Badai

Jika dia cintaimu melebihi cintaku padamu
Aku pasti rela untuk melepasmu
Walau ‘ku tahu ‘ku ‘kan terluka
Jikalau semua berbeda, kau bukanlah orang yang ‘ku puja
Tetapi hatiku telah memilihmu
Walau kau ‘tak mungkin tinggalkannya

Hatiku berdegup kecang. Lagu lawas yang kudengar saat berlari kecil melewati warung di pinggiran jalan di tengah hujan rintik ini terasa begitu menohokku. Lemas rasanya lututku. Tubuhku bergetar. Tak mampu aku meneruskan langkahku.

Jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia
Walaupun kau takkan pernah ‘ku miliki selamanya

Aku menutup mata perlahan. Enggan aku membukanya. Tertusuk rasanya jantungku. Bagaimana bisa aku bahagia bila ia tidak bisa kumiliki selamanya? Bukankah kebahagiaan seorang perempuan adalah bila ia bisa bersatu dengan orang yang dicintainya? Sungguhkah aku tega berbahagia di atas penderitaan perempuan lain?

Aku bersandar lemah di pepohonan rimbun yang menaungi jalan di pinggiran kampusku. Sudah tidak ada lagi niatanku untuk meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Musnah sudah keinginanku untuk segera tiba di kamar kosku dan melahap semangkok mi instan hangat di sore yang dingin ini. Aku gontai, luluh, remuk redam, hancur tak bersisa, hanya karena penggalan lagu yang kudengar sepintasan di tengah hiruk pikuk manusia dan kendaraan yang lewat di tengah rintiknya hujan.

Kini, hujan berganti dari sekadar gerimis menjadi hujan deras. Aku sudah tak peduli. Kududuk terdiam di halte kosong di tengah hujan. Pakaianku sudah terlanjur basah oleh hujan karena tadi aku memilih untuk berdiri terpaku di pepohonan, dan bukannya mencari tempat berlindung. Kututup wajahku dengan kedua belah tanganku. Derasnya air hujan yang tercurah dari langit tak sederas air mata yang kutumpahkan di senja hari ini.

Ya Allah, bagaimana bisa aku menemukan kebahagiaan bila di ujung sana ada perempuan lain yang terluka?

Continue reading “Badai”

Gemintang Pagi Berselimut Sendu

5 Juli 2009

“Sampai nanti ya bu, sore-sorean kita ketemuan di apartemen,” ujarku seraya menutup telepon.

Pagi itu, aku bersiap untuk kembali menyiapkan pernikahanku. Hanya tersisa 6 bulan sebelum hari pernikahanku tiba, dan meskipun bagi sebagian orang masih terasa cukup waktu untuk mempersiapkannya, aku merasa hanya bisa mendedikasikan waktu untuk mengurus keperluan pernikahan dengan leluasa di akhir minggu. Dengan demikian, 6 bulan bisa terasa berlalu dengan sangat cepat.

Sore itu aku dan ibu berjanji untuk bertemu di apartemenku untuk berenang dan berkumpul bersama sebelum akhirnya pergi membeli kain untuk seragam yang akan dikenakan keluarga pengantin serta aku sendiri. Memang, meskipun masih lajang, aku sudah memiliki apartemen sendiri dan sesekali tinggal di sana, terutama jika aku pulang kemalaman dan tidak mau mengganggu orang rumah. Soalnya, walaupun masing-masing sudah dibawakan kunci sehingga bisa masuk sendiri, ibuku kadang terbangun bila mendengar ada salah satu anaknya yang datang.

Sambil menunggu ibuku dan adik-adikku, aku pergi ke supermarket dan membeli beberapa bahan makanan dan cemilan. Setelah itu, aku menghabiskan siangku bersama calon suamiku untuk mengurus beberapa detail acara pernikahan, termasuk bertemu dengan staff hotel yang akan menjadi lokasi acara pernikahan kami.

Sebuah pesan masuk saat kami sedang di hotel. Ibuku dan adik-adikku sudah dalam perjalanan ke apartemen. Kami segera berpamitan dan kembali ke apartemen yang berlokasi tidak jauh dari hotel.

Tak lama, terdengar pintu diketuk.

Continue reading “Gemintang Pagi Berselimut Sendu”

Nihil

21.45

Sruk… sruukk… sruukkk….

Resti menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia lalu membenamkan kepalanya lagi ke kertas gambar di depannya. Semakin lama kok rasanya semakin buntu isi kepalanya. Desain rumah susun yang dirancangnya sebagai tugas Perancangan III sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda menuju penyelesaian. Denah, potongan, serta tampak depan dan samping sebenarnya telah selesai dibuatnya, meskipun belum sempat ia warnai. Akan tetapi, ia terhenti di pembuatan rencana tapak. Hingga malam begini ia masih merasa kurang sreg dengan pengaturan lahan parkir yang dirancangnya. Digeser ke tengah salah, diatur merapat ke tepian site pun rasanya kurang efektif. Jumlah minimum slot parkir yang disyaratkan dosen juga belum bisa terpenuhi. Geregetan! Ia sempat berpikir untuk menunda mengerjakan lembaran yang satu ini dan mulai mewarnai beberapa gambar yang telah dibuatnya. Namun, kurang sreg rasanya bila malah mengerjakan lembaran lainnya, sementara ia masih belum bisa menemukan solusi untuk masalah perparkiran di tapaknya.

Resti kemudian mengangkat kepalanya. Melihat ke arah temannya yang juga lembur di studio kampus seperti dirinya. Kali ini tidak banyak yang bermalam di studio. Hanya lima orang, ia tadi sempat menghitung. Biasanya lebih dari sepuluh orang yang janjian mengerjakan tugas bersama-sama, meskipun sebenarnya tidak juga satu tugas dikerjakan secara berkelompok karena tugasnya merupakan tugas individu. Mereka mengerjakan tugas di studio hanya agar tidak ketiduran mengerjakan di rumah atau di tempat kos.

Teman-temannya, yang rata-rata berada dua atau tiga baris di depannya terlihat berkutat dengan lembaran kertas masing-masing. Ada yang sambil mendengarkan lagu lewat headset, ada juga yang sambil sibuk bermain dengan telepon genggamnya. Temannya, Aldy, yang duduk di barisan belakang terlihat santai mengerjakan tugasnya. Aldy memang termasuk mahasiswa berotak encer, jadi mungkin ia bisa mengerjakan tugasnya dengan mudah. Tidak seperti dirinya yang sepertinya selalu terbentur tembok dan tidak bisa menemukan solusi desain.

Resti menghela napas, lalu kembali menatap lembaran kertas gambar separuh kosong di hadapannya.

Continue reading “Nihil”

Belajar Jadi Barista di Usia 40-an, Mengapa Tidak?

Hiduplah seolah engkau mati besok. Belajarlah seolah engkau hidup selamanya.

Mahatma Gandhi

Di suatu sore di hari Sabtu di bulan Agustus, sebuah WA masuk ke telepon genggam saya. Di situ tertulis bahwa saya berkesempatan untuk mengikuti program pelatihan kerja yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan. Awalnya saya sempat menyangka bahwa WA ini hoax — sebuah penipuan — saking banyaknya penipuan via WA atau SMS yang saya terima belakangan ini.

Namun, dengan hati-hati saya teruskan membaca WA tersebut dan memutuskan untuk mengikuti prosedur pendaftaran yang tertera di dalamnya. Oh iya, mengenai prosedur pendaftaran dan lainnya akan saya tuangkan di tulisan yang berbeda yaaa…. Seorang teman yang juga blogger sudah meminta saya untuk menuliskannya. Jadi, saya berhutang tulisan mengenai hal ini, dan insyaallah akan saya tuliskan.

Anyway, saya akhirnya memilih untuk mengikuti pelatihan sebagai barista, padahal ada dua pelatihan lain yang juga ditawarkan: content creator dan digital marketing. Kedua pelatihan ini sebenarnya merupakan pilihan yang lebih logis kalau mempertimbangkan latar belakang saya yang sebelumnya orang kantoran dan saat ini sedang merintis bisnis online.

Saat itu pikiran saya hanya satu: pelatihan sebagai barista di-bundling dengan kesempatan untuk mendapatkan sertifikat dari BNSP, yang notabene berlaku nasional dan sangat prestisius di kalangan barista, yang tentunya merupakan kesempatan langka bagi orang awam seperti saya. Jadi, tanpa pikir panjang saya memilih pelatihan sebagai barista.

Hal ini saya sesali sedetik kemudian. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Saya sudah terlanjur mengeklik pilihan tersebut, dan pendaftaran saya pun sudah dinyatakan berhasil. Yaaah…, namanya penyesalan selalu datang belakangan (kata orang, kalau di depan namanya pendaftaran, hahaha….). Apa jadinya saya yang nol pengalaman ini bila belajar jadi barista dibandingkan teman sekelas saya yang pastinya lebih kaya pengalaman? Apa mungkin saya — di usia nyaris 45 tahun ini — bisa belajar lagi sesuatu yang sama sekali baru dan berbeda dari latar belakang saya? Orang mengatakan bahwa you can’t teach an old dog a new trick, dan saya adalah old dog. Enggeus kolot kalau kata orang Sunda, mah… Bagaimana mungkin saya bisa mempelajari keahlian sebagai barista hanya dalam 10 hari saja?

Continue reading “Belajar Jadi Barista di Usia 40-an, Mengapa Tidak?”

Ada Berkah di Balik Wabah

“In the the middle of difficulty lies opportunity.”

Albert Einstein

Akhir-akhir ini, ada satu kata yang sering wira-wiri di layar kaca: pagebluk. Adakah yang tahu artinya? Tidak tahu? Hahaha…. Jangan syediiih…, saya pun tahu artinya belum lama ini, meskipun sebenarnya kata ini sudah eksis sejak dulu. Menurut KBBI, pagebluk merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti wabah (penyakit) atau epidemi.

Di masa pagebluk atau pandemi seperti ini, orang sering mengatakan bahwa segala sesuatu dibatasi, semua serba susah, dan keadaan serba sulit. Mau ke mana-mana tidak bisa, mau jalan-jalan tidak memungkinkan, mau beraktivitas pun jadi terbatas.

Tapi, kata siapa wabah tidak bisa mendatangkan berkah?

Continue reading “Ada Berkah di Balik Wabah”

Kapankah Kita Terakhir Merawat Diri?

Mommy, you need to take care of yourself.”

You take care of us, but you don’t have time to take care of yourself. You have wrinkles although just a little. You really need to take time for you.”

Anakku Anja berujar penuh perhatian sembari menyisiri kerut di wajahku. Aku terhenyak. Anakku yang baru berumur 9 tahun ternyata perhatian sekali pada ibunya. Ibu yang memang tidak pernah punya waktu (lebih tepatnya: menyempatkan diri) untuk merawat diri. Ia kemudian meneruskan, “Just go to a spa or get a massage. You truly deserve it.”

Aku tertegun. Tidak menyangka kalau kata-kata di atas akan terlontar dari bibir anak perempuanku. Kami berdua memang biasa saling bercerita sambil berbaring. Biasanya ia akan minta dipeluk, lalu ia bercerita tentang harinya dan perasaannya.

Namun, kali ini kalimat pertamanya ditujukan untukku. Permintaan sederhana seorang anak agar ibunya meluangkan waktu untuk dirinya sendiri dan tidak hanya menempatkan mimpi orang lain di atas mimpinya sendiri.

Kalau dipikir, memang sudah lama sekali aku tidak merawat diri. Sejak tidak berkantor, rutinitas sehari-hari hanyalah seputaran rumah dan supermarket. Jarang sekali aku pergi ke tempat yang mengharuskan aku untuk berdandan. Apalagi sejak pandemi ini, makin jarang pula aku ke luar rumah. Karena itu, jangankan ke salon, ke depan cermin di kamar mandi untuk mengoleskan krim malam pun hampir tidak pernah. Sudah berdebu mungkin botol-botol skincare milikku karena sudah berbulan-bulan tidak terjamah.

Aku tersenyum, lalu menjawab, “Now, my priority is you, my dear,” kataku sambil mengusap rambutnya.

Ia menggeleng, “No. Enough about us. You really need to take care of yourself,” anakku bersikeras. “You can use my saving.”

Aku tersenyum kecil. Tabungan yang ia bilang tadi jumlahnya tidak seberapa. Hanya terdiri dari lembaran uang dua ribuan dan koin seribuan yang dimasukkan ke dalam galon kecil air mineral. Sejumlah uang yang bila aku pakai ke dokter untuk berkonsultasi dan membeli pot-pot krim perawatan wajah tentunya akan habis, atau malah tidak mencukupi. Namun, dengan sukarela ia berikan semuanya untukku. Bukan untuk membeli mainan atau buku, tapi untuk ibunya. Agar ibunya terlihat segar dan tidak lelah karena sibuk di rumah.

Kali ini anak gadis kecilku membuatku merenung. Kapan terakhir kali aku merawat diri? Paksu tidak pernah mengeluhkannya. Alhamdulillah. Ia mengerti, prioritas kami adalah anak-anak. Kebutuhan pribadi kami adalah nomor kesekian setelah sekolah anak-anak dan kebutuhan keluarga lainnya.

Namun, ternyata anak sulungku yang memperhatikan bahwa aku tidak sempat mengurus diriku. Ah, gadis kecilku begitu perhatian padaku. Aku jadi terharu. Kukumpulkan botol pembersih, toner, dan micellar water yang sudah lama aku biarkan teronggok di sudut kotak kosmetik. Aku bertekad, mulai hari ini aku akan rajin merawat diri. Jangan sampai anakku merasa sedih melihat ibunya yang kusam dan lelah tergerus kesibukan di rumah.

Kata Siapa Tidak Ada Cerita Seru di Perpustakaan?

Di antara berbagai pekerjaan random saya yang tekuni (random kok bisa tekun ya? Hahaha….), saya pernah berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas swasta di Jakarta. Dosen apa? Hahaha…. Dosen bahasa Inggris dan Statistika (super banget ya…. ngajar Statistika). Orang yang mengenal saya pasti akan tertakjub-takjub dengan jalan hidup saya yang membawa saya menjadi staf pengajar mata kuliah Statistika, ilmu yang saya belum pernah pelajari secara detail mengingat latar belakang keilmuan saya. Pun, karakter saya yang sepertinya jauh dari tipe dosen pengajar Statistika ideal. Namun, alhamdulillah saya dipercaya untuk mengampu mata kuliah ini.

Anyway, di universitas tempat saya mengajar, Sampoerna University (waktu itu namanya belum Sampoerna University), mahasiswa diberikan kesempatan untuk konsultasi atau bimbingan dengan dosen pengampu apabila mereka merasa kesulitan dengan materi yang diajarkan. Jadinya seperti bimbingan belajar kelompok atau individu, hehehe…. Di mana tempatnya? Seringnya sih di perpustakaan yaaa…. Dulu, saat masih berupa sekolah tinggi, dosen mendapatkan kubikal yang cukup luas sehingga bisa menerima mahasiswa di kubikal masing-masing. Namun, setelah ‘naik kelas’ menjadi universitas, keseluruhan tata letak diubah, dan para dosen bergabung di area terbuka dengan konsep open space yang tidak memungkinkan privasi yang cukup untuk melakukan diskusi dengan para mahasiswa. Jadi deh… perpustakaan menjadi tempat favorit dosen dan mahasiswa untuk melakukan konsultasi atau bimbingan.

Library Visit} Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) Library –  Neverending Story
Area belajar mandiri

Perpustakaan universitas ini memang tergolong nyaman. Meskipun koleksi bukunya belum selengkap koleksi buku di perpustakaan universitas pada umumnya, fasilitas di dalamnya lumayan lengkap. Terdapat 20 iPad yang bisa dipinjam oleh pengunjung untuk berselancar di internet dan membaca koleksi jurnal daring. Area perpustakaan pun cukup bervariasi. Selain area baca, disediakan area belajar mandiri yang dilengkapi dengan komputer. Ada pula area diskusi dan duduk-duduk untuk pengunjung perpustakaan. Area duduk dan diskusi ini terdapat di lobi perpustakaan dan di dalam perpustakaan. Ditambah lagi, di bagian area senyap di dalam perpustakaan terdapat dua ruangan yang bisa dipesan bila memerlukan privasi yang lebih untuk membaca ataupun berdiskusi.

diskusi
Area diskusi di dalam perpustakaan (di luar area senyap)

Nah, dua ruang diskusi di dalam area senyap ini yang biasanya dimanfaatkan para mahasiswa untuk berkonsultasi dengan dosen pengampu, termasuk saya. Sayangnya, saya tidak memiliki foto-foto yang menunjukkan si ruang favorit para mahasiswa dan dosen ini.

Suatu pagi menjelang siang, saya janjian dengan mahasiswa saya di salah satu ruang diskusi tadi. Saat saya datang, beberapa mahasiswa sudah duduk manis menunggu saya. Setelah konsultasi usai di sekitar jam 11 siang, mereka pamit undur diri. Saya sendiri memilih untuk tetap tinggal di ruang diskusi karena ada beberapa hal yang perlu saya selesaikan. Oiya, sebagai dosen, kami dibekali komputer jinjing sehingga tetap bisa meneruskan pekerjaan meskipun tidak berada di meja. Jadi, saya teruskan membuka beberapa berkas di komputer dan melanjutkan pekerjaan saya.

Setelah selesai, saya segera membereskan beberapa kertas, menutup komputer, dan bersiap untuk kembali ke ruang dosen. Saya buka pintu perlahan, dan saya ke luar dari ruang diskusi. Perpustakaan tampak sepi, seperti tidak ada seorang pun. Akan tetapi, saya tidak banyak pikir. Saya hanya mengira bahwa para mahasiswa ini sedang masuk ke kelas mereka.

Begitu saya hendak keluar ruangan senyap (ruangan tempat rak buku berjejer di perpustakaan), dengan santai saya membuka pintu kaca yang membatasi ruang senyap dengan ruang publik. Bruk! Pintu terkunci! Waduh! Tetiba saya baru ingat…. Ini hari Jumat! Sekarang jam 11.45, tentu saja pintu sudah dikunci karena sedang jam istirahat untuk salat Jumat. Saya kembali ke dalam dan menuju jendela besar-besar di samping perpustakaan. Saya berusaha menarik perhatian satpam yang biasanya meronda ke sekeliling fasilitas gedung. Tentu saja ini usaha yang sia-sia, tidak ada satpam meronda di jam seperti ini di hari Jumat. Mereka entah sedang berjaga di pos atau salat Jumat.

Lalu bagaimana nasib saya?

Hahaha…. no worries…. Sekitar jam 1 siang para pustakawan kembali ke perpustakaan setelah mereka selesai salat Jumat. Melihat saya melambaikan tangan di jendela, mereka berlari dengan panik. Berkali-kali mereka meminta maaf karena lupa mengecek ruang diskusi sehingga saya terkunci sendirian di dalam perpustakaan. Saya sih hanya tertawa terbahak-bahak saja siang itu, hahaha…. Mau apa lagi??

Eh, setelah saya pikir-pikir, untungnya (dasar orang Jawa, di balik kesulitan selalu ada keberuntungan, hihihi….) waktu itu alam sedang tidak memanggil…. Kalau ada ‘panggilan alam’ alias pingin pipis, tentu urusannya beda lagi, huhuhu…..

****

Catatan:
Saya berusaha mencari foto-foto perpustakaan koleksi saat saya masih bekerja di sana, tapi sayangnya belum ketemu (kurang dalam sepertinya menggalinya, hehehe….). Akhirnya, saya mengubek-ubek internet dan menemukan foto-foto yang saya cari di sini: https://syifadiba.wordpress.com/2013/05/21/library-visit-universitas-siswa-bangsa-internasional-usbi-library/. Jadi, semua foto di tulisan ini diambil dari sumber tersebut.

#HariKunjungPerpustakaan
#TantanganRBM
#RBMIP

Gampang-Gampang Susah: Belajar Menggali Jawaban tanpa Nada Tinggi

Mommy, maaf ya, Mas Ichi pipis sedikit,” kata anak lelakiku tadi pagi.

Ucapan yang biasanya membuatku tensiku naik, kini sudah mulai bisa kuredam. Ingatan akan banyaknya ‘bintang’ Bunda Sayang yang bisa kusematkan pada diriku membuatku mengerem untaian siraman rohani yang biasanya kusampaikan pada anakku. Ucapan ‘pipis sedikit’ ini artinya dia sudah keburu mengeluarkan air kecil sebelum sampai di toilet. Untuk anak berusia 6 tahun, tidak seharusnya hal ini terjadi. Namun, aku tahu kenapa dia sampai tidak sempat buang air kecil seperti yang seharusnya. Pasti karena dia menahannya dan tidak langsung berjalan ke kamar mandi. Inilah yang menurutku bukan kebiasaan yang baik dan biasanya membuatku naik darah.

Kali ini, kucoba untuk menahan diriku. Emosi yang biasanya naik, pagi ini berhasil kuredam. Beberapa hari secara sadar mempraktikkan komunikasi produktif membuatku lebih mudah mengontrol urat marahku. Tadi, aku mulai dengan menggali alasannya. Mengapa anak lelakiku ini tidak bisa menahan rasa pingin pipisnya hingga tiba di kamar mandi. Alasannya sebenarnya klise: masih ingin nonton TV (atau main game). Akan tetapi, pagi ini kubiarkan ia mengemukakan alasannya dengan kata-katanya sendiri. Aku ingin ia mengerti konsekuensinya.

View Post

Karena melihat raut mukaku yang biasa saja (tidak terlihat marah ataupun kesal), anakku dengan lancar menceritakan alasannya dengan jujur. “Mas Ichi lagi main,” katanya.

Yes. Poin pertama tercapai. Ia berkata jujur, meskipun ia tahu aku mungkin akan marah padanya. Selanjutnya, aku tanyakan pandangannya. Apakah menurutnya baik bila berperilaku seperti demikian. Tentu saja ia jawab dengan: tidak.

Lalu, kuteruskan urusan gali-menggaliku dengan pertanyaan ini: “Besok-besok begitu lagi gak mas?” Hahaha…. pertanyaan mudah ini sebenarnya — pertanyaan jebakan. Jawabannya hanya satu: tidak. Tidak ada variasi jawaban lain yang bisa diterima.

Namun, pertanyaan ini sebenarnya yang aku tunggu jawabannya. “Harusnya gimana mas supaya gak begitu lagi?”

Menurutku, jawaban atas pertanyaan ini sangat krusial. Aku ingin mendengar jawabannya. Apakah asal jawab, atau benar-benar dipikirkan. Alhamdulillah ia menjawab dengan serius, dan tidak memberikan jawaban asal-asalan atau main-main.

Setelah itu, tanpa diminta anakku pun kembali mengucapkan permintaan maaf. Duuuh…. kalau sudah begini, mana bisa aku mangkel kepadanya? Hihihihi… senyum-senyum saja aku dibuatnya.

Alhamdulillah komprod hari ini berjalan dengan baik. Tidak ada rasa kesal ataupun jengkel seperti yang biasanya aku rasakan. Ternyata benar. Kalau kita rajin berlatih, maka hal yang awalnya bukan merupakan kebiasaan kita akan menjadi suatu kebiasaan baru, dan lama-kelamaan kita akan secara otomatis melakukannya. Aku telah mulai merasakannya.

Karena itu, untuk hari ini kusematkan Bintang 5 kembali di dadaku. Kali ini atas keberhasilanku untuk mempraktikkan komprod secara sukarela. Juga atas keberhasilanku menahan diri dan memulai diskusi dengan intonasi yang baik serta tanpa nada tinggi. Kesadaran untuk menanggapi suatu hal yang kurang menyenangkan secara produktif dan efektif benar-benar membuat suasana yang keruh menjadi netral kembali. Solusi yang diharapkan pun muncul tanpa dipaksa. Sungguh, aku merasakan manfaat mengikuti kelas Bunda Sayang sekarang ini. Alhamdulillah…. 🥰🥰🥰

#harike-9
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Komprod Hari ke-8: Belajar Estimasi Waktu

Beberapa waktu ini saya melatih anak pertama saya, Anja, untuk bertanggung jawab dalam mengatur waktunya menyelesaikan pekerjaan rumahnya. PR dari sekolah memang terkadang sedikit, tapi tidak jarang pula bertumpuk-tumpuk dan harus disetorkan di hari yang sama. Karena Anja sudah kelas 5, saya mengajarinya untuk belajar berhitung waktu yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan tugas sekolahnya.

Diskusi mengenai tugas sekolah ini sesekali mudah, namun terkadang sulit karena persepsinya mengenai lamanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas belum tepat. Tugas menggambar yang membutuhkan waktu lama, misalnya, kadang dia anggap hanya memerlukan waktu 30 menit atau 1 jam paling lama, padahal sebenarnya ia membutuhkan setidaknya 2 atau 3 jam untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Kalau sudah begini, kadang saya kehilangan kesabaran karena melihat dia bersantai dan menonton televisi atau malah bermain bersama adiknya. Untuk saya, di sinilah ujiannya. Hari ini saya mencoba melakukan komunikasi produktif dengan Anja. Bukan untuk tugas menggambar, tapi untuk tugas membuat scrapbook yang 11-12 dengan tugas menggambar: sama-sama membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.

Anja, di sisi lain, menganggap tugas membuat scrapbook itu tidak menghabiskan waktu lama. Menurutnya, tugasnya ringan. Hanya meringkas buku yang sudah dibaca, menuliskan atau mengetiknya, lalu menempelkannya ke lembaran kertas yang kemudian dikliping menjadi sebuah buku. Jangan bayangkan scrapbook cantik dengan berbagai dekorasi atau pita yang dijual di toko hobi. Ini sih masih scrapbook kelas pemula yang minim hiasan. Lebih menyerupai kliping kalau menurut saya. Hal yang menurut Anja bisa dengan mudah ia kerjakan dan selesaikan.

Namun demikian, di mata saya yang merupakan orang dewasa, dengan mudah bisa terlihat bahwa sesederhana-sederhananya scrapbook ini, tetap saja membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Siapa yang benar? Tentu saja saya, hehehe…. Mom is always right.

Sayangnya, mendiskusikan lamanya waktu menyelesaikan si scrapbook ini bukanlah tugas yang mudah. Kalau mengambil jalan pintas, bukannya dia yang memperkirakan lamanya waktu untuk menyelesaikan pembuatan scrapbook tersebut, tapi saya yang akan langsung mengarahkannya untuk mengerjakan di jam sekian, dan harus selesai di jam sekian, karena harus dikumpulkan jam sekian. Kebiasaan inilah yang sedang pelan-pelan saya geser sehingga lama-kelamaan dia bisa memperkirakannya sendiri.

Di awal diskusi, seperti yang saya perkirakan, anak saya terlalu meng-underestimate waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugasnya. Saya kemudian memintanya untuk membagi langkah-langkah penyelesaikan tugasnya. Dengan demikian, akan lebih mudah baginya untuk memperkirakan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas yang diminta. Misalnya, meringkas cerita membutuhkan sekian menit. Belum lagi untuk mencari gambar tokoh atau karakter dalam cerita melalui internet. Saya memintanya untuk mencari beberapa tokoh dan mengecek waktu yang dihabiskannya untuk mencari gambar tokoh tersebut. Ia kemudian menyadari bahwa waktu yang sesungguhnya dihabiskan untuk mencari ilustrasi tokoh cerita tersebut jauh lebih lama dibanding yang ia perkirakan di awalnya.

Saya kemudian memintanya untuk memperkirakan ulang waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pembuatan scrapbook tersebut. Setelah itu, saya menanyakan padanya, “Jadi kamu mau mulai bikin jam berapa, Kak?”

Dengan demikian ia merasakan adanya otonomi dalam mengelola waktunya. Hal ini adalah sesuatu yang ia perlukan menjelang masa remajanya. Memang tidak mudah pada awalnya, terutama untuk saya karena prosesnya pasti lebih berliku (dan pastinya memerlukan kesabaran yang ekstra luas). Yang jelas, diskusi mengenai waktu penyelesaikan tugas jauh lebih lama dibandingkan dengan langsung memberikan arahan padanya. Bila saja saya kurang sabar, akan sangat mudah bagi saya untuk langsung berpindah ke mode direktif: langsung memberikan arahan tanpa memberikan kesempatan pada anak saya untuk belajar mengelola waktunya sendiri.

Dalam komunikasi produktif kali ini, saya belajar bahwa kesabaran membuahkan hasil. Hari ini anak saya menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Memang dari segi perkiraan waktu masih melebihi perkiraan waktu yang ia buat di awal, namun masih dalam koridor tenggat yang ditetapkan oleh gurunya, meskipun sudah memasuki jam Cinderella, hehehe…. Tenggat waktu jam 9.00 malam, dan ia mengumpulkan jam 8.53 malam. Hanya selisih 7 menit dari tenggat yang diberikan. 🙈🙈

Namun, sekali lagi hal ini merupakan pencapaian, baik untuk dia maupun saya. Karenanya, saya dengan senang hati menganugerahi kami berdua dengan status Bintang 5, terutama untuk hati dan sabar seluas samudera dalam proses diskusi dan penyelesaian tugas. Kudos untuk hari ini…! Semoga esok bisa lebih baik 😚😚

#harike-8
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Yang Dilempar itu Bola, Sayang, Bukan….

“Aduuuh…!” Anja, anakku yang pertama, mengelus kakinya. Rupanya ia terkena mobil mainan yang dilempar oleh sepupunya yang berumur sekitar 1,5 tahun.

Saat Anja sibuk mengelus mata kakinya yang sakit terkena lemparan, sepupu kecilnya berlari ke arah berlawanan dan mengambil mainan lagi. Sekali lagi dilemparkannya mainan kecil itu ke arah anakku. Ibunya kali ini melihatnya dan menegur anaknya. Namun, setelah sempat diam sebentar, sang sepupu cilik ini kembali mengambil salah satu mainannya dan dengan terhuyung-huyung berlari ke arah anakku dan melemparkan mainannya. Beberapa kali ditegur oleh ibu maupun ayahnya tidak menghentikannya. Ia kembali lagi mengambil mainan yang lain dan melemparkannya ke arah anakku, Anja.

Aku, yang awalnya tidak terlalu memperhatikan, kemudian mengamati dengan lebih seksama. Kulihat keponakan kecilku tertawa riang sebelum ia melemparkan mainannya. Namun demikian, setelah ia melemparkan mobil mainannya di wajahnya terlihat semburat kecewa sebelum ia akhirnya berlari kembali dan mengambil mainan yang berbeda.

Sebagai ibu, insting pertamaku tentunya adalah melindungi anakku. Akan tetapi, karena kulihat ada rasa kecewa yang terbersit di raut keponakanku, aku jadi berpikir lebih jauh. Apakah mungkin ia mengharapkan sesuatu yang berbeda? Apakah niatan awalnya bukan untuk melempari anakku dengan sengaja?

Aku kemudian berpikir. Awalnya saat datang, keponakan kecilku ini sibuk bermain bola dengan Anja (sebelum akhirnya beralih ke permainan lainnya). Apakah mungkin sebenarnya ia ingin mengajak anakku main lempar-lemparan seperti sebelumnya?

Aku kemudian menoleh ke kanan-kiri mencari bola yang tadi mereka mainkan. Ah, itu dia. Rupanya tersembunyi di balik kursi. Tidak mudah terlihat dan agak tersembunyi memang. Aku kemudian mengambil bolanya, lalu kupanggil keponakanku.

“Adeeeekk….., mau main bola sama kakak ya?”

Ia menengok, lalu tertawa riang. Kulemparkan bola tadi pelan ke arah anakku. Melihat bolanya melambung, keponakanku tertawa gembira. Ia lalu memungut bola tadi, lalu melemparkannya ke arah anakku yang dengan senang menyambutnya.

“Waaaah…. pinter ya adeeek…. sudah tahu ya… kalau mau main lempar-lemparan pakai bola, bukan mobil-mobilan,” ucapku yang disambut dengan tawa gembira keponakanku.

Mereka kemudian main bersama, dan keponakanku berhenti melempari Anja dengan berbagai mainan.

*****

Meskipun sedikit kata yang terlontar, namun komunikasiku dengan keponakan kecilku rupanya berjalan dengan efektif dan produktif. Aku mengamati perilakunya dan menanggapinya dengan respons yang tepat.

Kadang, akan lebih mudah bagi kita, orang tua atau orang dewasa, untuk membalas perilaku melempar mainan dengan balik melempar mainan kepada si pelempar, dengan harapan ia tahu bahwa dilempar mainan itu sakit, dan mengharapkan bahwa ia akan kapok. Seberapa seringkah kita mengatakan, “Tuh kan deeek… dilempar itu sakit…. Makanya jangan suka melempar orang dengan mainan ya deeek,” kepada anak atau keponakan kita yang suka melempar mainan? Cukup tergodakah kita untuk melakukannya?

Memang, apabila kita menghentikan perilaku kurang baik ini dengan ungkapan seperti di atas, si pelempar akan menghentikan aksinya. Namun demikian, lama-kelamaan ia akan merasa bahwa tidak apa-apa untuk membalas (dendam). Padahal, nilai yang ingin kita tanamkan bukanlah nilai tersebut.

Karena itu, hari ini aku belajar untuk mengamati dan memilih respons yang sesuai. Saat kulihat wajah keponakanku yang kecewa, aku memilih untuk mencoba hal baru. Aku mencari alasan lain di balik aksinya melemparkan mainan ke arah anakku. Alhamdulillah observasiku tepat, dan karenanya aku bisa memberikan respons yang sesuai.

Tentunya masih ada cara lainnya, yang bisa jadi sama produktifnya. Apakah caraku hari ini pasti akan selalu berhasil? Tentu tidak. Namun, kita harus bersabar dan konsisten. Anak akan mempelajari reaksi kita dan lama-kelamaan ia akan mengerti. Aku tentu ssaja berdoa agar aku punya stok sabar yang banyak sekali, hihihi….

Untuk pendekatan berbeda yang aku lakukan hari ini, aku ingin memberi Bintang 5 atas pencapaianku. Bukan semata-mata karena pendekatan ini berhasil, tetapi juga karena kejelian pengamatanku. Hihihi… boleh ya sesekali berbangga hati atas keberhasilan diri sendiri… 😉😉

#harike-3
#tantangan15hari
#zona1komprod
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Design a site like this with WordPress.com
Get started