“Aduuuh…!” Anja, anakku yang pertama, mengelus kakinya. Rupanya ia terkena mobil mainan yang dilempar oleh sepupunya yang berumur sekitar 1,5 tahun.
Saat Anja sibuk mengelus mata kakinya yang sakit terkena lemparan, sepupu kecilnya berlari ke arah berlawanan dan mengambil mainan lagi. Sekali lagi dilemparkannya mainan kecil itu ke arah anakku. Ibunya kali ini melihatnya dan menegur anaknya. Namun, setelah sempat diam sebentar, sang sepupu cilik ini kembali mengambil salah satu mainannya dan dengan terhuyung-huyung berlari ke arah anakku dan melemparkan mainannya. Beberapa kali ditegur oleh ibu maupun ayahnya tidak menghentikannya. Ia kembali lagi mengambil mainan yang lain dan melemparkannya ke arah anakku, Anja.
Aku, yang awalnya tidak terlalu memperhatikan, kemudian mengamati dengan lebih seksama. Kulihat keponakan kecilku tertawa riang sebelum ia melemparkan mainannya. Namun demikian, setelah ia melemparkan mobil mainannya di wajahnya terlihat semburat kecewa sebelum ia akhirnya berlari kembali dan mengambil mainan yang berbeda.
Sebagai ibu, insting pertamaku tentunya adalah melindungi anakku. Akan tetapi, karena kulihat ada rasa kecewa yang terbersit di raut keponakanku, aku jadi berpikir lebih jauh. Apakah mungkin ia mengharapkan sesuatu yang berbeda? Apakah niatan awalnya bukan untuk melempari anakku dengan sengaja?
Aku kemudian berpikir. Awalnya saat datang, keponakan kecilku ini sibuk bermain bola dengan Anja (sebelum akhirnya beralih ke permainan lainnya). Apakah mungkin sebenarnya ia ingin mengajak anakku main lempar-lemparan seperti sebelumnya?
Aku kemudian menoleh ke kanan-kiri mencari bola yang tadi mereka mainkan. Ah, itu dia. Rupanya tersembunyi di balik kursi. Tidak mudah terlihat dan agak tersembunyi memang. Aku kemudian mengambil bolanya, lalu kupanggil keponakanku.
“Adeeeekk….., mau main bola sama kakak ya?”
Ia menengok, lalu tertawa riang. Kulemparkan bola tadi pelan ke arah anakku. Melihat bolanya melambung, keponakanku tertawa gembira. Ia lalu memungut bola tadi, lalu melemparkannya ke arah anakku yang dengan senang menyambutnya.
“Waaaah…. pinter ya adeeek…. sudah tahu ya… kalau mau main lempar-lemparan pakai bola, bukan mobil-mobilan,” ucapku yang disambut dengan tawa gembira keponakanku.
Mereka kemudian main bersama, dan keponakanku berhenti melempari Anja dengan berbagai mainan.
*****
Meskipun sedikit kata yang terlontar, namun komunikasiku dengan keponakan kecilku rupanya berjalan dengan efektif dan produktif. Aku mengamati perilakunya dan menanggapinya dengan respons yang tepat.
Kadang, akan lebih mudah bagi kita, orang tua atau orang dewasa, untuk membalas perilaku melempar mainan dengan balik melempar mainan kepada si pelempar, dengan harapan ia tahu bahwa dilempar mainan itu sakit, dan mengharapkan bahwa ia akan kapok. Seberapa seringkah kita mengatakan, “Tuh kan deeek… dilempar itu sakit…. Makanya jangan suka melempar orang dengan mainan ya deeek,” kepada anak atau keponakan kita yang suka melempar mainan? Cukup tergodakah kita untuk melakukannya?
Memang, apabila kita menghentikan perilaku kurang baik ini dengan ungkapan seperti di atas, si pelempar akan menghentikan aksinya. Namun demikian, lama-kelamaan ia akan merasa bahwa tidak apa-apa untuk membalas (dendam). Padahal, nilai yang ingin kita tanamkan bukanlah nilai tersebut.
Karena itu, hari ini aku belajar untuk mengamati dan memilih respons yang sesuai. Saat kulihat wajah keponakanku yang kecewa, aku memilih untuk mencoba hal baru. Aku mencari alasan lain di balik aksinya melemparkan mainan ke arah anakku. Alhamdulillah observasiku tepat, dan karenanya aku bisa memberikan respons yang sesuai.
Tentunya masih ada cara lainnya, yang bisa jadi sama produktifnya. Apakah caraku hari ini pasti akan selalu berhasil? Tentu tidak. Namun, kita harus bersabar dan konsisten. Anak akan mempelajari reaksi kita dan lama-kelamaan ia akan mengerti. Aku tentu ssaja berdoa agar aku punya stok sabar yang banyak sekali, hihihi….
Untuk pendekatan berbeda yang aku lakukan hari ini, aku ingin memberi Bintang 5 atas pencapaianku. Bukan semata-mata karena pendekatan ini berhasil, tetapi juga karena kejelian pengamatanku. Hihihi… boleh ya sesekali berbangga hati atas keberhasilan diri sendiri… 😉😉
#harike-3
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia