Menerima SMS OTP? Jangan Sembarangan Meneruskannya kepada Orang Lain

Ting!

Terdengar bunyi notifikasi yang menandakan adanya pesan singkat masuk ke telepon genggam saya. Saya, yang pagi-pagi sedang leyeh-leyeh setengah mengantuk sambil menonton TV, hanya melirik malas.

[Kode bersifat rahasia, jgn berikan….]

Demikian yang terbaca di tampilan layar telepon genggam saya.

Hmmm…. aneh. Kode kan hanya dikirim kalau ada transaksi.’

Sementara itu, HP saya sepagian tadi magabut, alias makan gaji buta, alias tak tersentuh barang sedetik acan. Gimana bisa ada transaksi?

Belum sempat saya membuka layar HP untuk mencari tahu lebih jauh, telepon saya tetiba berdering.

[085959372279]

Bukan dari nomor yang saya kenal. Dari siapa ini?

Saya, yang memang segan untuk mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal, pastinya memilih untuk tidak menjawab. Saya juga masih penasaran dengan pesan singkat yang saya terima sebelumnya. Felt like something’s fishy. Batin saya juga seperti menahan agar saya tidak terburu-buru menjawab panggilan telepon ini.

Selagi saya mencoba mencerna apa yang terjadi, sebuah pesan singkat kembali masuk ke telepon genggam saya.

[Slm liqum pak, bu, ma,af mengganggu sbntar, ada vocer game anak saya trkirim ke no anda, tolng d cek ada nggak sms nya dari 99100.]

Saya tersenyum geli. Terbaca sudah tujuan si nomor misterius itu.

Continue reading “Menerima SMS OTP? Jangan Sembarangan Meneruskannya kepada Orang Lain”

Apa Comfort Food-mu?

Image may contain: food
Mie ayam rumahan bikinan sendiri

Comfort food menurut saya adalah makanan yang mengingatkan saya pada kenyamanan dan suasana rumah — masakan yang membuat perut, sekaligus hati, gembira. Apa padanannya dalam bahasa Indonesia? Sayangnya sejauh ini saya belum menemukan yang pas. Mungkin teman-teman di sini bisa membantu.

Untuk saya, di antara berjuta makanan favorit saya (buat saiyah itu, semua makanan mah favorit, hahaha…..), mie ayam adalah comfort food andalan. Maksud hati sih pingin jawab mie instan… taapppiiiii… demi kedamaian sebangsa tanah dan sebangsa air serta stabilitas nasional, pertanyaan ini lebih lebih aman saya respon dengan jawaban padat singkat dan jelas: mie ayam.

Daaaan…. mie ayam ini juga kesenengan anak-anak saya, terutama si anak wedhok… Jadiiii, di rumah selalu ada stok bahan-bahannya, dan sesekali saya bikin sendiri mie ayam di rumah… Bahkan, demi pencarian mie mentah (habis saya bingung, ini kategori mie basah atau mie kering ya?) untuk mie ayam, saya dan paksu pernah pagi-pagi buta meluncur ke pabrik mie, hahaha…. Niat banget yaaa…. Untung hasilnya tidak mengecewakan… Klo enggak mah rugi, sudah pakai nyasar, soalnya, hihihi…

Namun, bukan berarti saya tidak pernah beli atau alergi dengan mie ayam gerobak. Sama dengan teman-teman lainnya, saiyah ini juga punya babang mie ayam kesayangan yang mangkal tidak jauh dari rumah 😋😋 Soalnya, saya termasuk penganut filosofi mie instan: seenak-enaknya mie instan bikinan sendiri, tetep lebih mantul mie instan yang beli di abang-abang warung In**mie (halaaah… padahal ditutup juga seluruh Indonesia raya tahu merk yang dimaksud 🤣🤣). Makanyaaa… biarpun di rumah ada stok bahan mie ayam, tetep saja sekali-sekali saya ganti baju rumah, pakai sandal, dan jalan ke tempat si babang mie ayam kesayangan mangkal.

Bukan apa-apa… di rumah tidak ada saus sambal ubi andalan abang-abang itu lhoooo… Jangan bilang gak tahu deeehhh…. Buat saya, yang paling ngangenin dari mie ayam gerobak terus terang adalah si sambal oranye ituuu…. yang meskipun kalau kata acara TV yang model investigasi bahannya agak-agak gimanaaa getooo… tetep saja sekali-sekali kangen juga. Maklum deeeh… saiyah besar dengan segala persambalan ajaib ituuuh… jadi si saus sambal ubi (atau pepaya — tidak jelas juga versi mana yang akurat) seperti menjadi bagian dari masa kecil saya yang bahagia ini…

Tambahan lagi, saya itu paling tidak bisa tutup mata dan telinga kalau liat postingan mie ayam. Bawaannya langsung auto-celingukan nyari si babang mie ayam mangkal, biarpun sebelumnya sudah kenyang makan 🙈🙈 Teman-teman di salah satu grup WA sampai hapal… kalau ada postingan mie ayam muncul, tidak lama lagi pastiiii saya ikutan posting juga, macam jin Aladdin yang kalau lampunya digosok langsung keluar. Halaaaahhh…. lemah iman banget siiih saya tuuuuh sama mie ayam…. 😆😆 Tapiii… kalau dipikir-pikir, gak apa-apa lah saya murahan, daripada lemah iman kalau lihat tas Hermes, buahahaha…. bisa-bisa langsung disuruh angkat koper sama paksu dan disuruh tidur di pohon di depan rumah.

Saya pun kalau hunting mie ayam tidak tanggung-tanggung. Salah satu warung mie ayam favorit saya letaknya di Kelapa Gading, sementara rumah saya di Jakarta Selatan. Jarak yang cukup jauh (plus macet) dari selatan ke utara tidak menyurutkan langkah saya untuk mengambil kunci mobil dan menembus jarak yang cukup jauh demi semangkuk mie ayam kesayangan. Asal tahu saja, si warung mie ini hanya buka dari jam 7 hingga jam 10 pagi. Kadang, jam 9.30 pun sudah tutup karena mienya sudah habis. Kebayang kan, pagi-pagi harus buru-buru berangkat demi semangkuk mie? Untung saya termasuk kaum yang tidak perlu bulu mata yang cetar membahana, kalau iya, pasti sudah keburu habis mienya begitu saya sampai di tempat, hahaha…..

Tapi, jangan sediiih…. Kelapa Gading masih tergolong dekat. Demi semangkuk mie bakso favorit, saya pun kadang rela menyetir ke Bogor, hihihi…. Tapiiii, yang ini ceritanya lain kali lagi yaaa….. Cerita hari ini cukup si mie ayam (dan saya sekarang langsung buka kulkas cek stok bahan mie, hahaha….).

Kenapa Saya Tidak Suka Film Spider-Man

Kemarin pagi, anak-anak saya bersemangat sekali saat tahu kalau film the Amazing Spider-Man diputar di salah satu kanal di TV kabel. Karena mereka suka filmnya, mau tidak mau saya terbawa sepintasan melihat adegannya atau mendengar dialognya meskipun sebenarnya hati terpaksa. Terlepas dari debat siapa yang lebih keren dan kasep memerankan sang manusia laba-laba: Tom Holland, Andrew Garfield, atauTobey Maguire, saya tidak pernah menikmati film Spider-Man versi manapun.

Bukan, bukan karena mereka kurang ganteng atau kurang matang untuk jadi superheroes. Bukan pula karena ceritanya terlalu remaja untuk emak-emak seperti saya ini. Setelah dipikir-pikir, ternyata yang saya tidak sukai adalah plot ceritanya yang seringnya berisi karakter antagonis yang sebenarnya tidak sepenuhnya jahat. Tokoh antagonis dalam film Spider-Man rata-rata adalah karakter baik yang kemudian berubah menjadi jahat karena keadaan atau nasib yang tidak berpihak pada diri mereka.

Dalam film Spider-Man yang dibintangi Tobey Maquire, tokoh Green Goblin adalah alter-ego dari Norman Osborn yang menganggap Peter Parker sebagai anaknya sendiri. Kecerdasan serta minat Peter terhadap sains, yang serupa dengan Norman, membuat rasa sayang Norman pada Peter kadang terlihat melebihi kecintaannya pada Harry, anak kandungnya. Green Goblin, yang akhirnya tewas di tangan Spider-Man pun, menunjukkan rasa penyesalan dan kasihnya terhadap lawannya di akhir hayatnya, yang tentunya berlawanan dengan karakter antagonis pada umumnya.

Film Spider-Man 2 menampilkan Doctor Octopus, yang saat itu masih dikenal dengan nama Otto Octavius, yang awalnya merupakan ilmuwan di Oscorp dan sekaligus menjadi mentor Peter Parker. Karena terjadi ledakan yang disebabkan oleh ketidakstabilan reaktor saat sang ilmuwan mengadakan demonstrasi tangan robot yang dikembangkannya, ia bertransformasi menjadi Doctor Octopus yang pikirannya dikendalikan oleh tangan mekanis berwujud tentakel yang kini menempel ke punggungnya. Ia terbawa oleh kesedihan karena meninggalnya istri yang dicintainya dalam insiden ledakan tersebut dan menyalahkan Spider-Man. Namun, setelah serangkaian kejahatan yang dilakukannya, di akhir pertempurannya Doctor Octopus akhirnya tewas karena berusaha melakukan kebaikan: menghentikan eksperimen berbahaya yang dilakukannya dengan mengorbankan nyawanya agar tidak jatuh korban.

Di Film the Amazing Spider-Man yang dibintangi Andrew Garfield, tokoh the Lizard yang merupakan musuh Spider-Man adalah efek samping dari percobaan regenerasi jaringan tubuh dengan menggunakan DNA kadal yang dilakukan oleh Dr. Curt Connors, yang merupakan kolega Richard Parker, ayah Peter Parker, semasa hidupnya.

Konflik perasaan antara tokoh protagonis dan antagonis lainnya terdapat di film Spider-Man: Homecoming. Film yang dibintangi oleh Tom Holland ini menampilkan karakter antagonis Vulture atau Adrian Toomes yang merupakan ayah dari Liz, teman sekolah yang ditaksir oleh Peter Parker.

Sepertinya, film yang merupakan pelepasan dari penatnya kehidupan yang banyak daerah abu-abunya lebih mudah saya cerna dan saya nikmati bila tokoh-tokohnya digariskan dengan gamblang. Untuk saya, rupanya karakter protagonis dan antagonis lebih baik digambarkan secara hitam-putih saja. Kalau baik ya baik, dan kalau jahat ya jahat. Tidak usah galau dari baik berubah menjadi jahat, lalu insyaf dan berubah kembali menjadi baik. Buat saya, kalau jahat, ya jangan tanggung-tanggung, sekalian saja seperti Thanos, yang membuat semua penonton sebal melihatnya. Namanya juga film tentang superheroes, karakter antagonisnya juga harus supervillain dooong….. Jangan cemen dan jangan gantung: jahat jangan setengah-setengah, hahaha….

Alasannya sederhana, saya tidak suka emosi saya bercampur-baur dengan rasa sedih dan kasihan melihat interaksi perasaan antara tokoh protagonis dan antagonis tersebut, terlebih di film fantasi tentang pahlawan super. Untuk saya, lebih baik sekalian saja yang jahat tetap jahat, sampai akhirnya tewas di tangan sang jagoan atau ditangkap pihak berwajib. Mungkin biar puas sekalian. Kapokmu kapan?? Kira-kira begitu.

Aneh? Mungkin. Tapi saya pun termasuk orang yang tidak keberatan membaca sinopsis atau bahkan spoiler sebelum saya menonton suatu film, di saat kebanyakan penonton menghindari untuk membaca atau mendengar tentang isi sebagian dari film tersebut sebelum mereka menontonnya. Lebih baik untuk saya jika saya sudah tahu jalan ceritanya sebelum saya menonton suatu film, terlebih bila saya menonton film tersebut di bioskop. Tempat yang mengharuskan saya untuk diam di tempat duduk saya dan terperangkap tidak bisa kabur ke mana-mana.

Dalam menonton film saya ingin agar emosi saya stabil-stabil saja. Naik…. turun…. tapi sedikit. Tidak seperti lagu Naik ke Puncak Gunung, yang potensi naik-turunnya tinggi sekali 😁 Saya ingin semuanya terprediksi, makanya saya lebih senang bila ada contekan tentang isi film tersebut. Saya ingin akhir ceritanya standard: yang jahat kalah, dan yang baik menang. Tidak ada dalam kamus saya jagoan tewas di tangan karakter antagonis. Oleh karena itu, saya membutuhkan waktu setahun sebelum akhirnya mau duduk manis menonton film Avengers: the End Game. Itu pun butuh berkali-kali sebelum akhirnya saya bersedia untuk menonton filmnya secara utuh. Pertama kali menonton, saya hanya menonton sedikit di depan, sedikit di tengah, dan sedikit di akhir. Hanya sekadar cukup untuk merangkai jalan ceritanya. Yang lebih epik lagi adalah film Titanic. Jangan syediiiih…. saya perlu waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya berdamai dengan diri saya dan mengalah serta menonton film tersebut. Sama dengan film Avengers: the End Game, saya perlu beberapa kali menonton film ini sampai akhirnya sanggup menonton filmnya dari awal hingga selesai 🙈

Kebunku Penolongku

Pagi ini, sembari duduk di sebuah restoran cepat saji saya mulai membuka-buka HP. Maklum… duduk sendirian… jadi begitu makanan mulai habis, mulai juga bengong-bengong tidak ngapa-ngapain. “Ping!” Saya melirik, ada tanda notifikasi baru di Facebook saya. Langsung saya buka dan mulai saya scroll ke bawah. Saya lihat seorang ibu yang menjadi teman maya saya memposting beberapa tanaman di kebunnya: ada pohon cabe, kembang telang, dan beberapa tanaman lainnya yang tidak saya kenali namanya. Ingatan saya langsung melayang ke petak kecil di depan teras saya (Hehehe…. Memang lebih pantas disebut petak dibanding kebun, karena memang mungil… ngil…) yang baru-baru ini saya tanami dengan alpukat jenis bullfrog untuk melengkapi beberapa tanaman buah dan sayuran lainnya. Sudah sejak beberapa tahun terakhir ini saya mencoba bertanam buah dan sayur, selain tanaman hias seperti tanaman kamboja yang bunganya banyak berguguran di depan teras setiap pagi. Sudah beberapa kali saya panen kecil. Mulai dari daun papaya Jepang, daun kelor, daun jeruk, sampai cabai rawit yang seringnya saya masak untuk menu makan siang.

Bertanam tanaman sayur dan buah ini sebenarnya saya pelajari sejak kecil. Rumah orang tua saya yang berhalaman cukup besar di daerah Jakarta Timur membuat kami serasa memiliki kebuh buah dan sayur pribadi. Mulai dari pohon mangga, pisang, kelengkeng, matoa, nanas, jambu kelutuk, jambu air, sawo, belimbing, hingga durian (kebayang kan sampai ada pohon durian di halaman rumah….) ditanam di halaman rumah kami. Jenis tanaman sayur dan bumbu dapur pun tidak kalah banyak, mulai dari singkong, pepaya, katuk, cabai, kunyit, laos, sereh, jahe, sampai temu kunci pun ada di halaman. Pohon bunga dan tanaman hias pun tidak kalah ragamnya.

Kebiasaan inilah yang terbawa saat saya menikah dan tinggal terpisah dari orang tua. Meskipun kecil, di halaman saya menanam beberapa macam tanaman buah dan sayuran yang kebanyakan saya tanam di pot karena keterbatasan lahan. Beberapa kerabat yang sempat mampir ke rumah terkadang memetik sedikit cabai rawit, daun bawang, ataupun beberapa helai daun jeruk. Saya sendiri sekarang alhamdulillah sudah tidak kepikiran lagi dengan harga cabai yang terkadang harganya bikin galau tujuh turunan. Soalnya, kalau perlu cabai tinggal petik di samping rumah, hehehe….. Bahkan, ART saya, yang setiap sore selalu kembali  ke rumahnya sendiri, beberapa kali meminta biji atau bibit tanaman yang ada di rumah. Katanya, “Pingin kayak ibu, punya tanaman di rumah.” Beberapa hari lalu dengan berbinar-binar ia bercerita bahwa tanaman cabai rawitnya sudah mulai berbuah, dan kemarin ia memamerkan ke saya bekal yang ia bawa dari rumah, “Ini cabai untuk sambalnya dari biji cabai yang dikasih ibu waktu itu,” katanya. Memang mungkin tidak seberapa, namun untuk saya hal ini sangat berarti. Ikut senang melihat ia juga bisa panen kecil-kecilan di rumahnya.

Selain untuk masak, tanaman yang ada di petak kecil saya itu juga difungsikan untuk hal lainnya. Sudah beberapa bulan ini saya menggunakan cairan pel yang lebih ramah lingkungan, yang dibuat dari bahan-bahan sederhana yang ada di kebun. Salah satunya? Bunga kamboja yang setiap hari berguguran (hahaha…. kayak lagu ya….). Bunga kamboja ini dipotong-potong, lalu dicampur dengan ragi, gula merah, dan air, lalu disimpan di botol. Sayangnya, baru satu bulan setelah diracik cairan pel ini bisa digunakan. Kadang, kalau sedang membeli jeruk, bunga kamboja sering saya ganti dengan kulit jeruk agar wanginya lebih segar. Cairan pel ini juga yang kemudian mulai dibuat oleh ART saya di rumahnya. “Lumayan bu, daripada beli,” katanya. Saya sih senang-senang saja, soalnya kamboja saya banyak berbunga, jadi ada yang tambahan orang yang menampung bunganya.

Tapi, kalaupun lebih banyak bunga yang berguguran dibanding penampungnya, biasanya bunga tersebut saya kumpulkan dan saya tanam di lubang tanah untuk dijadikan kompos. Jadi, bisa dibilang tidak ada bunga yang terbuang. Hahaha…., jangankan bunga, kulit telur pun saya manfaatkan jadi penyubur tanaman. Benar-benar multi-fungsi, hehehe….. 🙂

Sayangnya, saya tinggal bukan di lingkungan perumahan, jadi kurang bisa getok-tular dengan tetangga. Justru, seringnya kerabat atau teman yang datang dari jauh yang minta bibit atau benih tanaman. Saya pun terkadang dapat benih dari jauh juga, termasuk dari teman maya di FB. Dengan teman-teman jauh inilah saya sering bertukar informasi dan ilmu.

Memang ini masih sangat mungil skalanya, dan masih jauh dari keberlanjutan lingkungan ataupun sosial. Namun demikian, seperti benih yang saya tanam di rumah, semoga dari hal kecil ini bisa tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Insya Allah….

#materi3
#empathy
#charity
#filantropi
#sustainability
#kelashabituasisejutacinta
#ibuprofesional

Acts of Random Kindness (ARK)

Ada yang ingat film Evan Almighty? Di akhir film ini, Morgan Freeman yang berperan sebagai ‘Tuhan’ bertanya kepada Evan (yang diperankan oleh Steve Carell), “How do we change the world?” – Bagaimana cara kita mengubah dunia? – yang kemudian dijawab, “One Act of Random Kindness at a time.” – Dengan melakukan satu kebaikan setiap kali.

Film ini menyiratkan bahwa kebaikan yang kelihatannya kecil dan tidak bermakna, bila kerap dilakukan, akan memberikan dampak yang luar biasa dan tidak tanggung-tanggung: mengubah dunia. Kelihatan hiperbola dan lebay, tapi mungkin ada benarnya.

Saya berkesempatan untuk lebih merasakan makna berbagi kebahagiaan – yang meskipun kecil, tapi bermakna bagi orang lain – saat saya mulai mengikuti kelas SCIP di komunitas Ibu Profesional. Di sini saya diminta bercerita mengenai 3 kebaikan yang saya bagikan kepada orang lain: anak, suami, mertua, orang tua, orang yang tidak dikenal…. siapa saja…. dan apa saja: kecil ataupun besar, tidak masalah.

Saya yakin, sebenarnya sehari-hari kita sering melakukan atau merasakan dampak kebaikan-kebaikan kecil ini, namun mungkin semuanya berlalu begitu saja, dianggap sesuatu yang lumrah, dan barangkali kita tidak sempat meresapi kebahagiaan dan maknanya. Kelas ini membuat saya berhenti sejenak, merenungkan kebaikan yang saya rasakan, atau saya bagikan, dan merasakan bahwa meskipun kecil, berbagi kebaikan ini bisa memberikan kebahagiaan yang besar.

Berbagi kebaikan ini bisa dimulai dari hal yang remeh-temeh dan receh. Seberapa sering orang menahan pintu untuk kita agar kita tidak perlu membuka pintu sendiri? Sudahkah kita mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut? Saya mungkin termasuk generasi old yang kadang merasa kalau anak-anak jaman now suka kurang ada adabnya. Sudah dibukakan pintu, bukannya bilang terima kasih, malah diam dan lewat begitu saja; bahkan, menengok pun tidak. Kalau sudah begini, kadang saya jengkel dan jadi su’udzon: apa anak-anak ini tidak diajarkan sopan-santun oleh orang tuanya? Ooops.. Maaf ya para orang tua (termasuk saya)…. Hanya saja, saya merasa sudah sewajarnya bila ada yang membantu kita, kita berterima kasih pada orang tersebut. As simple as that. Sayangnya, sudah mulai berkurang orang yang mengucapkan magic word ini.

Karena itu, saat diminta untuk berbagi 3 kebaikan, saya ingin mulai dari sini; mengucapkan terima kasih. Bukan berarti sebelumnya tidak pernah… tapiiii, sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan respon orang yang saya berikan ucapan terima kasih. Jadi, waktu 3 hari lalu ada yang membukakan pintu mall untuk saya, saya ucapkan terima kasih sembari memperhatikan orang tersebut. Saya bisa melihat ia mengembangkan senyum, dan saya jadi ikut senang karena saya melihat bahwa dengan ucapan sesederhana ‘terima kasih’, saya dapat memberikan sedikit kebahagiaan bagi orang lain.

Act of random kindness yang kedua malah sesuatu yang saya sendiri tidak sadar bahwa yang saya lakukan adalah suatu kebaikan. Rabu kemarin sepulang les, sambil menunggu datangnya mobil, Anja, anak saya, memeluk saya dan berkata, ”Mommy selalu bilang supaya Anja bikin PR dan bikin tugas, and I love you for that. You’ve made me who I am now, and I thank God I have you as my mom. I love you, mommy.” Duuuuuh….. siapa yang gak meleleh dipeluk dan disayang sebegitu rupa oleh anak sendiri…. Saya sungguh tidak menyangka, tough love saya untuk anak saya ternyata dirasakan manfaatnya oleh si anak, dan malah sayangnya ke saya jadi bertambah. Sementara, saya justru berpikiran sebaliknya: anak saya tidak suka punya ibu yang tegas dan keras dalam mendidik. Hahaha…. Jadilah saya ibu yang su’udzon ke anak sendiri 😊

Kebaikan ketiga yang saya bagikan adalah saat saya dan paksu (suami) mampir ke Burger King (BK) untuk makan siang. Saat memesan makanan, saya melihat bahwa Burger King menawarkan menu paket dengan harga khusus untuk para pengemudi ojol: nasi, ayam, dan air mineral seharga Rp. 15.000 per paket. Setelah menanyakan apakah paket ini bisa kami bayarkan untuk pengemudi ojol yang datang, saya dan paksu sepakat untuk membeli beberapa paket untuk pengemudi ojol yang mengambil orderan di BK. Kebetulan, saat kami sedang makan, ada seorang pengemudi ojol yang datang dan mengambil pesanan di sana. Satu paket dari saya disiapkan untuk pengemudi tersebut (siapa pemberinya tidak diberitahukan ke penerima), dan dari tempat duduk, saya bisa melihat bahwa wajah bapak tersebut berbinar-binar, terutama saat dia berkata, “Alhamdulillah… Semoga berkah.” Hati saya langsung terasa hangat mendengarnya – saya dapat merasakan bahwa pemberian saya yang mungkin tidak seberapa itu memberikan sedikit kebahagiaan bagi si bapak (Semoga sehat terus ya pak). Alhamdulillah…. Kelas yang baru dimulai ini mengingatkan saya untuk terus menebar kebaikan – meskipun sekecil benih – karena insya Allah akan memberikan kebahagiaan bagi penerimanya.

Sekolah Anja pun di bulan Februari ini mengusung semangat yang sama. Di sekolahnya ada kegiatan Kindness Movement, yang tujuannya adalah berbagi kebaikan dengan teman-teman, guru-guru, dan staff di sekolah. Kegiatannya bervariasi dan sangat menarik. Salah satunya adalah untuk berbagi biskuit atau snack dengan orang/teman yang jarang berinteraksi dengan mereka (bisa dari kelas sendiri maupun kelas lain). Selain itu, setiap hari Rabu mereka diminta untuk makan siang dengan teman yang belum mereka kenal. Hari-hari lainnya ada kebaikan berbeda yang harus dilakukan, termasuk mengucapkan magic words: terima kasih, maaf, tolong, dan permisi. Kata-kata sederhana yang dalam maknanya.

Saat saya membaca pengumuman sekolah mengenai kegiatan ini dan ragam aktivitas yang akan dilakukan para murid, hati saya tergelitik. Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak? Kebaikan apa lagi yang bisa saya berikan bagi orang lain? Bismillah… semoga hal ini bisa menjadi penyemangat saya untuk terus berbagi kebaikan.

#Materi1
#Empati
#HabituasiSejutaCinta
#IbuProfesional
#ActOfRandomKindness

Design a site like this with WordPress.com
Get started