Ada yang ingat film Evan Almighty? Di akhir film ini, Morgan Freeman yang berperan sebagai ‘Tuhan’ bertanya kepada Evan (yang diperankan oleh Steve Carell), “How do we change the world?” – Bagaimana cara kita mengubah dunia? – yang kemudian dijawab, “One Act of Random Kindness at a time.” – Dengan melakukan satu kebaikan setiap kali.
Film ini menyiratkan bahwa kebaikan yang kelihatannya kecil dan tidak bermakna, bila kerap dilakukan, akan memberikan dampak yang luar biasa dan tidak tanggung-tanggung: mengubah dunia. Kelihatan hiperbola dan lebay, tapi mungkin ada benarnya.
Saya berkesempatan untuk lebih merasakan makna berbagi kebahagiaan – yang meskipun kecil, tapi bermakna bagi orang lain – saat saya mulai mengikuti kelas SCIP di komunitas Ibu Profesional. Di sini saya diminta bercerita mengenai 3 kebaikan yang saya bagikan kepada orang lain: anak, suami, mertua, orang tua, orang yang tidak dikenal…. siapa saja…. dan apa saja: kecil ataupun besar, tidak masalah.
Saya yakin, sebenarnya sehari-hari kita sering melakukan atau merasakan dampak kebaikan-kebaikan kecil ini, namun mungkin semuanya berlalu begitu saja, dianggap sesuatu yang lumrah, dan barangkali kita tidak sempat meresapi kebahagiaan dan maknanya. Kelas ini membuat saya berhenti sejenak, merenungkan kebaikan yang saya rasakan, atau saya bagikan, dan merasakan bahwa meskipun kecil, berbagi kebaikan ini bisa memberikan kebahagiaan yang besar.
Berbagi kebaikan ini bisa dimulai dari hal yang remeh-temeh dan receh. Seberapa sering orang menahan pintu untuk kita agar kita tidak perlu membuka pintu sendiri? Sudahkah kita mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut? Saya mungkin termasuk generasi old yang kadang merasa kalau anak-anak jaman now suka kurang ada adabnya. Sudah dibukakan pintu, bukannya bilang terima kasih, malah diam dan lewat begitu saja; bahkan, menengok pun tidak. Kalau sudah begini, kadang saya jengkel dan jadi su’udzon: apa anak-anak ini tidak diajarkan sopan-santun oleh orang tuanya? Ooops.. Maaf ya para orang tua (termasuk saya)…. Hanya saja, saya merasa sudah sewajarnya bila ada yang membantu kita, kita berterima kasih pada orang tersebut. As simple as that. Sayangnya, sudah mulai berkurang orang yang mengucapkan magic word ini.
Karena itu, saat diminta untuk berbagi 3 kebaikan, saya ingin mulai dari sini; mengucapkan terima kasih. Bukan berarti sebelumnya tidak pernah… tapiiii, sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan respon orang yang saya berikan ucapan terima kasih. Jadi, waktu 3 hari lalu ada yang membukakan pintu mall untuk saya, saya ucapkan terima kasih sembari memperhatikan orang tersebut. Saya bisa melihat ia mengembangkan senyum, dan saya jadi ikut senang karena saya melihat bahwa dengan ucapan sesederhana ‘terima kasih’, saya dapat memberikan sedikit kebahagiaan bagi orang lain.
Act of random kindness yang kedua malah sesuatu yang saya sendiri tidak sadar bahwa yang saya lakukan adalah suatu kebaikan. Rabu kemarin sepulang les, sambil menunggu datangnya mobil, Anja, anak saya, memeluk saya dan berkata, ”Mommy selalu bilang supaya Anja bikin PR dan bikin tugas, and I love you for that. You’ve made me who I am now, and I thank God I have you as my mom. I love you, mommy.” Duuuuuh….. siapa yang gak meleleh dipeluk dan disayang sebegitu rupa oleh anak sendiri…. Saya sungguh tidak menyangka, tough love saya untuk anak saya ternyata dirasakan manfaatnya oleh si anak, dan malah sayangnya ke saya jadi bertambah. Sementara, saya justru berpikiran sebaliknya: anak saya tidak suka punya ibu yang tegas dan keras dalam mendidik. Hahaha…. Jadilah saya ibu yang su’udzon ke anak sendiri 😊
Kebaikan ketiga yang saya bagikan adalah saat saya dan paksu (suami) mampir ke Burger King (BK) untuk makan siang. Saat memesan makanan, saya melihat bahwa Burger King menawarkan menu paket dengan harga khusus untuk para pengemudi ojol: nasi, ayam, dan air mineral seharga Rp. 15.000 per paket. Setelah menanyakan apakah paket ini bisa kami bayarkan untuk pengemudi ojol yang datang, saya dan paksu sepakat untuk membeli beberapa paket untuk pengemudi ojol yang mengambil orderan di BK. Kebetulan, saat kami sedang makan, ada seorang pengemudi ojol yang datang dan mengambil pesanan di sana. Satu paket dari saya disiapkan untuk pengemudi tersebut (siapa pemberinya tidak diberitahukan ke penerima), dan dari tempat duduk, saya bisa melihat bahwa wajah bapak tersebut berbinar-binar, terutama saat dia berkata, “Alhamdulillah… Semoga berkah.” Hati saya langsung terasa hangat mendengarnya – saya dapat merasakan bahwa pemberian saya yang mungkin tidak seberapa itu memberikan sedikit kebahagiaan bagi si bapak (Semoga sehat terus ya pak). Alhamdulillah…. Kelas yang baru dimulai ini mengingatkan saya untuk terus menebar kebaikan – meskipun sekecil benih – karena insya Allah akan memberikan kebahagiaan bagi penerimanya.
Sekolah Anja pun di bulan Februari ini mengusung semangat yang sama. Di sekolahnya ada kegiatan Kindness Movement, yang tujuannya adalah berbagi kebaikan dengan teman-teman, guru-guru, dan staff di sekolah. Kegiatannya bervariasi dan sangat menarik. Salah satunya adalah untuk berbagi biskuit atau snack dengan orang/teman yang jarang berinteraksi dengan mereka (bisa dari kelas sendiri maupun kelas lain). Selain itu, setiap hari Rabu mereka diminta untuk makan siang dengan teman yang belum mereka kenal. Hari-hari lainnya ada kebaikan berbeda yang harus dilakukan, termasuk mengucapkan magic words: terima kasih, maaf, tolong, dan permisi. Kata-kata sederhana yang dalam maknanya.
Saat saya membaca pengumuman sekolah mengenai kegiatan ini dan ragam aktivitas yang akan dilakukan para murid, hati saya tergelitik. Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak? Kebaikan apa lagi yang bisa saya berikan bagi orang lain? Bismillah… semoga hal ini bisa menjadi penyemangat saya untuk terus berbagi kebaikan.
#Materi1
#Empati
#HabituasiSejutaCinta
#IbuProfesional
#ActOfRandomKindness