangi jalan.

Tabrakan tidak terhindarkan. Untung tidak begitu keras karena hanya menyerempet gerobak Pak Sardi. Namun, tetap saja Bu Isti terjatuh dan gerobak Pak terguling. Melihat yang terjadi, tukang ojek yang mangkal di perempatan jalan segera berlari mendekat dan menolong Pak Sardi serta Bu Isti. Ada yang memapah Pak Sardi, ada yang membantu Bu Isti yang tertimpa motornya, dan ada yang membantu memunguti sayuran yang berserakan. Orang yang lalu-lalang pun sudah mulai menonton tontonan gratis ini.

Sambil meringis menahan sakit, Bu Isti memegangi kakinya yang tertimpa motor. Belum sempat ia berkata-kata, suara nyaring Bu RT mampir ke telinganya, “Bu… bu…. Udah merdeka kok ya masih nyerobot lampu merah.”

****

Kalau Mau Naik Kelas, Ya Ikut Ujian Dulu!

Kesibukan hari ini sungguh tidak terbayangkan sebelumnya oleh saya. Padatnya sudah tidak kalah dari artis kenamaan saking penuhnya hari ini dengan berbagai kegiatan. Selama dua hari terakhir ini saya mengikuti suatu pelatihan live streaming yang diadakan oleh suatu komunitas, yang mengharuskan kami pesertanya melakukan live streaming sebagai persyaratan mengikuti pelatihan. Waktu pelatihan yang hanya memakan waktu 2 hari membuat pelatihan ini dipadati dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan.

Inilah ujian naik kelas pertama saya: membuat kegiatan live streaming berdurasi 10-15 menit 🙈🙈 Untuk yang terbiasa manggung di YouTube, FB Live, IG Live ataupun media sosial lainnya, durasi live streaming ini mungkin terdengar cemen yaaa…. “Yaelaaah….. baru 15 menit, gw dong sejam!” Kira-kira begitu mungkin ya perasaan orang-orang yang memang sudah ahli di bidang ini. Namun, hal itu tidak berlaku bagi saya yang hanya full mom dan bukan artis kondaaaangg (saya mah sebatas kondangan ajah… yang selama Covid ini tidak pernah terima undangan kondangan lagiii… huhuhu….). Groginya itu sampai ubun-ubun. Jangankan mikir go live. Untuk mengoperasikan aplikasinya ajah akyu syuliiiit…..

Dua hari terakhir ini sama sekali tidak terbayangkan oleh saya: tiga kali live streaming berturut-turut padahal sebelumnya sekali pun belum pernah. Pertama kali live streaming tidak perlu ditanyakan lagi rasanya. Memilih antara FB atau IG pun galaunya sudah mirip antara memilih mau beli baju warna apa. Dua-duanya rasanya kalau bisa tidak diambil semuanya 😆 Setelah galau hingga mendekati deadline, akhirnya saya memilih IG. Pertimbangannya? Hihihihi…. hanya karena saya memiliki lebih sedikit follower di IG. Jadi harapannya adalah tidak ada yang menonton (hohoho… tidak semudah itu Rudolfo…. — suer deeeh…. ternyata ada yang nonton 🙈🙈).

Setelah kemarin dag-dig-dug-deeerrr (sumpaaah…! Cuma angkatan jadoel yang bisa ngerti jargon ini) karena mendadak harus jadi artis dadakan di IG Live, hari ini ternyata tidak kurang dari kemarin dashyatnya. Pagi jam 9 harus mengumpulkan tugas: skenario atau rundown sesi siaran langsung berikutnya, plus e-flyer woro-woro sesi siaran langsung itu. Alamaaaak….! Ini sih alamat siaran langsung lagiiiiih…. 😆😆

e-flyer yang saya buat untuk tugas di pelatihan sekaligus peluncuran perdana nama Biru Abu

Secara saya amatiran, yang terpikir bukan konten, tapi malah nama acara. Hahaha…. jadi berasa bikin talkshow ala-ala gituuu… hihihi….. Gimana sih….. kok malah lebih huruy atas sesuatu yang tidak substansial. Eeeeh…. tapi pertapaan gak penting ini ada hasilnya lhoooo…. Ketemu nama Biru Abu alias Bincang Seru Anak-Ibu. Huahahaha…. jangan tanya ide cemerlang ini datang dari mana. Hihihi…. untuk kapasitas berpikir saya yang cuma sekian ons, ini termasuk ide cemerlang, lho…. 😂😂😂. Seriously, terlepas dari cemerlang atau tidaknya, saya suka nama ini karena ia termasuk mudah diingat. Kalau disingkat, nama ini merupakan representasi dari dua jenis warna. Daaan….. kalau kata anak saya, itu menggambarkan warna yang ceria (biru) sekaligus sendu (abu)…. seperti layaknya kehidupan kita #eeeaaaa……

Di sisi lain, secara filosofi, nama ini mengusung apa yang ingin saya lakukan, yaitu bila saya menjadi host acara bincang-bincang yang saya buat sendiri (berasa jadi selebgram atau Youtuber nih jadinya, huhuhu…..), saya ingin acara ini merupakan acara yang melibatkan keluarga. Tidak hanya topiknya, tapi juga host-nya. Siapa lagi yang lebih baik untuk menjadi partner in crime saya kalau bukan anak saya? So, I was quite happy with the name I invented.

Nama sudah bisa dicentang, sekarang tinggal memikirkan kontennya (iya tahuuu…. harusnya konten duluaaaan…..). Karena di siaran langsung perdana saya tema yang diusung adalah mengenai PJJ atau BDR, hari ini saya ingin mengutip tema besar yang sama. Setelah pikir sana pikir sini (eh, tapi sesungguhnya memikirkan topik lebih cepat dibandingkan memikirkan nama 🙈🙈), akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada topik seputar menjalani PJJ dengan bahagia. Kebetulan, belum lama ini di sekolah anak saya ada seminar untuk orang tua yang mengupas topik ini. Sip. Berarti beres.

Yang tersulit adalah membuat skenarionya. Sekali lagi, ini pengalaman pertama saya. Jadi, memikirkan rundown saja butuh kontemplasi (halah!) berjam-jam. Ada rasa takut salah salah di sana-sini, walaupun akhirnya selesai juga. Beresss…. Tinggal unggah dan setorkan.

Ternyata, sekitar jam 1 siang saya dihubungi panitia. Ternyata hasil mencari wangsit semalaman dan sepagian saya terpilih sebagai salah satu dari 3 karya peserta yang akan ditampilkan, dan di sini saya perlu menceritakan cerita di balik layar pembuatan skenario saya. Berkah sekaligus bencana, hahaha…. Soalnya ini sungguhan kejutan. Saya sama sekali belum terbayang harus ngomong apa di slot waktu yang diberikan. Huhuhu…. 15 menit itu luaaamaaaa lhoooo…. untuk saya. Mana tanpa arahan atau brief sebelumnya, lagi. Saya hanya punya sekitar 5 menit untuk bersiap-siap, yang pastinya saya gunakan untuk berganti pakaian secara saya sedang nyaman-nyamannya pakai seragam dinas rumah (alias kaos belel) yang tentunya kurang representatif bila ditampilkan di depan khalayak umum 😅😅 Jangan tanya soal make-up yaaaa…. Sudah pasti tidak ada itu namanya dandan-dandanan…. Pakai lipstik pun tidak, huhuhu…. Yang penting begitu kamera menyala, saya sudah duduk manis di situ, hihihi….

Saya juga tidak sempat menanyakan apakah akan berupa tanya-jawab atau bagaimana. Saya berasumsi bahwa ini merupakan semacam tanya-jawab. Hahahaha….. salah besaaarrr….!! Seriusan saya dicemplungin di room tanpa didampingi siapa pun. Silakan deh tuh ngoceh-ngoceh 15 menit. Horor banget lah ituh (udaaaah…. gak usah pinisirin deh kayak apa siarannya… dan gak usah pula nyari videonya…). Namun, ternyata saya bisa survive juga. Alhamdulillah…. 15 menit terlewati. Malah lewat sedikit dari waktu yang ditentukan karena saya menunggu cue dari host di WA, sementara sang host mengirimkan sinyal-sinyal di aplikasi lain 🙈🙈 Huhuhu…..

Lalu, apakah kejutan duniawi ini sudah selesai? Hohohoho…. hidup tidak semudah itu Ferguso….. Ternyata walaupun saya sudah dijembreng jam 2 siang, saya perlu membuat siaran langsung dengan konsep yang saya buat. Jadilah akhirnya jungkir balik lagi….. bikin alur yang lebih detail, dan langsung cuuusss…. siaran langsung lagi. Kali ini beneran tanpa pikir panjang secara sudah mendekati waktu Cinderella berubah jadi Upik Abu. Tinggal tersisa kurang dari 20 menit dari tenggat pengumpulan tautan siaran langsung, sementara siaran langsungnya sendiri harus antara 10-15 menit. Kebayang kan ya suasana kejar tayangnya…?? Oh no, banget lah iniiii…. Sudah amatiran level 0, berani mati pula secara ilmunya juga masih cetek banget.

Tapiiiiii…… sekali lagi waktu membuktikan bahwa badai pasti berlalu. Ibarat ujian, selesai atau tidak selesai, ya harus dikumpulkan. Bagus atau tidak bagus, kalau tidak dijalankan ya sama aja bo’ong. Akhirnya selesai juga keriuhan hari ini. Tinggal capeknya yang tertinggal di tengah malam yang sepi ini.

Di saat saya sendiri ini saya menemukan bahwa memang kalau kita mau naik kelas, ya harus ikut ujiannya dulu. Seorang teman mengatakannya dengan kalimat yang sedikit berbeda: butuh pertama kali untuk melesat jauh. Saya pikir ini pas sekali untuk menggambarkan situasi saya hari ini. Kalau tidak karena pelatihan ini, mana mungkin saya bikin live streaming 3 kali dalam 2 hari berturut-turut?? Namun, dengan pernahnya saya live streaming, saya merasa skills saya bertambah. Meskipun hanya dari 0 terus naik jadi 0,1…. ini tetaplah suatu kemajuan. Jadi, cukup membanggakan lah ya prestasi saya ini…. (iyesss…. kadar prestasi saya itu memang serendah ini, hihihi…..).

Kadang, kemajuan atau perubahan itu memang harus dipaksa. Harus ada dorongan dari luar, terutama untuk orang yang begitu lembamnya seperti saya. Kalau tidak didorong ya tidak bakalan maju, huhuhu….. Dan waktu saya mengurut kaki saya dengan minyak pijat sekarang ini saya merasa, kemajuan saya hari ini menutup semua lelah saya dua hari terakhir ini. Insha Allah lelah menjadi lillah….. ❤❤

P.S: Saya lampirkan ya, tautan ke live streaming perdana saya — waktu namanya masih belum Biru Abu, hihihihi….. Ibarat bayi, anaknya udah lahir, tapi belum punya nama 😅😅

Udah kadung…. gak apa-apa lah kelihatan betapa amatirnya saya. Harap dimaklumi saya yang masih kepompong ini (semoga bisa jadi kupu-kupu yaaa….. gak berhenti di tahap kepompong, hihihi…..).

Paxel: antara Cinta dan Benci (1)

Sebagai mompreneur (hihihi…. gak apa-apa ya mengangkat diri sendiri jadi pengusaha. Semoga gak ada yang protes), saya kadang harus mengirim paket ke luar kota. Selama ini biasanya saya menggunakan jasa Tiki atau JNE untuk pengiriman paket ke luar kota. Sebagai pengirim, jasa ekspedisi lainnya belum pernah coba, meskipun kalau sebagai penerima di marketplace saya sudah beberapa kali mencoba layanan ekspedisi atau kurir lainnya.

Meskipun sudah cukup lama saya mendengar mengenai layanan Paxel, termasuk pernah pula menerima kiriman yang menggunakan jasa Paxel. baru dua bulan terakhir ini saya mengunduh aplikasinya. Hingga saat ini, meskipun baru dua kali saya menggunakan jasa Paxel, saya sudah pernah mengalami sisi ekstrem kiri maupun kanan: bahagia dan kecewa bukan main. Luar biasa memang si Paxel ini. Bisa membuat orang gembira sekaligus darah tinggi sejak awal membuka akun di aplikasi.

Tadinya, saya berencana untuk menulis cerita ini di satu post. Namun, setelah mulai ketik sana ketik sini, ceritanya kok jadi panjang banget yaaa….. Saya yang amatiran ini tidak terbiasa melihat tulisan sendiri panjang seperti ular naga. Yo wiiiis laaah….. saya bagi dua aja: cerita waktu mengunduh aplikasi, dan cerita saat menggunakan layanan Paxel. Jadi, jangan penasaran dengan cerita saya saat menggunakan Paxel di post ini yaaa….. Soalnya, cerita tentang itu ada di bagian kedua.

Sekarang, saya cerita tentang pengalaman saya membuka akun dulu yaaa……

Saat membuka akun, selalu diminta nomor referral

Saat saya mengunduh aplikasi, hati saya gembira bukan main. Akhirnya saya bisa juga mencoba aplikasi yang sempat membuat saya penasaran. Sebagai pelanggan belanja daring (online), saya pernah merasakan menerima paket yang dikirimkan melalui Paxel. Namun, kegembiraan saya tidak berlangsung lama.

Setelah saya mengunduh aplikasi, saya langsung mulai membuka akun. Baru beberapa langkah saya mengeklik sana-sini, kendala pertama langsung menghadang: permintaan untuk mengisi nomor referral.

Nomor referral yang umumnya merupakan isian yang tidak wajib kali ini seakan menjadi isian wajib karena saya tidak bisa meneruskan proses tanpa mengisi nomor tersebut. Saya berkali-kali mengeklik tombol dan mengetuk layar dengan harapan pertanyaan tersebut bisa terlewati tanpa diisi, tetapi gagal. Akhirnya, dalam keputusasaan saya mencari nomor layanan pelanggan (berupa nomor WA) serta mengirimkan pesan ke nomor tersebut. Apa yang terjadi?

Tidak tersedia jawaban atas pertanyaan saya di layanan pelanggan

Tidak ada pilihan untuk troubleshooting di pilihan yang tersedia

Saya mengirimkan pesan ke nomor layanan pelanggan Paxel. Awalnya, saya mengutarakan kalau saya tidak bisa membuka akun, tapi diarahkan ke menu utama sebagaimana terlampir.

Di antara 7 pilihan yang diberikan, tidak ada satu pun yang sesuai dengan masalah saya. Tidak ada pula pilihan untuk berbicara dengan CS. Setelah sempat menimbang-nimbang, akhirnya saya masukkan pilihan nomor (1). Namun, setelah masuk ke sub-menu, saya tetap tidak menemukan jawaban yang saya perlukan.

Beberapa minggu kemudian, setelah saya beberapa kali mengirimkan paket dengan Paxel, saya menanyakan ke CS mengenai hal ini. Dari jawaban yang diberikan, sepertinya memang tidak ada pilihan khusus untuk dapat berbicara dengan CS. Menurut mereka, saya bisa memasukkan pilihan apa saja, lalu diarahkan ke CS Empathy (itu sebutan mereka). Namun, berdasarkan hasil coba-coba klik sana-sini, ternyata tidak semudah itu Rudolfo….. Riweuh edan lah pokoknya, dan saya tidak juga terhubung ke CS. Sekarang, jika saya mengalami kesulitan yang tidak terkait pengiriman, saya menghubungi CS dengan nomor resi yang ada (biarpun kedaluwarsa) agar segera terhubung dengan CS.

Kembali lagi ke masalah saya, setelah beberapa kali klik sana klik sini dan tidak berhasil terhubung (yang ada malah chat ditutup sepihak oleh Paxel karena saya tidak kunjung memasukkan nomor yang dipilih — bingung saya, soalnya gak ada yang pas….), saya memutuskan untuk meng-uninstall aplikasi ini, dan kemudian mengunduh ulang.

Terus? Berhasil dooooong….. Langkah uninstall memang pilihan paling cess pleng untuk segala masalah. Gak perlu pusing-pusing cari CS yang sulitnya bagai mencari jarum di antara tumpukan jerami. Namun menurut saya, sayang aja siiih kalau calon pengunduh aplikasi ini kesulitan menghubungi CS. Bisa-bisa mereka batal mengunduh aplikasi dan malah mengunduh aplikasi lain yang serupa. Hareee geeneee sih banyak banget jasa ekspedisi yang ditawarkan lewat aplikasi. Di HP saya saja tidak kurang dari lima aplikasi sejenis yang saya unduh.

Bayar pakai Paxel Credit

Oke, aplikasi sudah berhasil terpasang di telepon seluler. Lalu apa selanjutnya? Saya diminta untuk mengisi Paxel Credit. Karena baru pertama kali dan saya tidak tahu kalau bayar Paxel juga bisa pakai uang tunai, saya isi deh Paxel Credit saya.

Paxel Credit ini ternyata ada minimum penambahan saldonya, yaitu Rp.50.000. Penambahan saldo ini bisa dilakukan melalui ATM atau internet banking. Ada empat bank yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi ini: BCA, BNI, Permata, dan Mandiri. Cukup mudah sebenarnya, hanya saja pilihan banknya terbatas.

Cara melakukan transfer atau penambahan saldo pun diinformasikan di aplikasi, jadi sebagai pengguna baru saya tidak merasa kesulitan. Karena saya waktu itu akan ke Alfamart, saya tidak mengisi saldo secara daring. Di Alfamart saya mampir ke ATM dan mengisi saldo akun Paxel saya. Mudah kok, dan selang beberapa saat (mungkin ada jeda sekitar 2 menit), saldo Paxel saya terisi.

Mulai deh saya kirim paket ke luar kota

Setelah aplikasi berhasil saya unduh dan saya memiliki saldo Paxel Credit, saya sudah siap mengirimkan paket dengan Paxel. Untungnya, saya tidak perlu menunggu lama. Kesempatan mencoba mengirim paket ke luar kota dengan Paxel datang 2 hari kemudian.

Cerita tentang mengirim paket ini pun penuh drama. Beneran berasa kayak drakor yang dramanya berjilid-jilid, hahaha….. Makanya, ceritanya diteruskan ke postingan selanjutnya yaaaa….. 😅😅

#paxel
#ReviewSukaSuka

Untukmu, Sahabatku Nun Jauh di Seberang Pulau

“Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah).”

QS. Al-Kautsar: 2


“Mami, kok kita gak beli kambing seperti biasanya sih?” tanya anakku Anja sambil menarik-narik ujung blusku saat melewati tanah lapang yang dalam sebulan terakhir ini beralih fungsi menjadi kandang hewan kurban dadakan. Aku hanya menoleh sedikit, lalu menghela napas panjang di balik masker yang kukenakan. Pertanyaan yang semestinya bisa dijawab dengan mudah, tahun ini terasa sulit. Pandemi yang hampir setengah tahun ini melanda berbagai belahan dunia sampai juga dampaknya ke keluarga kami. Sudah beberapa bulan terakhir ini penghasilan kami seperti tak jelas hilalnya. Kadang ada, kadang terlambat, kadang tidak ada sama sekali selama berhari-hari. Namun, yang sesekali itu pun patut disyukuri. Banyak pula keluarga yang jauh lebih sering tidak ada pemasukan sama sekali. Tidak hanya berhari-hari, tapi hingga berminggu-minggu kosong melompong.

Orang berkerumun di lokasi penjualan hewan kurban tanpa mengenakan masker (foto: dokumentasi pribadi)

Yang juga membuat hati gundah gulana adalah situasi yang masih jauh dari aman. Jumlah pasien yang terkena Covid-19 di bulan terakhir ini meningkat drastis seiring dilaksanakannya proses transisi ke masa adaptasi kebiasaan baru (new normal). Pemilihan hewan kurban yang biasanya dilakukan secara langsung membuatku ragu. Amankah kondisinya? Apalagi, aku melihat sendiri kalau penjualnya dan orang-orang yang datang memilih hewan kurban sering abai mengenakan masker. Belum lagi kadang mereka malah berkumpul dan bergerombol di sekitar kandang meskipun pemerintah maupun WHO sudah menganjurkan agar protokol jaga jarak fisik tetap dilaksanakan. Melihat kondisi ini, sungguh aku khawatir. Jangan sampai selain membawa hewan kurban pulang, aku membawa penyakit yang belum ada obatnya ini masuk ke rumah. Ini adalah sesuatu yang amat aku hindari mengingat kedua anakku masih belia usianya.

Hal lain yang membuat hatiku bimbang adalah pelaksanaan salat Iduladha yang umumnya dilaksanakan di masjib besar atau lapangan, berdempet-dempet, dan penuh sesak. Bagaimana nanti pengaturannya di masa pandemi begini? Mungkinkah semuanya bisa teratur rapi seperti yang dianjurkan? Aku ragu. Menilik kebiasaan masyarakat kita yang mudah lupa (awal-awal saja heboh memakai masker dan mencuci tangan, tapi akhir-akhir ini santai saja ke mana-mana tanpa masker), aku cemas bila nantinya suasana tetap ramai dan padat, terutama selepas salat. Biasanya orang akan berkerumun dan tidak segera pulang, apalagi bila di masjid tersebut ada hewan kurban. Bisa dipastikan akan ada banyak orang dewasa dan anak-anak yang bergerombol. Kalau sudah begitu, jangankan jarak aman, masker saja pasti sudah dilepas. Lalu, masih amankah situasi pemotongan hewan kurban bila begini adanya?

Aku menghela napas. Duh Gusti…., mengapa menjaga ketertiban demi kesehatan pribadi saja rasanya sulit sekali di masa ini?

****

Masjid tidak membagikan daging hewan kurban seperti tahun-tahun sebelumnya (foto: dokumentasi pribadi)

Beberapa hari terakhir sebelum Iduladha aku semakin rajin mengikuti perkembangan berita mengenai pelaksanaan kurban dan salat Iduladha. Di salah satu portal berita, aku membaca kalau para kepala daerah mulai mengatur agar pelaksanaan ibadah kurban serta salat Iduladha memenuhi standar keamanan di masa pandemi. Gubernur Provinsi Jawa Barat, misalnya, menetapkan bahwa hewan kurban tidak dibagikan di masjid, tetapi langsung didistribusikan ke rumah-rumah warga. Sementara itu, Pemkot Tangerang menegaskan bahwa dalam melakukan penyembelihan ditetapkan peraturan bahwa petugas atau panitia harus menggunakan golok atau alat masing-masing. Bagaimana dengan Jakarta? Artikel yang kubaca di Kompas.com menyebutkan bahwa Wakil Gubernur DKI Jakarta menganjurkan agar hewan kurban disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Cakung untuk memastikan agar proses pemotongan hewan kurban terjamin kebersihannya serta sesuai dengan protokol kesehatan selama pandemi.

Di portal berita lain, aku membaca bahwa MUI dan pemerintah mewajibkan panitia penyelenggara salat Iduladha untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti membatasi jumlah pintu (jalur keluar dan masuk) serta menyediakan tempat cuci tangan. Selain itu, panitia salat juga perlu melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap jemaah. Di sisi lain, jemaahnya diwajibkan untuk memakai masker dan membawa perlengkapan salat sendiri.

Kalau pengaturannya begini, kelihatannya pelaksanaan pemotongan hewan kurban serta salat Iduladha akan berjalan dengan aman, tertib, dan sesuai dengan protokol kesehatan. Namun, entah mengapa hatiku masih diliputi keraguan, terutama untuk berkurban secara langsung seperti tahun-tahun sebelumnya. Mengenai biayanya, alhamdulillah di saat-saat terakhir Allah yang Maha Pemurah memberikan kami tambahan rezeki. Meskipun tidak berlebih, dengan adanya pemasukan tambahan ini kami dapat berbagi kebahagiaan dengan saudara sesama muslim. Mengetahui kegundahanku, suamiku menenangkanku, “Insha Allah nanti ada jalannya. Kita cari cara berkurban yang aman,” ucapnya.

****

Takbir bergema sejak malam…. Sayup-sayup terdengar suara azan dari surau yang kecil dan bersahaja yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah kami. Setelah azan subuh, suara takbir makin jelas terdengar. Hari ini hari terakhir di bulan Juli tahun 2020. Tiba saatnya hari raya yang ditunggu-tunggu: Iduladha.

Pagi ini aku menyiapkan beberapa sajadah di ruang tengah. Ya, pada akhirnya kami memutuskan untuk salat Iduladha di rumah demi alasan keamanan. Lebih baik menahan diri daripada celaka, ujar suamiku. Insha Allah, keikhlasan kami untuk untuk melewatkan keceriaan salat Iduladha tahun ini akan digantikan dengan suasana Iduladha yang lebih membahagiakan di tahun-tahun mendatang.

Sepertinya keputusan kami untuk salat di rumah tidak salah. Meskipun musala di dekat rumah kami tadi menyelenggarakan salat Iduladha, namun sepengamatan kami di musala tersebut tidak ada yang namanya menjaga jarak aman, apalagi mengukur suhu jamaah. Sajadah diatur sekenanya saja. Ada jarak, tapi hanya berjarak minim. Jangankan satu meter, setengah meter pun belum tentu.

Bagaimana dengan pemotongan hewan kurban? Hewan kurban memang dipotong di tanah lapang, namun banyak sekali orang berkerumun di sana. Tidak beda jauh dengan pemandangan di tahun-tahun sebelumnya. “Ramai, bu. Banyak anak-anak ngeliatin kambing sama sapi,” kata tukang sampah di lingkunganku. “Boro-boro bu pakai masker. Tuh, liat aja,” tambahnya sambil menunjuk ke arah kerumunan. Aku melongok. Memang benar, tidak jauh dari rumahku terlihat orang-orang bergerombol tanpa masker di dekat lapangan. Lokasi pemotongan hewan kurban yang dibatasi pagar pembatas pun sepertinya sia-sia. Orang-orang memaksa masuk ke dalam, termasuk anak-anak. Terlihat beberapa perempuan setengah baya membawa wadah.

Kalau sudah begini, mana mungkin lagi semua daging kurban diantarkan panitia langsung ke rumah-rumah? Sebagian pasti akan langsung dibagikan di tempat. Aku hanya bisa mengelus dada diam-diam. Jauh sekali panggang dari api. Yang dianjurkan pemerintah sama sekali tidak terlihat perwujudannya di lingkunganku ini. Kalau kata Pak Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, ini semua karena sistem beribadah umat di Indonesia kebanyakan masih komunal, bahkan terkadang kultural. Buktinya? Dari jumlah orang yang berkerumun, lebih banyak orang yang menonton dibanding yang berkurban.

****

Suamiku menepuk bahuku dari belakang. Aku terkejut, sama sekali tidak menyangka bahwa ada orang di belakangku. Ia tersenyum. “Tidak salah ya kayaknya pilihan kita tahun ini,” ujarnya sambil memandang ke arah keramaian pemotongan hewan kurban yang nyaris seperti pasar malam. Aku mengangguk, lalu teringat kesepakatan kami beberapa hari sebelumnya.

Setelah sempat menimbang-nimbang, kami akhirnya memutuskan untuk berkurban secara daring (online), dan meninggalkan pembelian hewan kurban secara konvensional, setidaknya untuk tahun ini. Setelah memilih beberapa penyedia hewan kurban melalui internet, kami menjatuhkan pilihan ke salah satu penyedia yang terpercaya. Selain karena lembaga ini menyampaikan laporan yang lengkap kepada pekurban, kami melihat bahwa ia juga memberdayakan peternak lokal. Dengan demikian, insha Allah manfaat dari kurban yang dilaksanakan pun akan dirasakan oleh khalayak yang lebih luas.

Untuk alasan sentimental, aku merasa bahwa kurban yang kami salurkan ini akan mencapai tempat yang jauh, yang mungkin belum ditapaki oleh kami sendiri. Melihat ilustrasi yang ditayangkan di laman lembaga ini, yang menampilkan orang Sumbawa yang menerima manfaat kurban, aku merasa bahagia karena bisa membawa keceriaan bagi saudara kami yang membutuhkan, yang mungkin tinggal nun jauh di seberang pulau sana. Meskipun hanya beberapa kerat daging, aku merasakan sesuatu yang hangat menyusup di hatiku saat membayangkan senyum yang tersungging di wajah mereka.

Lamat-lamat aku terngiang siaran wawancara dengan Pak Mu’ti yang kutonton tadi. Teduh suaranya terdengar saat menyampaikan bahwa di masa pandemi ini yang lebih diutamakan adalah syariat yang lebih mendatangkan keselamatan dan keamanan. Bagi kami, hal ini seperti penyeimbang rasa kehilangan kami karena tidak menyaksikan pemotongan hewan kurban secara langsung ataupun menerima hak kami sebagai pekurban. Di saat orang-orang ramai bercerita mengenai bagaimana mereka mengolah daging kurban, kami hanya bisa tersenyum. Sama halnya saat para tetangga mengeluarkan pemanggang atau bakaran satai. Kala itu, kami hanya bisa mengeluarkan ikan beku dari lemari pendingin.

Namun demikian, insha Allah kurban yang kami sampaikan tetap membawa manfaat yang sama bagi penerimanya. Tidak kalah dengan kurban yang disalurkan secara langsung. Sama-sama membawa berkah bagi pemberi dan penerimanya. Insha Allah….

#membuatkerangkatulisan
#rumbelmenulisipjakarta

****

Tulisan ini dibuat dalam rangka kegiatan HTE Membuat Kerangka Tulisan yang diadakan oleh Rumbel Menulis IP. Kerangka karangan tulisan ini bisa dilihat di:
https://docs.google.com/document/d/1qRerzl78N0ttmMQRv08qHzv-edNt-b7J_xUCEz_1sUg/edit?usp=sharing

Nyaman dan Menyenangkan saat Membaca bersama Anak

Menuliskan cerita tentang memilih buku yang pas untuk usia anak kemarin membuat saya teringat masa-masa saya sering membaca cerita bersama kedua anak saya. Bukan berarti sekarang tidak pernah, saya masih melakukannya, hanya saja tidak sesering dulu. Ini karena Anja, anak pertama saya, sudah bisa membaca secara mandiri. Tinggal Yoda yang terkadang perlu didampingi saat membaca.

Tidak hanya momen kedekatan dengan anak ini yang kadang membuat saya kangen masa-masa saya sering menemani anak membaca buku. Namun, kegiatan membaca bersama itu ternyata juga berpengaruh positif terhadap kemampuan membaca anak saya, terutama yang pertama. Karena terbiasa untuk membaca secara rutin, ia sekarang ini memiliki lebih banyak kosa kata dan variasi struktur bahasa, sesuatu yang sangat membantunya dalam menyelesaikan berbagai tugas sekolahnya.

Saat membaca bersama anak-anak, selain membaca ceritanya serta mengeksplorasi ilustrasi bukunya, saya juga mencari kata-kata yang saya rasa cukup menantang untuk mereka serta berlatih bersama mereka. Berikut ini adalah apa yang biasanya saya lakukan bersama mereka berdua.

Meminta mereka membaca kata yang sulit dengan lantang

Dengan meminta mereka membaca ulang kata atau frasa yang sulit hingga benar pengucapannya, mereka akan menjadi terbiasa dan lebih mudah melafalkannya kembali di kalimat yang berbeda.

Yoda dulu mengalami kesulitan bila membaca kata-kata seperti ‘nyamuk’, ‘menggunakan’, atau ‘mengatur’. Namun, dengan berkali-kali berlatih membaca kata yang sama dengan keras, ia menjadi terbiasa dan kini sama sekali tidak mengalami kesulitan bila harus membaca kata-kata tersebut.

Mengetuk atau menunjuk kata yang sulit tersebut saat membacanya

Saat membaca kata atau frasa yang sulit, saya akan mengetuk atau menunjuk kata tersebut beberapa kali. Dengan demikian saya akan mendapatkan perhatian penuh dari anak saya, dan ia akan tahu bahwa ia perlu lebih serius serta memberikan perhatian penuh.

Yoda termasuk anak yang sulit berkonsentrasi, terutama bila ia harus membaca cerita yang cukup panjang. Kadang, ia juga suka berhenti tiba-tiba bila menemukan kata atau frasa yang menurutnya sulit. Dengan menunjuk atau mengetuk kata yang sulit persis sebelum ia membacanya, anak saya langsung tahu bahwa ia perlu bersiap-siap dan lebih berkonsentrasi. Dengan konsentrasi yang lebih, saya lihat Yoda lebih mudah untuk membaca atau membunyikan kata yang menurutnya sulit tersebut.

Cari kata lain yang bunyinya serupa

Saat anak-anak masih balita, kesulitan utama yang mereka alami adalah membunyikan suku kata yang mengandung -ng, -ny, atau bunyi diftong seperti -ai. Biasanya saya akan mencari kata-kata lain yang memiliki bunyi atau suku kata yang sama dan meminta mereka mengulang kata tersebut. Tujuannya adalah agar mereka terbiasa mendengar dan mengucapkan kata-kata yang memiliki bunyi yang serupa.

Jadi, misalnya, bila di cerita tersebut ada kata ‘pantai’, saya akan mencari kata-kata lain yang bunyinya sama, seperti ‘sampai’ atau ‘sungai’ dan melatih anak saya melafalkan kata-kata tersebut. Setelah kira-kira cukup lancar, saya akan memintanya untuk membaca lagi kalimat yang mengandung kata tersebut di cerita yang sedang ia baca. Dengan demikian, saya bisa melihat apakah ia sudah bisa membaca dengan lancar bila kata tersebut dirangkai menjadi bagian dari suatu kalimat.

Mendiskusikan arti kata yang sulit dengan anak-anak

Setelah membaca suatu cerita, saya akan memilih beberapa kata yang akan kami bahas lebih lanjut. Kata-kata ini akan saya jelaskan artinya, lalu akan saya eksplorasi lebih dalam lagi. Kadang saya melakukan semacam tanya-jawab singkat dengan mereka untuk membahas mengenai fakta yang terkait dengan kata tersebut serta memastikan bahwa anak-anak memahami konteksnya.

Sebagai contoh, untuk kata ‘nyamuk’, yang tentunya sudah dimengerti mereka (anak-anak hanya kesulitan membaca kata tersebut, tapi sudah mengerti artinya), saya akan menanyakan bagaimana perasaan mereka tentang nyamuk, dan menyebutkan contoh jenis nyamuk yang patut diwaspadai.

Bila memungkinkan, bermainlah dengan kata tersebut

Kadang, bila cerita tersebut sudah selesai dibaca, saya akan memilih beberapa kata atau frasa yang menyulitkan mereka dan mengajak mereka bermain menggunakan kata-kata tersebut.

Salah satu permainan yang kami suka adalah menggambar, terutama bila kata yang dianggap sulit adalah kata benda atau kata sifat. Anak-anak akan saya minta menuangkan kata tersebut dalam gambar. Kata-kata seperti ‘mangga’, ‘pantai’, atau ‘kendaraan’ cukup mudah untuk digambar. Sembari anak-anak menggambar kata yang dimaksud, saya akan mengajak mereka mengobrol agar mereka berlatih menggunakan kata-kata sulit tersebut. Pertanyaan yang saya berikan misalnya, “Kamu menggambar apa?” atau “Ini buah apa namanya?” Kadang, saya hanya mendorong mereka, “Cerita dong soal gambar kamu.”

Permainan lain yang sering kami mainkan adalah permainan tebak kata. Jadi, saya akan menyebutkan ciri-ciri kata tersebut, dan mereka harus menebak kata yang dimaksud. Misalnya, untuk kata ‘pantai’ saya akan menyebutkan ciri-ciri seperti ‘tempat wisata atau liburan dekat laut’, ‘udaranya panas bila berada di sana’, dan ‘Kuta’ (serta beberapa contoh pantai lainnya). Siapa yang bisa menebak lebih dulu akan mendapatkan nilai. Jangan kaget, kadang Yoda juga bisa menebak dengan tepat lebih cepat daripada Anja, lhoooo……

****

Latihan-latihan kecil semacam ini yang menurut saya memberikan dasar yang kuat bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan berbahasa mereka. Dengan demikian, kegiatan membaca bersama tidak hanya menjadi kegiatan membaca saja, namun juga memberikan manfaat lebih bagi perkembangan kosa kata, variasi struktur kalimat, serta aspek kebahasaan lainnya. Doa saya sih hanya satu, yaitu agar saya tetap bisa konsisten.

Soalnya, kadang orang tua hanya bersemangat saat membersamai anak pertama saja. Maklum lah…. ini kan pengalaman pertama, jadi pasti orang tua akan lebih bersemangat dalam menjalaninya. Begitu anak kedua, hal ini menjadi tidak semenarik saat membersamai anak pertama. Kurang greget rasanya. Akhirnya, saat anak kedua (apalagi anak ketiga, keempat, dan seterusnya), kegiatan ini hanya menjadi sebuah rutinitas biasa dan cenderung menjadi terabaikan. Semoga teman-teman juga selalu bersemangat dan konsisten, yaaa…. 😘😘

Memilih Buku yang Pas sesuai Usia Anak

Memilihkan buku untuk anak-anak menurut saya gampang-gampang susah. Sebenarnya gampang, tapi kalau dari awal kita tidak menetapkan kriteria tertentu, akan tidak mudah bagi kita untuk menemukan buku yang pas atau sesuai dengan umur atau kebutuhan anak-anak kita.

Dibandingkan anak kedua saya, Yoda, yang berumur 6 tahun, memilihkan buku untuk anak pertama saya, Anja, yang berumur 9 tahun terkesan lebih mudah. Hal ini karena ia sudah bisa memilih sendiri buku yang ia suka. Namun, tetap saja saya biasakan untuk mengecek apakah buku yang mereka pilih sudah sesuai untuk usia mereka berdua.

Terus-terang, dalam memilih buku saya termasuk cerewet, soalnya, menurut saya, buku merupakan semacam guru ketiga bagi anak-anak setelah kami orang tua dan guru-guru mereka. Melalui buku, mereka belajar berimajinasi dan mengembangkan logika berpikir. Selain itu, mereka pun belajar mengenai tata bahasa dan perilaku berdasarkan karakter dan sifat para tokoh di dalam cerita. Kalau ternyata saya salah pilih, bisa-bisa buku yang sudah dibeli mahal-mahal berakhir teronggok di pojokan rak, berdebu, dan mubazir karena tidak dibaca.

Jadi, apa sih yang saya cek dari sebuah buku sebelum saya memutuskan untuk membeli dan memberikannya untuk anak-anak saya?

Tingkat kesulitannya sesuai untuk anak

Kadang sebuah buku menarik hati anak saya Yoda karena buku tersebut menceritakan tentang karakter di film favoritnya. Ia yang sekarang lagi hobi-hobinya menonton Paw Patrol akan dengan mudah memilih buku mengenai karakter di film tersebut dibandingkan buku lain yang sebenarnya lebih cocok untuk umurnya. Ia kadang tidak menyadari bahwa buku cerita tersebut terlalu menantang (alias susah) untuknya. Bila tidak dicek, akhirnya buku itu hanya akan dibalik-balik saja untuk melihat gambar atau ilustrasinya, lalu dalam satu atau dua hari akan ia simpan di kotak penyimpanan bukunya dan tidak dibuka-buka lagi (duuuh… kalau begini mamak langsung mengelus dompet, eh, dada…. hihihi….).

Untuk menentukan apakah suatu buku terlalu sulit atau pas untuk anak saya (terutama Yoda) saya memiliki trik tersendiri. Trik ini saya peroleh dari Reading Rockets, dan sejauh ini cukup manjur sebagai indikator apakah buku tersebut tingkat kesulitannya sesuai untuk anak saya.

Metode yang disebut sebagai ‘Aturan Lima Jari’ ini menurut saya cukup mudah untuk diikuti. Caranya, pilih buku yang hendak dibeli, lalu buka beberapa halaman secara acak. Saya biasanya memilih halaman kedua atau ketiga, lalu satu halaman di tengah, dan satu halaman menjelang akhir cerita. Setelah itu, saya akan meminta Yoda untuk melihat ada berapa kata yang belum ia pahami. Jika ada lebih dari 5 kata yang belum ia pahami, saya akan memintanya untuk memilih buku yang lain. Namun, bila kata-kata yang ia anggap sulit masih di bawah 5 kata per halaman sampel, buku tersebut akan saya cek apakah memenuhi kriteria berikutnya.

Narasinya mudah dipahami

Kata-kata sulitnya sudah di bawah 5 kata. Ok, lalu apa? Jika rasanya tingkat kesulitan buku dari segi tingkat kesulitan kosa kata sudah terpenuhi, saya biasanya akan melihat lebih dalam lagi. Saya akan membaca beberapa halaman bukunya. Bukan apa-apa, kadang kata-katanya memang tidak sulit, tapi isinya terlalu abstrak atau cara berceritanya terlalu ‘indah’ (baca: syuliiit…) untuk dipahami anak saya. Bila saya merasa ragu bahwa ia bisa memahami buku tersebut, saya akan memintanya untuk membaca suatu halaman dengan lantang (eh, tapi jangan terlalu keras ya, hehehe…). Bila ia terlihat kesulitan untuk membaca atau terdengar terbata-bata, saya akan memintanya untuk menceritakan kembali isi cerita yang ia baca. Bila anak saya kelihatan kebingungan atau tidak memahami isi ceritanya, saya akan membujuknya untuk memilih buku lainnya.

Memang, saya terkadang membuat pengecualian. Untuk buku yang saya rasa berbobot, saya terkadang membiarkan ia memilih buku tersebut, dengan syarat bahwa buku tersebut akan dibaca bersama dengan saya atau ayahnya agar ia bisa lebih memahami isinya.

Tema ceritanya mengandung unsur kebaikan

Untuk anak berusia muda atau balita, tema cerita yang sebaiknya dipilih adalah tema yang mengandung unsur kebajikan, seperti perdamaian, pendidikan, ataupun kasih sayang. Sementara, untuk anak yang lebih besar atau remaja, temanya bisa lebih bervariasi.

Untuk saya, pada saat anak masih lebih kecil, cerita yang terutama saya hindari adalah cerita yang mengandung kekerasan ataupun balas dendam. Cerita yang mengandung perundungan (bullying), termasuk perundungan secara fisik pun saya hindari, meskipun maksudnya baik, misalnya si korban perundungan tersebut bisa berprestasi dan mengatasi perundungan yang dialaminya. Kalaupun saya belikan, buku tersebut hanya boleh dibaca saat saya bersama dengan anak-anak. Yang saya khawatirkan, mereka akan menirukan kalimat yang diucapkan si perundung dan mengucapkannya ke teman mereka apabila mereka tidak didampingi serta diberi pengertian.

Ilustrasinya sesuai dan menarik

Buku anak biasanya kurang lengkap tanpa ilustrasi visual yang menarik. Namun, ilustrasi yang baik tidak hanya sekadar pelengkap cerita. Sisi edukasinya pun tetap harus diperhatikan.

Saat membandingkan ilustrasi, saya cenderung untuk memilih buku yang banyak menunjukkan ilustrasi yang merepresentasikan peristiwa atau kalimat aktif. Misalnya, gambar kancil berlari, serigala meniup bumbungan rumah, dan anak kecil menerbangkan layang-layang — dibanding dengan gambar orang yang sedang diam berdiri. Gambar yang pasif tidak akan menarik imajinasi anak. Anak-anak lebih mudah dan tertarik untuk berimajinasi bila ilustrasi yang ia lihat menunjukkan suatu kegiatan yang aktif, apalagi bila mimik sang tokoh juga terlihat jelas. Bila ekspresi sang tokoh kelihatan, anak juga akan dapat ‘membaca’ perasaan si tokoh dalam cerita tersebut.

Selain memastikan bahwa ilustrasi dalam cerita mengajak anak untuk berimajinasi, saya tentunya juga mengecek bahwa ilustrasi yang ada relevan dengan isi buku. Yang lebih penting, saya juga mengecek apakah ilustrasi yang ditampilkan pantas untuk dilihat oleh anak seusia anak-anak saya.

Kualitas ceritanya baik

Hal penting lainnya dalam memilihkan buku untuk anak adalah kualitas cerita. Yang saya maksud dengan kualitas cerita adalah adanya ketersambungan logika serta argumentasi Pendeknya, logika dalam cerita tersebut haruslah masuk di akal.

Cerita dengan kesinambungan logika ini penting karena saat membaca anak-anak belajar mengenai alur berpikir. Bila ia terbiasa membaca cerita dengan logika yang melompat-lompat atau tidak lengkap, hal ini bisa terbawa ke dunia nyata. Bisa jadi ia akan kesulitan untuk memahami hubungan sebab-akibat dari suatu peristiwa atau masalah.

Selain dari logika berpikir, saya juga melihat apakah buku tersebut memiliki alur cerita yang menggugah imajinasi anak serta mengandung kata-kata baru yang bisa memperkaya kosa kata anak saya (asalkan tidak melanggar Aturan Lima Jari yaaa…..).

Yang tidak kalah pentingnya, saya juga memastikan bahwa pesan moral yang terkandung di dalam cerita sejalan dengan nilai dan prinsip hidup keluarga kami.

Penerjemahannya berkualitas baik

Seringkali buku yang dibeli merupakan buku saduran atau terjemahan maupun buku yang dicetak secara dwi-bahasa (bilingual). Khusus untuk buku-buku semacam ini, saya akan meneliti isinya dan memastikan bahwa terjemahan yang ditampilkan merupakan terjemahan dengan kualitas baik. Artinya, secara tata bahasa benar dan tidak mengandung kosa kata yang diterjemahkan secara tidak tepat.

Menurut saya, hal ini cukup krusial karena pencerapan anak dalam segi tata bahasa umumnya lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Sering kita lihat anak yang belajar bahasa asing dengan mudah memahami bahasa yang mereka tonton dari televisi ataupun baca dari buku. Apabila dari awal mereka belajar tata bahasa atau kosa kata yang salah kaprah, hal ini bisa terbawa hingga mereka besar nantinya. Karena itu, saya termasuk bawel dan kritis dalam masalah saduran atau penerjemahan ini.

Terakhir, harganya sesuai isi kantong 😉

Setelah kriteria di atas terpenuhi, tinggal satu kriteria penentu: harga, hahaha…. Eh, tidak juga siiih… harga biasanya justru dinilai di awal. Namun demikian, bukan berarti kami batal membelinya bila buku tersebut tidak sesuai anggaran. Bisa jadi kami tetap membeli buku tersebut, tapi dengan suatu syarat tertentu. Misalnya, anak saya tidak jadi saya belikan mainan. Biasanya sih mereka setuju, hehehe….

Tapi, semua kriteria ini merupakan kriteria yang berlaku di keluarga saya yaaa…. Bisa jadi ada perbedaan pandangan atau prioritas dalam hal pemilihan buku ini. Apapun itu, saya yakin kita sebagai orang tua akan memilihkan yang terbaik bagi anak-anak.

Jangan Frustasi bila Anak Tidak Menjalankan Permintan Mama. Mungkin Cara Mama yang Perlu Diperbaiki

“Disuruh makan susah banget, main melulu!”
“Gimana sih kamu? Begitu aja gak ngerti!”
“Mama udah bilang tadi, masa kamu gak denger?”
“Ini anak… dibilangin dari tadi bukannya dikerjain!”
….. dst. dll. dkk.

Siapa yang pingin ngacung atau merasa “ini gue banget” waktu baca kutipan di atas? Jangan syediiiih… saya pun begitu, koookk…. Siraman rohani penuh penghayatan seperti di atas dulu rasanya dekat sekali dengan keseharian saya yang memiliki dua anak berusia 9 tahun dan 6 tahun ini. Belum lagi, yang satu perempuan, sementara yang satunya lagi laki-laki, semakin tajam rasanya perbedaan di antara mereka yang seringkali berujung di keributan (asli ribut banget) yang substansinya jauh dari penting. Dan… inilah yang seringnya menggoda iman saya untuk berteriak kesal seperti di atas.

Tapi itu dulu (yaelaaah…. masih belajar aja udah berasa jago)…. kini saya sedang belajar menertibkan diri saya.

Iyaaa….. diri saya, bukan anak-anak saya.

Saya belajar untuk lebih memahami kebutuhan mereka, dan berbicara dengan bahasa serta gestur yang lebih mudah mereka mengerti. Sayangnya, apa yang saya praktikkan ini berasal dari pengalaman kolektif dan eklektik: gabungan dari pengalaman hidup saya dan keluarga, serta berbagai materi yang pernah saya baca atau dengar entah di mana. Jadi, saya tidak bisa menunjukkan secara eksplisit dari mana sumber ilmu ini saya peroleh. Namun, kira-kira yang seperti inilah yang berusaha saya latih dalam keseharian saya dengan anak-anak.

Mulai dengan “tolong”

Memulai permintaan dengan magic word ini sudah saya praktikkan sejak lama. Saya ingin anak-anak saya memiliki sopan santun yang baik, dan saya merasa bahwa cara terbaik untuk melatih mereka adalah dengan memberikan contoh. Leading by example. Jadi, saya selalu memulai kalimat perintah dengan kata “tolong”, termasuk kepada asisten rumah tangga kami.

Pastikan kita mendapatkan perhatian anak sebelum mulai memberikan instruksi

Kadang anak duduk atau berdiri jauh dari kita, atau mungkin mereka sedang sibuk melakukan sesuatu (mengerjakan PR, menonton TV, main game, dan sebagainya) saat kita meminta mereka membantu kita. Saya biasanya akan memanggil nama mereka dulu (hanya memanggil mereka — tanpa memberikan instruksi apapun) dan menunggu mereka menengok serta memperhatikan saya sebelum saya meminta tolong. Bila mereka duduk tidak jauh dari saya, seringnya saya akan menyentuh pundak mereka dan menunggu respon mereka sebelum saya mulai bicara.

Menatap mata anak-anak saat memberikan instruksi

Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak juga akan lebih memperhatikan apa yang kita sampaikan jika kita menatap mata mereka. Tambahan lagi, dengan menatap mata anak yang kita ajak bicara, akan lebih mudah juga bagi kita untuk menakar sejauh mana si anak memahami instruksi yang kita berikan.

Gunakan kata-kata konkret, bukan normatif

Satu hal yang saya pelajari, bila berbicara dengan anak, lebih baik kita menggunakan kata-kata yang terukur, dan bukan kata-kata yang ambigu. Tentu saja, ambigu atau tidaknya sebuah kata kadang bergantung dari umur sang anak. Untuk anak saya Yoda yang baru berumur 6 tahun, kata-kata seperti, “Tunggu 5 menit lagi ya,” lebih sulit ia pahami dibandingkan dengan kata-kata seperti, “Tunggu sampai jarum panjangnya di angka 2 ya,” yang kalau untuk kakaknya yang berusia 9 tahun sama saja maknanya.

Kalimat seperti, “Rapikan kamarmu ya nak,” ternyata juga berpotensi untuk menimbulkan multi-interpretasi. Apanya yang harus dirapikan? Apakah cukup bila tempat tidurnya saja yang harus dirapikan? Area apa yang diharapkan untuk dibenahi?? …dan berbagai pertanyaan lainnya. Baiknya, kalimat seperti di atas diganti dengan kalimat yang lebih terukur (ekspektasi apa yang diharapkan orang tua), misalnya, “Mainannya dikembalikan ke tempatnya ya nak, lalu tempat tidurnya dirapikan.”

Pilih kalimat positif dan jelaskan konsekuensinya

Untuk saya, ini hal yang termasuk perlu saya latih agar menjadi lebih terbiasa. Secara refleks, saya sering menggunakan kata ‘jangan’ bila hendak menghentikan anak-anak saya dari kebiasaan yang kurang baik, misalnya, “Jangan membaca sambil tiduran,” atau, “Jangan mengerjakan PR sambil menonton TV.”

Alih-alih menggunakan dua kalimat di atas, saat ini saya mencoba untuk menggunakan, “Bacanya sambil duduk ya nak, supaya nanti matanya gak rusak/sakit,” atau, “Bikin PR-nya yang serius nak, kalau sambil nonton TV nanti gak selesai-selesai lhooo…. Katanya mau main.”

Memang rasanya lebih repot ya, harus menjelaskan ke anak, dibanding dengan kata ‘jangan’ yang rasanya cespleng (singkat, padat, dan jelas) serta sudah menjadi pilihan sejuta umat. Namun, memilih kalimat positif sekaligus menjelaskan konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan akan membiasakan anak untuk berpikir sebelum bertindak saat mereka lebih besar nanti.

Berikan anak pilihan, namun terbatas

Anak-anak terkadang ingin menjadi seperti orang dewasa yang memiliki keleluasaan lebih dibandingkan anak-anak. Mereka ingin memiliki wewenang atau otoritas untuk memilih dan tidak suka bila mereka disodorkan sesuatu tanpa diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan. Sebagai orang tua kita perlu untuk berpikir kreatif.

Saya cukup sering memberikan anak saya pilihan yang sebenarnya merupakan pilihan semu. Di antara pilihan yang diberikan sebenarnya apapun yang dipilih anak semuanya sudah saya saring. Jadi, apapun itu, saya tidak akan keberatan. Contoh paling sederhana yang hampir tiap hari saya temui adalah, “Kamu mau mandi dulu atau makan dulu?” yang sama-sama menguntungkannya untuk saya. Namun demikian, anak-anak terlihat gembira saat mereka diberikan keleluasaan untuk memilih. Sayangnya semakin mereka besar, trik ini harus lebih disempurnakan. Mungkin pilihannya bukan antara mandi dulu atau makan dulu (kalau saya sih jelas pilih makan dulu, hehehe….), namun harus sesuatu yang lebih syuliiit.

Memberikan syarat sebelum menyetujui sesuatu

Anak saya paling suka mendengarkan dongeng sebelum tidur, namun kadang sebelum tidur mereka lupa (baca: malas) mencuci kaki, tangan, dan muka. Di saat seperti itu saya biasanya akan memberikan syarat seperti, “Setelah kamu selesai cuci kaki, baru nanti dibacakan dongeng,” atau semacamnya. Biasanya sih anak-anak (biarpun kadang sembari bersungut-sungut) akan menjalankan permintaan ibunya.

Terkait dengan syarat ini, saya pernah membaca bahwa kata ‘jika’ atau ‘kalau’ (if) tidak akan seefektif kata ‘ketika’ (when) atau semacamnya. Hal ini karena bila kita menggunakan kata ‘jika’, anak merasa bahwa mereka bisa memilih untuk tidak mengerjakan permintaan kita.

Saya pribadi belum pernah benar-benar membandingkan keefektifan kata ‘jika’ dibandingkan dengan ‘ketika’ dalam hal kepatuhan anak-anak dalam menjalankan permintaan saya atau paksu. Mungkin, karena saya terlalu sering menggunakan kata ‘setelah kamu…’ atau ‘begitu kamu…..’ yang sepadan dengan kata ‘ketika’ atau ‘saat’, anak-anak otomatis merasa mereka tidak punya pilihan selain menuruti permintaan saya, biarpun saya menggunakan kata ‘jika’ 😅😅

Tips ini berlaku untuk orang dewasa juga, lho….

Trik dan tips ini pun ternyata tidak hanya manjur untuk anak-anak. Saya sudah mempraktikkannya ke paksu dan ternyata berhasil, hihihihi…. Sayangnya, meminta paksu memahami instruksi saya lebih sulit dibandingkan dengan meminta anak-anak. Duuuh…..

BFF Time: Mendekatkan Diri pada Sahabat Terbaik

Di keluarga kecil kami, saya dan paksu menciptakan tradisi baru yang berbeda dengan tradisi kedua orang tua kami, yaitu BFF (best friend forever) time. BFF di sini bukan berarti sahabat dekat di sekolah, teman main di sekitar rumah, ataupun kerabat dekat mereka, namun kami, orang tua mereka, yang menjadi sahabat dekat kedua anak kami.

Ada kalanya saya akan menghabiskan waktu berdua dengan Anja, anak perempuan saya. Hanya yang perempuan. Sementara, Yoda, anak laki-laki saya, akan berduaan dengan ayahnya; atau sebaliknya. Semacam us time-nya anak-anak dengan salah satu dari kedua orang tua mereka.

Apa yang kami lakukan? Sederhana saja. Kadang hanya mengobrol berdua di kamar tidur. Berbincang mengenai apa yang terjadi di sekolah, bercerita mengenai teman-teman dan guru-guru, ataupun perasaan mereka hari itu. Apa yang membuat mereka gembira maupun sedih (termasuk jika habis ditegur saya atau paksu). Saya pun bercerita kepada mereka apa yang saya alami hari itu, perasaan dan kekhawatiran saya, kesibukan saya, serta pendapat saya mengenai sesuatu. Saya juga sering memancing mereka, menanyakan pendapat mereka mengenai suatu hal, mulai dari hal yang tidak signifikan hingga topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan.

Meskipun tidak mudah, setiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk mengobrol santai dengan anak saya, one-on-one. Jika saya sedang mengobrol berdua dengan kakaknya, adiknya (meskipun baru berumur 6 tahun) sudah mengerti bahwa itu waktu pribadi kakaknya dengan saya, dan dia tidak akan mengganggu; begitu pula sebaliknya. Mereka punya terminologi sendiri untuk ini: huggy-huggy time, yang awalnya digunakan sebagai sebutan saat mereka minta dipeluk oleh saya atau ayahnya.

Sesekali, saya akan pergi berdua dengan sang kakak (sebagai sesama perempuan), sementara ayahnya melewatkan waktu dengan si adik (sebagai sesama laki-laki). Boys with boys, and girls with girls; begitu kami menyebutnya. Ke mana? Ke mana saja. Kadang sesimpel pergi berdua ke pangkas rambut (Yoda dan ayahnya) atau ke salon (saya dan Anja), ke supermarket, ke pusat perbelanjaan, atau ke pasar. Aktivitas yang dilakukan hanyalah objek penyerta, yang menjadi subjek adalah kedekatan satu sama lain.

Jika saya hanya bermobil berdua dengan Anja, ia saya perbolehkan duduk di depan. Di keluarga kami, biasanya anak-anak duduk di barisan belakang, sementara yang duduk di depan hanyalah saya atau paksu. Anja senang sekali jika ia diijinkan untuk duduk di kursi samping supir. Rasanya seperti orang dewasa, katanya, karena saya memberinya tugas tambahan sebagai navigator. Ia merasa gembira dengan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, dan biasanya ia akan tersenyum riang di sepanjang perjalanan. Mumpung mood-nya bagus, saya kerap menggunakan waktu semobil berdua ini untuk berbincang lebih akrab dengannya, termasuk menyelipkan harapan-harapan kami sebagai orang tua.

Di sisi lain, saya dan paksu menanamkan pada anak-anak bahwa sebagai orang tua kami tidak sempurna, pasti ada kurangnya, dan sama sekali tidak tabu bagi kami berdua untuk minta maaf pada mereka berdua. Ini sebenarnya salah satu hal yang mungkin sulit bagi orang tua jaman dulu alias orang tua kami berdua. Namun, karena kami ingin membangun suatu kebiasaan baru, kami pun harus terbiasa untuk mengubah paradigma bahwa meminta maaf itu hanya berlaku dari anak kepada orang tua, dan tidak berlaku sebaliknya. Awalnya memang tidak mudah, namun setelahnya kami menjadi terbiasa. Memang benar, alah bisa karena biasa.

Harapan saya dan paksu, bila kami membumikan diri sebagai orang tua mereka, mereka akan bersedia membuka diri. Mengakui bila mereka salah menilai ataupun salah langkah. Sesederhana mengakui bahwa mereka lupa mengerjakan PR, dan bukan malah mencari-cari alasan ataupun menyembunyikan fakta yang terpampang di depan mata.

Sejak awal, saya dan paksu sepakat bahwa nantinya kami harus menjadi sahabat terbaik anak-anak kami, dan mereka pun menjadi sahabat terbaik kami. Saya dan paksu ingin anak-anak dekat dan terbuka kepada kami, orang tua mereka. Sependek perjalanan kami membersamai mereka berdua, hal ini bukanlah tugas yang mudah, apalagi kami pun masih di tahap awal siklus hidup mereka. Namun, demi kedua sahabat terbaik kami, apa pun ikhlas kami upayakan.

#BFFtime
#AnakkuSahabatTerbaikku
#KLIPWriting Challenge

Design a site like this with WordPress.com
Get started